Cats


Waktu kecil gw nggak terlalu suka sama binatang dan celetukan “eh liat tuh ada kucing/burung/binatang lain” yang biasanya bikin anak kecil tertarik nggak ada efeknya ke gw. Jadi gw sama sekali nggak inget gimana awal ceritanya dulu gw bisa punya piaraan seekor kura2, yang pasti dalam kurun waktu yg cukup lama gw nggak bisa pegang binatang lain. bukannya takut sih, cuma sensasi yang didapat ketika mereka gerak2 di genggaman rasanya gimanaaaa gitu (kura2 nggak banyak gerak dan ketika gerak pun sama sekali nggak kerasa, mungkin karena inilah dia jadi piaraan gw dulu)

Waktu agak gedean, ternyata perasaan ini berlaku ke semua makhluk hidup karena waktu disuruh gendong adik yang umurnya baru bbrp bulan dan dia gerak2, gw merasakan hal yg sama dan kena panic attack (terpaku dan minta orang lain take over). Pas dia udah agak gedean dan bisa berdiri baru sensasi itu hilang dan gw bisa gendong 😐

Sekitar 4 tahun silam, seekor anak kucing tiba2 muncul dalam rutinitas dan menjadikan CPU gw sebagai tempat tidur pribadinya. entah karena anget, suka sama getarannya, atau karena alasan lainnya, doi setia nemenin gw nongkrong. Karena dia diem aja ga gangguin gw main (cuma tiduran di atas casing ato bengong di belakang fan, ngeong aja nggak), gw ga ambil pusing dan membiarkan dia

1917558_10153449098572830_8342872362220132160_n

PC Kitty

Lambat laun, si kucing jadi berani bermanja2 elus2 kaki (asli kaget banget pas pertama kali) sampe lompat dan tidur di pangkuan dan gw kadang ngasih sisa makanan ke dia (ternyata nggak cuma doyan ikan, nasi dan tulang ayam juga dilahap). Sepulang mudik selama 2 minggu dan dilanjut jalan2 keliling jawa, doi tiba2 menghilang dan ga pernah keliatan lagi. Namun tradisi ngasih sisa makanan terus berlanjut hingga tiap siang ada trio yang ngantri di depan pintu menanti jatah makan siang.

14089123_10154044753252830_3148046901703177594_n

newborn cat

Suatu pagi, pas mau berangkat kerja gw melihat ada bayi kucing(kayanya newborn, seukuran token doang) di tengah2 parkiran yang rawan banget keinjek. Karena khawatir keinjek ato kelindes motor nantinya, gw pinggirin ke tempat yang aman tapi doi merambat pelan namun pasti kembali ke tengah. Celingukan nyari induknya, gw malah nemu bayi lain lagi deket got (yg awalnya gw kira sampah >_<)

14141796_10154053572482830_2134588731727622371_n

kitties in the box

Karena takut telat, akhirnya mereka ditempatkan di keranjang cucian biar ga merambat ke tengah jalan. Ditempatkan di luar dengan harapan induknya muncul. Namun sampe gw pulang sorenya, ternyata nasib kedua bayi ini masih terlantar. Ada kucing yang melihat dari kejauhan tapi pas gw samperin dan nanyain apakah itu anaknya malah kelihatan bingung. Gw bawa itu keranjang biar dia bisa identifikasi dari dekat, tapi lagi2 cuma diliatin. Dan ketika si bayi terbangun dari tidurnya dan nangis merangkak mendekati si kucing, dia malah mendesis ketakutan terus kabur !!!

Berbagai upaya dilakukan mulai dari ngasih susu di piring kecil, pake sendok, sampe sedotan tidak membuahkan hasil dan selama beberapa hari masih ga keliatan induknya. In the end, its not a happy ending :(. Jadi ketika salah satu member lunch club melahirkan dan menelantarkan tipletsnya di tempat berbahaya (pojokan construction site dimana biasanya para tukang ngelemparin potongan kayu, batu2, dll), gw pindahin mereka ke kamar dan pas induknya dateng ngemis makanan gw paksa dia ngurusin anaknya dulu baru dapet jatah makan. Jika biasanya dia akur sama geng makan siangnya dan selalu makan bareng, sekarang dia jadi galak dan ngusir yang lain (entah naluri melindungi anak ato udah berubah jadi ibu2 yang mau menang sendiri dan ga mau bagi2 makanan), jadi kalo mau ngasih makan yang lain harus di tempat yang agak jauh dan nggak keliatan, kalo nggak bakal lari nyamperin dan lagi2 ngusir yang lain >_<

triplets

Sekarang udah gede2 dan non-officially jadi piaraan, cat food jadi salah satu produk curah yang dibeli kalo ada obralan karena sisa makanan aja kadang ga cukup sekarang. belajar banyak hal baru seputar dunia perkucingan termasuk fitur plug n playnya yang cukup efisien kalo lagi butuh susu dan induknya ngilang entah kemana, mungkin karena itulah kucing didesain dengan built in six tits :p. Lagi belajar pertukangan dan DIY built a cat house secara perabotan di kamar sudah mulai nggak aman dari kenakalan triplets 😦

