New Chapter


Its been a while since I post something here. PPKM has been officially lifted now means we can now travel without PCR anymore. You just need to get yourself completely vaccinated, but when I travel yesterday, they don’t even check my vaccine status so IDK what the rules here.

My Office also starts RTO (Return To Office) campaign, so it ends my WFH journey (well, its not fully WFO yet. we still doing the alternate schedule). I’m scheduled to work in the office next Monday (March 11th, 2022) but since I want to familiarize myself with the new environment, I already moved yesterday.

Ah yes, that means I’m not lived in Jakarta anymore :D. Can’t imagine myself living in Jakarta for more than a year and actually enjoy it (maybe the fact that I spent most of my time inside my room and never experienced what traffic jam looks like in Jakarta helps) and even get tons of (life) experiences here so I get to know another side of me here lol.

This time, I’m not going to different island. still in Java, to get a taste of central java (which rumored to have the lowest living cost compared to other Java region, so it will improve my wallet condition I hope). Still not sure what kind of persona I should show to my other colleague when we first meet next week, and if this is finally the place where I can settle. Let see how this journey takes me 🙂

Potential


Its 2022 already. I don’t have any resolution this year (and don’t bother to have one anyway), and nothing have changed this year (have been living in Jakarta for a year now, and COVID still here. Well, actually I got a new job this year (and also in a new role, unlike in my previous experiences so far), but its more like an experimental thing for me since life is pretty boring lately (yeah, I tend to do some crazy social experiment or random things when I’m bored and have plenty of time) so lets not get into details until I finish my probation period and I decide to continue on this path.

Its my 2nd week now and I still don’t do any actual work. Spend my first week doing initial setup on my new company laptop (there are 3 laptops in my desk now so it feels like a service center workshop table) and attend some basic company related training (core values, how to submit timesheet, how to apply leave, and other related shit like that). From the participant list, I can see there are 10 people in my batch but since its an online self learning session, there are no interaction among us.

Now on the second week, guess what? more trainings to do. Well, its quite fun and doesn’t feel like training at all. Just answer some question like typical “What Hogward faction are you?” quiz game in facebook where you get your result based on your answer from the survey.

In the training today, I took the “Unleash your infinite potential” test. The name sounds cool and implying some vigorous training where I unleash my Nen, awaken my dormant Stand, and become super saiyan to fight evil in this world (if you don’t understand this references, just ignore it). But the actual result is meh.

Turns out, I am a good strategist but a very bad at influencing and build relationship (score 1 out of 9 categories lol). Well, its nothing new for me. Not sure if this information can help me unleash my infinite potential, just let HR collect this info and do what they want with this. Maybe they want me to formulate a strategy and find other people who good at build relationship and influencing to gather people to be used as sacrificial pawn to succeed my strategy?

Well, basically in the end. their recommended action items for me is :

  • think deeply and more often : basically they told me to overthinking?
  • take time to write : so this is it, since they don’t mention what to write
  • try to get one on one with people : not sure bout this, they want me to join fight club and dueling someone there or what?

Anyway, with this writing, at least I already fulfilled one of the action item, isn’t it?

mission accomplished, over and out 🙂

Quake


Hari jumat kemarin, saat sedang bersantai nonton film di kamar, tembok tempatku duduk bersandar berasa ditendang2. Karena dilakukan beberapa kali pastinya bukan tindakan yang nggak disengaja dong. nyebelin banget nggak sih lagi asik2 nonton digituin, padahal nggak berisik juga nontonnya. Saat mau gedor tembok balik baru nyadar, kamar sebelah kan kosong nggak ada penghuninya……

Nggak lama, terdengar ribut2 dari lantai bawah. Awalnya kirain palingan cuma ada kecoak lewat atau sejenisnya, secara lantai bawah penghuninya mayoritas cewek2 lebay gitu. Tapi karena penasaran, jadinya turun juga pengen tau ada apaan. ternyata barusan ada gempa gitu. Oke, menjelaskan goncangan di kamar tadi, tapi apa gempanya segede itu sampe pada panik? perasaan penghuni lantai atas pada santuy gitu ga ada yang panik keluar kamar, padahal harusnya makin tinggi makin berasa kan ya gempanya?