Wrap Up 2016


Gak kerasa sekarang udah 2017, perlu lebih berhati-hati nulis tahun di dokumen soalnya biasanya tiap pergantian tahun suka salah nulis tahun :p. Sengaja baru nulis wrap up 2016 sekarang biar bisa merasakan semua momen di 2016, kali aja ada event menarik di penghujung tahun yang bisa jadi highlite, bukan karena males nulis kemarin2nya. Overall sih 2016 berjalan dengan cukup positif dengan improvement di beberapa area, terutama kesehatan. namun dari segi keseharian cukup membosankan dibandingkan tahun2 sebelumnya secara nggak banyak yang dapat dilakukan di tempat tinggal yang sekarang, juga karena perbedaan usia yang cukup signifikan di kantor membuat saya agak malas berinteraksi untuk mencari partner in crime atau sekedar bersosialisasi.

jadi berdasarkan apa yang bisa diingat dan dengan bantuan post history, poin2 utama di 2016 saya adalah

1. Pindah profesi
Jika sebelumnya saya tergabung di tim project yang kerjaannya lebih ke arah “membuat produk”, tahun ini saya ditarik untuk masuk ke tim support yang membuat saya lebih banyak berinteraksi dengan user. Secara personal, saya bukan kandidat yang tepat di bidang ini secara “friendly and supporting” sehingga nggak jarang saya marah2in user namun anehnya masih banyak yang larinya ke saya bukannya cari support yang lain. sepertinya mereka suka BSDM (yang nggak ngerti artinya jangan penasaran cari tahu ya, stay pure). Namun sisi positif di sini yaitu saya merasa beban kerja saya jauh berkurang dan jadi punya lebih banyak waktu luang walaupun kadang2 masih suka “dipinjem” sama tim project (sekarang sudah belajar untuk tetap “terlihat” sibuk biar nggak dipinjem2 kecuali bener2 urgent :p)

2. Udah punya EFIN
Dampak dari banyaknya waktu luang di jam kerja, saya jadi bisa keluyuran jika bosen browsing2 cantik di meja kerja. Di mata rekan kerja yang lain, keluyuran itu lebih terlihat seperti support user di lapangan dibandingin stand by di meja sambil browsing yang bisa memicu kecemburuan sosial. Tahun ini alih2 nitip setor SPT ke accounting, saya ikut menemani mereka ke kantor pajak sekalian pengen tau gimana prosedurnya kalo ngurus sendiri dan pada kesempatan inilah akhirnya saya bikin EFIN biar bisa ngurus SPT online tahun 2017. Sayangnya saat tulisan ini dibuat, saya nggak ingat kode EFIN dan lupa disimpan dimana. sepertinya EFIN ini dulu diberikan di secarik kertas yang kemungkinan kebuang bersama kertas coret2 dan form2 approval yang sebenarnya nggak penting tapi sengaja diminta untuk bikin repot user biar mereka nggak sering2 request sesuatu seenaknya 😐

3. Jadi pengamat satwa
Diawali dengan kemunculan seekor anak kucing yang tiba2 muncul dan menjadikan CPU rpibadi saya yang disimpan di ruang santai bersama sebagai tempat tidur pribadinya, saya mulai mengembangkan skill sebagai cat whisperer. Walaupun upaya untuk mengakurkan hubungan anjing dan kucing masih belum berhasil (si puppy masih takut meringkuk di pojokan dan merelakan makanannya disabotase kucing yang menggeram), saya melakukan beberapa eksperimen untuk beberapa teori tentang kekucingan

4. Sudah nggak underweight lagi
Jika medcheck tahun sebelum2nya cukup membosankan dengan komentar underweight saja, di tahun 2016 jadi lebih membosankan lagi tanpa ada komen apapun di result summary checkupnya. Jadi penasaran ini emang sehat nggak ada potensi masalah yang perlu dihilite atau jangan2 dokternya kelupaan meriksa hasil lab aja. Ternyata pola hidup yang ga pernah olahraga dan makan semaunya bisa lebih menyehatkan dibandingkan rekan kerja lain yang rajin ngegym dan ngitung kalori makanannya

5. Pertama kali diterima donor darah
Dengan hasil medcheck yang lebih positif, tahun ini sekali lagi saya mencoba ikutan donor darah. Jika tahun2 kemarin selalu ditolak di checkpoint 1 (cek tensi dan BB), di 2016 surprisingly saya tidak perlu menerima tatapan iba “nggak usah donor gpp kok, taun depan aja. you’re doing fine” dan akhirnya merasakan pengalaman pertama kali menjadi donor darah. Dan yang paling penting akhirnya saya tahu golongan darah sendiri apa. Walaupun nggak berdarah biru, tapi saya dapat A+ di kartu donor. My Asian Mom will be proud πŸ™‚

6. Hoki nambah
untuk pertama kalinya dalam hidup, saya menang lucky draw walaupun hadiahnya ga bakalan kepake dan akhirnya dijual murah2. Tapi esensinya bukan di barang atau di duitnya, bisa memenangkan sesuatu sudah merupakan perasaan yang cukup menggembirakan (walaupun serbuan ibu2 setelahnya adalah pengalaman yang cukup menyeramkan). Penjualan kompor dengan proses yang instan dengan harga super miring ternyata cukup menimbulkan drama di kantor karena ternyata peminatnya cukup banyak walaupun pada malu2 dan yang berani nawar dengan serius hanya satu orang.

7. Ternyata masih trauma ama dokter gigi
Di 2016 sama sekali nggak sakit sehingga asuransi yang dipunya terasa sia2 membuat saya memberanikan mencoba memanfaatkan fasilitas pembersihan gigi pada akhir tahun kemarin. Awalnya saya mengira prosesnya sesimpel dioles gel macam iklan pemutih gigi di TV media gitu (masih ada nggak sih channel macam ini), ya 11-12 sama proses pembersihan wajah yang cuma santai2 didiemin pake masker gitu lah. Namun ternyata prosesnya cukup mengerikan…. well, saya nggak gitu tahu persis sih secara saya memejamkan mata disepanjang proses dan cuma denger suara nguing2 bor yang menyeramkan dan metal di mulut yang bikin pengen muntah. Belasan kali kumur darah makin menguatkan trauma saya sama dokter gigi.

2017, be kind with me. semoga Tahun 2017 lebih baik dan lebih berwarna :P. Selamat Tahun Baru semuanya πŸ™‚

Family Gathering 2016


Beberapa waktu yang lalu, tempat saya bekerja mengadakan Family Gathering yang merupakan acara kumpul2 bersama antar karyawan dan keluarganya dalam rangka ngabisin anggaran. Karena acara ini harus ada dokumentasinya, maka terima mentahan dengan sistem bagi rata budget tidak bisa dilakukan dan di kota sekecil ini nggak ada tempat makan yang bisa menampung jumlah peserta dan keluarganya (lagian klo cuma ngumpul makan bareng trus pulang kayanya boring banget), maka acara ini dilakukan di…. errr… sebuah konservasi yang isinya meliputi kebun buah, peternakan lebah, kolam ikan, dan tempat pembibitan (entah apa tempat ini sebutannya). Agar tidak terganggu dan mengganggu pengunjung lain, kita booking tempat ini 1/2 hari dari jauh2 hari.

kolam ikan

Sebelumnya sudah diinfokan oleh pihak pengelola untuk tidak memetik buah sembarangan dari pohonnya dan jika mau di bagian depan ada tempat penjualan hasil kebun dan ternak. Tentu saja informasi ini diteruskan ke semua peserta mengingat akan ada banyak anak kecil yang ditakutkan bakal keluyuran dan metik2 sembarangan. Namun pada kenyataannya, di hari H para bocah ini malah pada nempel terus ke orang tuanya dan yang udah agak gedean sibuk sendiri sama gadget sementara para Ibu-ibu langsung kalap teriak “Wah rambutannya gede-gede!!!” dan langsung semburat dengan beringas!!!. Melihat hal ini, panitia langsung teriak2 ngingetin “bu, jangan bu!!!” macam warga pemukiman liar yang kena gusur satpol, bahkan sampe minta bapak2nya ngingetin berhubung kalah jumlah hingga akhirnya menempuh cara terakhir yaitu pake TOA macam demonstran orasi. Ya untungnya nggak ada pengunjung lain atau penjaga sama sekali (mungkin karena lagi dibooking jadi para petugasnya pada pulang cepet kali ya, bahkan tukang parkirpun ga ada) jadi ga terlalu malu2in lah (nggak yakin juga para ibu2 itu bakal malu kalo ada penjaganya, mungkin penjaganya dicakar kalo berani2 ngalangin hehe).Tersadarkan oleh teriakan TOA, para ibu langsung kembali ke barisan (sambil bawa setumpuk buah2an yang cukup buat makan seluruh rombongan -_-)

Biar tampak ada partisipasi dari semua anggota keluarga dalam kegiatan ini, diadakan lomba2 untuk anak2 yang acara dan konsepnya dilakukan sama ibu2nya sementara panitia cuma menyediakan hadiah2 lomba aja (biar ada partisipasi ibu2 juga, bukan karena panitianya males mikir konsep sama ngurusin acara lho ya du du du). Secara usia anak2 yang begitu beragam dan perbedaan fisik yang tampak mencolok, lomba2nya keliatan nggak balance banget. Ada bocah 3 taunan yang ngedudukin balon malah membal sementara balonnya masih utuh, atau yang jalan bawa kelereng dengan santai dan hati2 hingga ketika peserta lain sudah 2x start finish dianya belum 1/2 jalan … but who cares, ujung2nya semua dapet hadiah kok :D. Ibu pengurus lomba menginterogasi para pemenang mulai dari nama, umur, sekolah dimana , sampai siapa nama bapaknya sebelum ngasih hadiah melahirkan momen khusus