Bicara soal sensitifitas, kayanya sih aku memang bukan termasuk orang yang sensitif sama kejadian di sekitar sih. Dulu waktu ada gempa gede di Bali juga kayanya ga berasa apa2 deh, masih asik tiduran. itu juga kebangunnya gara2 buku di atas lemari jatoh tepat di mukaku >_<

Padahal itu gempanya lumayan gede lho, tembok kantor sampe retak2. bahkan carrefour sunset road sempat rusak parah waktu itu. Eh tapi perasaan kucing kos juga masih asik tidur tuh waktu ada gempa, padahal katanya binatang itu sensitif sama yang namanya bencana, cih boong banget deh. Ato mungkin karena punya nyawa 9 jadinya dia tenang2 aja gitu ya hmmmm

Eniwei, buat yang di daerah lain terutama Banten gimana kabarnya? berasa bangetkah gempa kemarin?

Vaccine (season 2)


Tak terasa sudah 30 hari berlalu sejak vaksinasi pertama, akhirnya pada suatu malam dapat pesan dari kemenkes jadwal untuk mengikuti vaksinasi kedua. Awalnya sempat khawatir sih soalnya waktu selesai vaksin pertama nanya ke petugasnya nanti vaksin kedua dimana nggak dikasih jawaban pasti dan disuruh nunggu kabar aja. Terus waktu pulang, cek di aplikasi peduli lindungi kok jadwal vaksin kedua lokasinya jauh banget di jaktim padahal domisiliku jakut. Kirim email ke email yang tertera di peduli lindungi soal bisa nggak pindah lokasi vaksin kedua ke tempat yang lebih dekat, dan sesuai dugaan nggak dapet respon sama sekali.

Jadi lumayan lega ketika dapet info tiket vaksin kedua dan lokasinya di jakpus (ya, masih mayan jauh sih tapi setidaknya jauh lebih dekat dari yang tertulis di aplikasi peduli lindungi gitu). Kekhawatiran kedua yang muncul adalah ke sananya naik apa ya mengingat sekarang lagi PPKM dan kabarnya banyak jalan yang ditutup. Mulailah cari2 info rute busway dan LRT dengan asumsi transportasi publik macam itu masih tetap beroperasi dengan normal tanpa hambatan. Nanya2 juga ke kenalan yang tinggal di JKT dan rata2 pada bilang naik ojek atau taksi aja, jalanan normal kok. ok deh percayakan pada ahlinya aja, case closed.

Berhubung waktu vaksinasi makan waktu lama di jalan dan banyak yang antri pula di tempat vaksin, kali ini berangkat pagian deh. namun ternyata itu kekhawatiran yang sia2, semuanya berjalan super lancar dan dalam waktu yang sangat singkat akhirnya…. tadaaaaa i;m fully vaccinated

and guess what, pertama kalinya dalam waktu 3 minggu ini keluar kamar dan melakukan interaksi dengan manusia lain ternyata memberikan dampak positif dalam mengisi social meterku. Sepertinya memang sesekali butuh tatap muka dan mendengarkan suara orang lain biar nggak didominasi sama suara2 di kepala ini. Tapi isi postingan blognya kayanya lebih berbobot waktu banyak inner thought ya, yang ini lebih kaya ocehan nggak penting :p

Oh iya, waktu vaksin pertama nggak cuma berangkatnya aja yang banyak kendala, pulangnya juga ada kejadian nggak enak. hape kesayanganku jadi korban tabrak lari :(. Nggak inget juga itu karena ada polisi tidur atau jalanan berlubang, yang pasti motornya sempet lompat dan hape yang ada di kantong baju terbang melayang keluar dalam gerakan lambat, dan tanganku berusaha menggapainya dalam gerakan yang lebih lambat lagi. Abang ojeknya juga ga nyadar sih sampai kusuruh puter balik (nggak mungkin dilakukan karena jalanan rame dan searah), jadi setelah motornya berhenti, lompat turun dan nyari2 dimana jatuhnya. Setelah ketemu dan mendekat untuk menggapainya, tiba2…… ngeeeng ada mobil lewat dan melindas mi-chan tepat di depan mataku!!!!

thank you and good bye Mi-chan 😦

pas diambil, terlihat banyak retakan2 di layar dan kondisinya mati. Abang gojeknya terlihat khawatir tapi kubilang gpp walau hati ini hancur hiks. Ga berani nyalain dan sepanjang jalan kugenggam erat2 hingga balik ke kos. Tiba di kos juga lagi2 abang gojeknya nanyain tapi kubilang gpp sambil berusaha menenangkan, ya mau ngapain lagi coba, masa minta ganti kan kasihan juga. Anggap aja udah waktunya ganti hape gitu. Hebatnya masih bisa nyala (kamu hebat mi-chan!!) walau touch screennya jadi nggak responsif, setidaknya masih dapet sinyal buat terima call dan whatsapp lah.

nb : sekarang Mi-chan sudah beristirahat dengan tenang dan sudah ada penggantinya

nb 2 : kelanjutan postingan kemarin tidak yakin kapan bisa dipublikasikan walau draftnya sudah ada karena kontennya cukup sensitif, malah part 1 kemarin ada kemungkinan dihapus jika dirasa meresahkan. gomen

My Social Meter


It’s been 2 weeks already since PPKM has been implemented in this city (will be extended for another week) and basically I never leave my room since then, almost zero contact with other person (only when I get my food delivery couple times a day), and I think it start to affect me somehow.

I’m not a social person, usually only go to the office 2-3 times a week (sometime only once a week when I’m not in the mood for it and no important meeting that week) since attendance is not a mandatory thing in my office now as long as you get your work done. But I guess that’s the right amount to get my social meter filled.

Actually I used to be a very social person. During my elementary school years, I always get the same remarks from my teacher every PTA meeting that I am very chatty and need to get focused in class. Feel very sad when I had to move to different school and leave all my friend that time. Start to build my new circle in the new place and doesn’t take a long time until I got some new friend that I can spend my time for hours in the phone (no cellphone, or instant messenger at that time so my parents used to yell at me when I used the phone for a long time).

I guess, when you are very close to someone, it left a bigger scar when you are in fight. Had a huge fight with one of my closest friend in 2nd year for a reason I can’t really remember now (I bet it something stupid, but both of us are to proud to say sorry at that time) and we don’t talk to each other for a year until graduation day, but the damage has been done at that point.

Not sure when it starts, but I became less social at some point for some reason. Maybe because I need to start again from zero when I moved to a new place (unlike in some movie where the protagonist move to a new school with their old friend from previous school and somehow they are in the same class again), I start to question what’s the point of making a lot of new friend again if in the end I had to leave them and being alone again. Well, I’m not really become an antisocial person, just stop being a class clown like I used to be and only interact with limited amount of people. Won’t bother try to fit in or joining any club like what I do before, and before I realize it, I start to enjoy solitary and avoid social activities since its mentally exhausting. Yet, sometime I still enjoy socializing and physical interaction, but less talk, just being there and observing other people.

…..contd

Vaksinasi (season 1)


Tak terasa sudah lebih dari setahun covid mengunjungi negara ini, dan selama itu juga hampir ga pernah kemana2 (which is fine actually, WFH rocks!!), dan beberapa waktu yang lalu muncul kabar vaksinasi yang kini sudah terbuka untuk umum. Bagi yang status vaksinasinya tidak terdaftar di peduli lindungi, ini merupakan kabar bagus, secara banyak yang pengen divaksin tapi masih nunggu giliran sementara yang sudah diprioritaskan untuk dapet vaksin malah banyak yang nggak mau.

Masalahnya waktu cari2 info tentang pendaftaran vaksin, hasilnya cukup mengecewakan. Sebagian besar tempat yang membuka registrasi online masih mewajibkan pendaftarnya menyertakan surat keterangan domisili waktu melakukan pendaftaran. Sementara lokasi yang disebutkan terbuka untuk umum di situs berita tidak menyertakan bagaimana cara daftarnya, dan kirim email ke kontak@kemkes.go.id (di situsnya disuruh kontak ke situ jika ada pertanyaan) nggak direspon. Ya sudahlah, gpp deh repot2 dikit bikin surat domisili.

Langkah awal, ke rumah pak RT yang lumayan susah ditemui. Hari minggu beberapa kali datang ke rumahnya dari siang hingga malam, ketok2 dan panggil2 ga ada respon, padahal mobilnya ada, tapi suasana rumahnya sepi ga ada tanda2 kehidupan sih (mungkin klo libur baterenya dicabut kali ya jadi not responding), akhirnya di hari ketiga sukses dapet surat RT dan besoknya datang ke kantor RW, lebih gampang karena ada kantor dan jam kerja resminya. Setelah menuju loket dan menyampaikan maksud kedatangan untuk buat surat domisili :

Admin : surat domisili mau buat apa?
Me : buat daftar vaksin mbak
Admin : vaksin di mana?
Me : di RS xxx
Admin : fotokopi KTP pemilik rumahnya mana ini?
Me : eh, pake ktp yg punya rumah juga ya mbak?
Admin : iya, memang gitu aturannya
Me : yang punya kos nggak tinggal di DKI mbak
Admin : ya aturannya gitu

Dahlah nyerah, ngandelin herd immunity dari yang lain aja. Namun untungnya setelah curcol di medsos, ada yang ngasih link registrasi online yang nggak ribet dan persyaratan yang mudah (tapi kalo di home loket.com kok nggak bisa dicari ya, harus buka dari link lengkapnya). Trus ada juga yang ngasih info lokasi lain, tapi ga ada registrasi onlinenya, harus dateng langsung dan kalo kurang beruntung kehabisan kuota hari itu harus coba lagi besok. Awalnya sih mau coba yang dateng langsung aja soalnya deket lokasinya, rencana dateng pagi2 semoga dapet kuota.