Ibu2 : kamu anaknya siapa?
Bocah : anaknya ayah
Ibu2 : Iya, nama ayahmu siapa?
Bocah : …… Ayah
Ibu : *evil laugh* nama bapakmu Ayah?
Bocah : *manggut2*
Ibu2 : penasaran saya, coba bapaknya maju sini, saya pengen tahu yang mana orangnya
Audience : *diem tolah-toleh, ga ada yang berdiri*
Ibu2 : coba nak, tunjuk ayahnya yang mana
Bocah : *scanning penonton beberapa saat, tapi ga menemukan target yang dicari*
Ibu2 : (entah bosen atau kasihan) dah balik sana ke ayahnya *ngasih hadiah*, Ayahnya nanti di rumah kasih tau ke anaknya ya siapa namanya

Saya agak khawatis si ayah menelantarkan anaknya disana karena si bocah nggak balik ke pangkuan ortunya, tapi lari ke pojokan, sendirian sambil memeluk hadiahnya. Entah beneran ga liat bapaknya diantara kerumunan orang ini atau udah dapet dead stare dari kejauhan dan isyarat “Jangan kemari, pura2 ga kenal!!!” dari bapaknya LOL. Para remajanya tampak malas mengikuti lomba, entah gara2 takut dipermalukan setelah melihat apa yang terjadi di lomba anak atau emang ga minat aja. Tapi bukan ibu2 namanya kalau tidak bisa “membujuk” anak2nya mengikuti acara yang mereka adakan

Acara makan siang bersama sempat terganggu oleh kehadiran kucing raksasa yang berkeliling mengemis sedekah membuat sebagian besar bocah panik. Bahkan saya sendiri sempat kaget melihat ukuran kucing2 disini yang ukurannya 2x lebih besar dari kucing kompleks, entah itu akibat sering makan buah2 di perkebunan ini atau kucing2 itu sendiri merupakan hasil rekayasa genetik yang dibuat di tempat ini untuk dilatih sebagai penjaga perkebunan yang murah meriah dengan gaji seekor tongkol mutan yang ga kalah besarnya tiap bulan
lunch

Di penghujung acara, ada pembagian lucky draw yang sekali lagi diserbu oleh Ibu-ibu yang antusias ngambil nomor undian seolah takut kehabisan padahal nomor yang disiapkan jumlahnya sudah sesuai sama jumlah peserta yang hadir (In fact, malah mereka sendiri yang bikin nomor undian dan menggulungnya ke potongan sedotan), jadi entah kenapa juga pake rebutan segala ngambilnya, sudah sifat dasar ibu-ibu kayanya :p. Dan tebak siapa yang mendapatkan hadiah utamanya!!! its Me muhahaha
lucky-draw

Saya yang seumur hidup belum pernah menang undian apapun, bahkan kentongan kodok di undian staff party aja ga dapet dan mentok di hadiah hiburan krim cuci piring dari supermarket ini secara tak terduga mendapatkan doorprize kompor gas sontak membuat saya diserbu sama ibu2 saat itu.

Nggak masak kan di rumah? dah buat Ibu aja ya deh kompornya

Tuker sama hadiah punya Ibu mau ya *nawarin jam dindingnya*

Berat ya? sini Ibu aja yang bawain (sok baik)

Kasih ke saya aja, ntar Ibu masakain sebulan

Membuat saya kewalahan dan ketakutan walaupun emang bener sih kalo hadiahnya ga bakal kepake juga secara jarang masak dan kayanya mubazir beli tabung LPG untuk kegiatan yang selama ini bisa dilakukan dengan magic jar. Tapi karena berurusan sama mereka itu sepertinya sama berbahayanya dengan mafia, saya ngasih jawaban diplomatis “besok dibahas di kantor aja ya” biar urusannya sama bapak2nya yang lebih jinak :p

Sidang Naik Kelas


hampir sama seperti anak sekolah, di dunia kerja khususnya yang kantoran juga ada yang namanya rapotan, juga dikenal dengan nama beken appraisal, performance review, atau istilah2 kerenΒ  lainnya. Beda tempat bisa beda pula kriteria penilaiannya bahkan kadang bisa random macam penilaian dosen mata kuliah yang jarang masuk dan tiba2 sudah UAS. Tapi intinya nilai rapot inilah yang menentukan jabatan/gaji/kelangsungan kita di tempat kerja.

Di tahun2 sebelumnya, saya tergabung dalam tim project dan walaupun guru project managernya ganti2, cara rapotannya nggak jauh beda. tau2 di akhir taun udah dibagi hasilnya tanpa mengetahui bagaimana cara dan kriteria penilaiannya. kemungkinan sih dari random question waktu ngajak dinner bareng dan saya sendiri nggak terlalu peduli secara hasilnya cukup memuaskan sejauh ini.

Di tahun ini saya diakusisi sama tim support walaupun masih sering “dipinjem” sana sini buat bantuin project, tapi karena masih 1 kantor juga ya saya ngiranya sama ajalah prosesnya, tinggal tunggu terima hasilnya di akhir tahun macam anak sekolah terima rapot gitu. Dan hari ini, saya mengetahui bahwa prosesnya ternyata beda, ada sesi tanya jawab segala (nggak terlalu kaget sih secara kantor lama juga menerapkan proses yang serupa). Untungnya hari ini saya cukup tidur dan cukup makan, jadi waktu dipanggil sidang (walaupun sempet bertanya2 kenapa dipanggil), kondisi mood cukup bagus. Inilah rangkuman sidang siang tadi (diterjemahkan ke bahasa biar lebih gampang dicerna)

1. Tahun ini apa saja yang sudah dilakukan
dan sayapun langsung berkata dalam hati “lha kan elu bosnya, masa ga tau gua ngapain aja” tapi tetap saya jawab sambil melihat si bos manggut2 dan nulis (atau mungkin dia lagi ngisi TTS aja)

2. Apa kekuranganmu
jika ini adalah job interview, saya bakal ngasih kekurangan yang bisa dilihat sebagai kelebihan kalo mau main taktis. atau ngasih minor flaw yang nggak berhubungan ama kerjaan kalo mau safe dan nggak keliatan fake answer dari tips&trik interview. Tapi berhubung pertanyaan ini kayanya nggak cocok buat ditanyakan di performance review, saya memberikan pandangan “seriously??!! pertanyaan gak penting macam apa ini!!” dan terbersit pikiran untuk bilang “I AM FLAWLESS, PERFECT BEING. KNEEL BEFORE ME, YOU PUNY HUMAN!!!”. i play my humble card this time

Me : tanya ke end user aja, kayanya mereka lebih kredibel buat ngasih jawaban
Bos : gpp, pendapat pribadimu aja
Me : hmmm, kekuranganku ya…… saya orangnya nggak sabaran, apalagi sama user yang issuenya ga jelas
Bos : gitu ya, tapi dari feedback user kayanya mereka cukup puas
Me : (lha ngapain elu nanya gw lagi kalo gitu!!!) mungkin karena mereka nggak ngerti sarkasme nggak terlalu keliatan aja

Bos : kalo soal sosialisasi gimana, kayanya kamu jarang kumpul2 sama yang lain
Me : beda minat aja sih pak, saya suka futsal. di kantor saya kadang masih ngobrol sama yang lain kok, diskusi ini itu
Bos : di luar kerjaan maksudnya. Yang lain kadang suka ngobrol bareng di samping kantor, kamu ga pernah ikutan?
Me : bapak tau itu tempat apaan? smoking room ituh, mereka disana smoking break. saya nggak ngeroko
Bos : ya kan bisa kesana ikut ngobrol2 aja, ga perlu ikut ngerokok
Me : jadi saya ngabisin waktu 30 menit di ruangan penuh asap rokok cuma buat ngobrol? brilian sekali ide bapak
Bos : ya nggak gitu juga sih (rupanya dia ngerti sarkasme), tapi itu termasuk kekurangan juga kan
Me : (OMG, masi ngebahas kekurangan juga??!!) *disini saya ceramah panjang lebar tentang apa itu kekurangan, karakteristik manusia dan tipe2nya mulai dari INTP, ESFP, dan aneka personality lainnya sampe akhirnya dia sadar kalo gw bisa bawel juga kalo diperlukan

3. nah gampang ini, sebutkan kelebihanmu
karena udah cape ngomong, kali ini saya play humble mengambil peran manusia biasa yang penuh dosa dan setara dengan yang lainnya. toh bragging juga ga ada gunanya, bukan job interview ini. malah beresiko nambah kerjaan aja kalo bilang bisa ini bisa itu :p
Bos : masa nggak ada, semua orang pasti punya kelebihan
Me : apa ya?… punctual deh, saya orangnya tepat waktu. hampir ga pernah telat pulang (sengaja cuma ngomongin pulang dan nyebut jam masuk)
Bos : kata yang lain kamu tau segalanya, jadi kalo ada problem yang mereka nggak ngerti pasti nanyanya ke kamu. termasuk kelebihan itu
Me : buat saya sih itu kebutuhan profesi, bukan kelebihan. kebanyakan juga saya ga tau kok waktu ditanya, googling dulu. merekanya aja yang males cari tau
Bos : ya kan nggak semua orang bisa gitu, termasuk kelebihan itu
Me : iya lah, terserah bapak aja (dah cape, aus, males ngomong)