Karena punya banyak waktu luang dan gali2 informasi lebih lanjut, kok banyak yang bilang efek samping Aztrazenica ada yang demam sampe 39-40 derajat gitu. Ngeri2 sedap nih karena di kos lagi sendirian, repot juga kalo ada apa2 ntar, jadinya beralih ke yang registrasi online pake Sinovac walaupun lokasinya jauh. Kuotanya juga banyak banget, lancar jaya daftarnya dan tiketnya dikirim ke whatsapp dan email juga (thumbs up buat loket.com).

Besoknya dah berangkat 45 menit sebelumnya buat jaga2 kalo macet, eh ternyata drivernya juga ga gitu tau jalan dan diputer2in sama googla maps dan waze. Trus ternyata JExpo juga gueeede banget dan masih semi kebingungan nyari lokasinya walau sudah banyak bendera2 dan penunjuk jalan di sekitar situ (memang kitanya aja yang buta arah hehe). Masuk antrian dengan bawa tiket dan form vaksinasi, antriannya panjang tapi lancar dan teratur. Sempat mengira barcode yang ada di tiketnya bakal discan waktu mau masuk gedung, tapi ternyata tidak dicek.

Di ruang tunggu pertama, para peserta dipersilahkan duduk di kursi yang telah disediakan (udah dikasih jarak tapi kayaya masih kurang lebar) dan di depan ada abang2 yang mengarahkan teriak2 pake toa “baris 1 dan 2 berdiri!!!! maju jalan!!!” dan peserta di 2 baris terdepan bergerak memasuki ruang tunggu kedua. Tapi biar udah diatur gini masih ada yang nakal ikutan nyelonong, entah nggak denger instruksinya atau memang ga bisa bahasa Indonesia ya? Untungnya koordinatornya ga cuma ngasih instrusi aja tapi juga memperhatikan “Itu ibu yang dibaris ketiga, duduk dulu bu, 2 baris pertama aja yang maju”, dan ketika si ibu tetap saja ikutan maju (pura2 ga denger? ga peduli? atau memang goblog?!! auk ah) ada petugas lain yang sigap mendatangi si ibu dan ditembak di tempat diarahkan kembali ke kursinya. Di sini sambil nunggu bisa diisi ya form vaksinasinya (jangan lupa bawa bolpen biar ga repot cari pinjeman), ada juga petugas yang keliling2 untuk memandu yang bingung. Kirain petugasnya bakal sekalian ngecek tiket registrasinya, ternyata tidak.

Di ruang tunggu kedua, sistem antriannya bukan dari belakang ke depan lagi tapi dari kanan ke kiri (karena lokasi vaksinasinya ada di sebelah kiri). Ga ada petugas yang bawa toa lagi, jadi ngikut aja alur yang ada, kalo pada gerak pindah kursi ya ikutan pindah haha). Di ruangan kedua ini banyak petugas yang duduk di meja bagian depan sambil ngetik2 di laptop. kirain di sini bagian daftar ulang yang mintain tiket registrasinya…. ternyata bukan juga

Di ruang tunggu ketiga, sistemnya hampir sama dengan ruang tunggu kedua. namun majunya per baris dan petugasnya mengarahkan perorangan di baris pertama jika ada meja vaksinasi yang kosong. ketika semua orang di baris pertama sudah maju barulah baris berikutnya maju selangkah. langsung deh cek tekanan darah dan suntik vaksin, di luar dugaan ternyata ga sakit lho gaes (jangankan digigit semut, cuma berasa dioles kapas doang malah) dan disuruh tunggu di ruangan sebelah 15 menit in case ada efek samping. Antri terakhir buat ngumpulin form vaksinasi abis gitu bisa pulang deh. Sampe terakhir tetep ga dicek tiketnya, jadi aslinya ga daftar onlinepun bisa ikutan juga ini (ya gpp juga sih, selama yang daftar masih kebagian vaksin. makin banyak yang divaksin kan makin bagus)

Sampai H+1, masih ga kerasa efek samping apapun gaes. Tinggal tunggu bulan depan untuk season 2. Moga ada vaksinasi masal yang deket rumah :D. Oh iya bagi yang di DKI dan mau vaksin bisa daftar juga di https://loket.com/event/tnibersamawalubi walaupun ga punya KTP DKI. Special thanks buat Walubi, TNI, dan kemenkes yang sudah menyukseskan acara ini 🙂