Di luar dugaan, cuma itu aja pertanyaannya!!! sama sekali nggak kaya appraisal. padahal taun kemarin waktu masih di project pertanyaannya masih ngebahas project yang dikerjain taun itu dan ngapain aja. ini malah pertanyaannya macam…… ah sudahlah nggak perlu dibahas, gw suka galak kalo lagi laper (dah menjelang lunch nih *kruyuk*). Aslinya masih ada 1 pertanyaan terakhir yaitu saran dan komentar buat si bos tapi dengan sigap langsung gw jawab ga ada. Kali ini si Bos menerima dengan pasrah, ga berusaha memperpanjang waktu dan mendapat jawaban. mungkin dia juga sudah lelah :p

Gimana yang lain, akhir taun gini biasanya semuanya pada persiapan rapotan. Prosesnya sama atau mungkin lebih menarik di kantornya? sistem hunger games gitu mungkin, 1 juaranya naik gaji trus yang posisi terakhir dipecat? :p

My Monday Morning


Keteraturan adalah sebuah kata yang sama sekali tidak menggambarkan saya. Aktivitas yang direncanakan seperti lari pagi bersama biasanya batal gara2 hal remeh seperti pagi yang dingin, bantalnya ga mau ditinggal, atau 5 menit lagi :p. Bahkan untuk hal serius semacam pekerjaan, jika lagi nggak mood saya bisa nggak ngerjain apa2 seharian walaupun sudah masuk dalam to do list.

Namun di dalam keseharian saya yang chaos itu, rutinitas masih memberikan pengaruh auto pilot yang kuat. Jadi walaupun tidur jam 2, alarm jam 6 masih efektif membangunkan saya untuk memulai “snooze sequence” hingga akhirnya berangkat kerja jam 7.30 melewati jalanan yang padat (walaupun dalam kondisi 1/2 sadar) hingga akhirnya tiba dengan selamat di kantor. Dan karena akhir2 ini status saya sebagai cowo pinjaman mengharuskan saya untuk pindah kantor sementara, proses autopilot ini membawa saya ke kantor lama tanpa sadar (sudah terjadi beberapa kali malah). Suatu pagi, seorang rekan kerja bertanya “wah balik ke kantorsini lagi, dah selesai projectnya disana?” membuat saya tersadar lagi dimana….. dan saya pura2 ngambil dokumen penting yang tertinggal (aslinya cuma kertas coret2 ga penting)

Semalam saya tidur lebih awal dari biasanya karena lampu mati, tapi anehnya jam tidur yang lebih panjang tersebut malah bikin makin males bangun dan somehow di bawah siraman shower dengan kepala nempel di tembok, gw ketiduran!!!! (dan kayanya cukup lama jika melihat kaca kamar mandi sampe putih beruap gitu). Dengan sedikit terburu2 saya bergegas ke parkiran ketika menyadari helmnya ketinggalan zzz, lari balik ke kamar buat ngambil helm dan ternyata kunci kamarnya ilang entah kemana. bongkar tas dan saku celana dengan paniknya, hingga traceback rute dari kamar ke parkiran buat nyari jatuh dimana……. and guess what, ternyata kamarnya lupa dikunci dan si kunci masih nancep di dalem!!!!

Akhirnya, sambil menghela nafas panjang dan quick scan kamar untuk memastikan tidak ada lagi yang ketinggalan, saya kembali ke parkiran dan bersiap berangkat, masang helm, kemudian terheran2 kenapa saya bawa laundry bag (technically, nggak ada yang ketinggalan sih, kelebihan malah yg dibawa). Saat itulah saya putuskan untuk kembali tidur dan ngantor siang aja after lunch (crazy way to start the day, maybe its a sign. kalo diterusin, takutnya kegilaan ini masih berlanjut di kantor)

Wild Life


Saya punya kemampuan adaptasi yang lumayan bagus sehingga berpindah2 tempat tinggal seperti yang saya alami selama ini tidak menjadi kendala. Mulai dari lingkungan perkotaan dengan mall dimana-mana dan ratusan angkot lalu lalang memadati jalanan, hingga Bali yang kaya akan pantai tapi miskin mall dan transportasi umum. Kali ini tempat tinggal saya bernuansa hutan dimana kita bisa melihat aneka binatang di habitat aslinya, bahkan dari pintu belakang kamar saya bisa langsung tembus ke hutan :p
backyard

Walaupun disebut tinggal di hutan, jangan bayangkan kehidupan primitif ala tarzan dimana saya tinggal di pondok kayu dengan lampu petromak karena nggak ada listrik dan untuk mandi harus ke sungai. Kehidupan di sini cukup normal dengan akses internet (walaupun nggak ada pilihan provider lain selain telkom) dan setiap rumah ada TV Kabel (karena nggak bakal dapet siaran apa2 dengan bermodalkan antena biasa). Walaupun susah cari pokestop di daerah sini, tapi banyak pokemon binatang liar yang bisa dijumpai waktu jalan sore, seperti anak naga liar di bawah ini
kadal

Dan nggak cuma di rerumputan, kadang bisa dijumpai juga di tempat tak terduga. Di dalam kamar aja sudah beberapa kali ada kodok nyasar entah masuk darimana
ulo

Nggak cuma bangsa reptil aja, dimana lagi bisa liat yang beginian keluyuran di jalan dengan santainya
bebeks

Pengalaman tak terlupakan dengan satwa liar terjadi di bulan2 pertama saya di tempat baru. Pada suatu malam, saya terbangun karena suara berisik dari belakang kamar. Walaupun gempa bumi nggak cukup buat bikin saya bangun (true story), saya cukup sensitif sama bunyi2an. Jam di komputer yang sibuk download menunjukan pukul 2 dini hari dan saya cek dari jendela kamar sapa tau ada kucing yang pengen masuk ato minta minum, tapi nggak keliatan apa2 dari jendela namun suara berisik itu masih terdengar.

Karena penasaran, saya keluar kamar dan mendekati sumber suara dimana akhirnya saya melihat makhluk besar berbulu itu. Saya terpaku dan mengeluarkan bunyi kaget (nggak inget kaya gimana, mungkin semacam “Nguik!!!” or its just in my head) dan makhluk berbulu bernama babi hutan itu menoleh dan melihat saya. Kami saling bertatapan untuk beberapa detik yang terasa cukup lama (nggak ada BGM lagu romantis di scene ini) dan dia juga terlompat kaget seraya berkata “GROOOK!!!” kemudian balik badan dan lari sekuat tenaga nabrak jemuran handuk…… kemudian kayanya sadar dia lari ke arah yang salah, lalu balik badan dan lari ke arah hutan sambil melewati saya yang masih diam tak bergerak.

Besoknya saya cerita ke penduduk setempat, dan ternyata udah biasa ada babi hutan keluyuran di daerah sini dan biasanya cari makan di tempat sampah. Kadang ada yang berkelana terlalu jauh dan nyasar ke tengah kompleks. Kalo ada yang nyasar biasanya ada pemberitahuan masal, jalan ditutup dan ada tim yang dikerahkan untuk menggiring balik ke dalam hutan.

Money Management


Pada kesempatan kali ini gw mau berbagi cerita tentang cara mengelola uang, atau bahasa kerennya budgeting. Perlu diketahui, ini bukan tulisan mengenai investasi ataupun sebuah metode yang terbukti secara ilmiah, hanya berdasarkan pengalaman pribadi dan belum tentu cocok diterapkan untuk semua orang.

piggy

Pengalaman pertama gw dalam mengatur keuangan sendiri dimulai di bangku SMA. Karena jauh dari orang tua, gw dapat kebebasan penuh dalam hal memilih dan mendaftar sekolah (tentu saja masih dalam status wajib lapor, nggak bisa seenaknya daftar sembarangan), termasuk mengelola uang belanja bulanan untuk makan, transport, dan kebutuhan hidup lain. Penghematan pertama yang gw lakukan merupakan sebuah ketidaksengajaan dimana ketika mengisi form pendaftaran SMA, gw ga paham apa maksud dan tujuan dari isian “sumbangan sukarela” sehingga dengan polosnya gw isi Rp 0 di lembar pendaftaran tersebut. Hal ini mendapat reaksi keras dari ortu mengingat nilai akademis SMP gw yang pas2an dan bertanya2 gimana kalo nggak diterima,lagi2 dengan polosnya gw jawab ‘ya udah, coba lagi aja taun depan’.Untungnya teknologi waktu itu tidak memungkinkan lemparan sandal lewat telp (eh sekarang juga masih belum bisa ya) dan biaya interlokal lumayan mahal jadi nggak bisa lama2 :p.

Somehow gw keterima, entah karena kesalahan administrasi, 3 nilai 7 itu bawa keberuntungan, atau persentase pendaftar dan jumlah kursi itu overated dan cuma buat mancing uang sumbangan aja. Di tahun pertama, karena masih awam maka tidak banyak penghematan yang bisa dilakukan. Transport masih mengandalkan antar jemput karena gw belum gitu ngerti jalan, buku juga beli di sekolah karena list daftar buku dari sekolah kurang deskriptif untuk dicari di gramed.Intinya di tahun pertama, gw masih jadi anak baik2 gitu. Namun sebagai bocah di usia remaja yang jauh dari orang tua dan lebih banyak menghabiskan waktu di jalan, akhirnya karena pengaruh lingkungan, gw akhirnya mulai mengenal dan makin sering nongkrong di sebuah lokasi bernama……. rental komik 😐

Sebuah benda adiktif yang biasanya saya dapatkan dengan harga Rp5000 (di tahun itu sudah jadi Rp 9000) bisa saya nikmati hanya dengan Rp300 – Rp500 saja, benar2 menggoda dan cukup berpengaruh pada pengeluaran dan akhirnya gw mulai merasakan perlunya mengelola uang untuk memenuhi kebutuhan “ekstra”. Karena sudah mulai mengenal seluk beluk jalanan, akhirnya di tahun kedua gw beralih menggunakan media transportasi angkot, selain lebih hemat dari sisi finansial juga lebih fleksibel jam pulangnya :D. Datang waktu pembagian buku paket walaupun nggak order di sekolah cuma buat mengamati bentuk fisiknya dan nyatet detailnya (pengarang, penerbit, edisi tahun berapa) terus nyari di luaran dengan harga murah hehe, di tahun ini juga gw mulai cari extra income. Sebagai seorang reguler, gw juga dpt priviledge di rental komik biar bisa berlama2 baca di tempat sambil duduk manis di balik meja pengawas rental (lumayan bs dapet 10 buku/hari). Hal paling berkesan di tahun kedua ini adalah bagaimana gw akhirnya bisa naik sepeda

Tahun ketiga, sudah mengenal semua guru dan karakteristiknya. Sama sekali nggak beli buku paket di tahun ini dan cuma beli bbrp LKS untuk mapel yang gurunya rajin ngumpulin dan nilai LKS (ekstrim ya). Bahkan untuk buku tulis sudah beralih ke binder agar bisa multifungsi untuk semua mapel (kecuali bbrp subject yang gurunya somehow hobi meriksa buku catatan buat dinilai). Hal yang unik di kelas IPA adalah keberadaan lemari di setiap kelas yang katanya diperuntukan untuk menyimpan alat2 lab (yang sampe gw lulus ga pernah diisi apa2) sehingga gw manfaatkan buat nyimpen semua buku, alat tulis, sampe seragam gw disana (hebatnya ga ada yang tahu, atau mungkin lebih tepatnya ga ada yg peduli). Hal ini sangat membantu karena di tahun terakhir ini gw pulang pergi pake sepeda, jadi beban lebih ringan dan bisa ganti di sekolah agar bebas dari keringat serta hujan >_<. Karena ga punya buku paket, gw selalu ngerjain PR di sekolah dan hafal jadwal pelajaran SEMUA KELAS sehingga tahu pasti dimana saja bisa dapat pinjaman buku yang dibutuhkan di hari itu. Untuk ulangan harian, semua guru punya karakteristik masing2, jadi pahamilah gurunya sebelum memahami pelajarannya biar hidupmu lebih mudah πŸ˜€

pohon duit

Dan sekarang, gwmenerapkan private policy dalam hal money management dimana tiap bulannya di luar pengeluaran rutin seperti bayar tagihan PLN, PDAM, telkom, dan pulsa, gw merancanakan mau ngapain aja dlm sebulan (nonton, jalan2, belanja) dan ambil duit dari ATM sesuai dengan rencana awal tersebut. Misalnya bulan ini gw ambil sejuta dari ATM, maka bagaimanapun caranya gw harus bisa stick to the plan dan bertahan hidup dengan sejuta sampai bulan depan. Jadi misal ada diskon gadget yang menggoda hati nurani, gw harus berani menahan godaan atau menghadapi resiko mati kelaparan di bulan ini. Tentu saja ada alternatif lain seperti program sebulan bersama mi instan jika diskonannya benar2 worth to die for, atau2 memanfaatkan susu kantor secara maksimal untuk bertahan hidup. Intinya adalah cara menghadapi hal2 di luar rencana seperti :

Coworker : bro, tar pulang kantor ikutan karaoke bareng anak2 tim X yuk
Me :sori gw hrs pulang cepet, ada acara di kos
Coworker : lho, bukannya anak kos lo dah pada mudik lebaran semua ya
Me : ada pesta sarden sama kucing2 di kos, bhaaay

Untungnya untuk kejadian tak terduga seperti kecelakaan atau serangan penyakit sudah dicover sama asuransi, jadi worst case scenario seperti opname bisa dilihat sebagai best case scenario dimana selama periode opname bisa menghemat pengeluaran makan dan di akhir bulan ada extra money to spend :p. Yak betul sekali, dengan policy yang sama, maka semua kelebihan yang ada di akhir bulan harus dihabiskan (salah satu alasan munculnya traktiran dadakan, end month shopping spree, atau random vacation). Buat yang pengen nabung tapi selalu gagal karena di akhir bulan sudah ga ada yang bisa ditabung akibat foya2 bisa coba cara ini, masih diperbolehkan foya2 kok asalkan sudah terencana sebelumnya sehingga keberadaan tabungan lebih terjamin πŸ˜€