Sidang Naik Kelas


hampir sama seperti anak sekolah, di dunia kerja khususnya yang kantoran juga ada yang namanya rapotan, juga dikenal dengan nama beken appraisal, performance review, atau istilah2 keren  lainnya. Beda tempat bisa beda pula kriteria penilaiannya bahkan kadang bisa random macam penilaian dosen mata kuliah yang jarang masuk dan tiba2 sudah UAS. Tapi intinya nilai rapot inilah yang menentukan jabatan/gaji/kelangsungan kita di tempat kerja.

Di tahun2 sebelumnya, saya tergabung dalam tim project dan walaupun guru project managernya ganti2, cara rapotannya nggak jauh beda. tau2 di akhir taun udah dibagi hasilnya tanpa mengetahui bagaimana cara dan kriteria penilaiannya. kemungkinan sih dari random question waktu ngajak dinner bareng dan saya sendiri nggak terlalu peduli secara hasilnya cukup memuaskan sejauh ini.

Di tahun ini saya diakusisi sama tim support walaupun masih sering “dipinjem” sana sini buat bantuin project, tapi karena masih 1 kantor juga ya saya ngiranya sama ajalah prosesnya, tinggal tunggu terima hasilnya di akhir tahun macam anak sekolah terima rapot gitu. Dan hari ini, saya mengetahui bahwa prosesnya ternyata beda, ada sesi tanya jawab segala (nggak terlalu kaget sih secara kantor lama juga menerapkan proses yang serupa). Untungnya hari ini saya cukup tidur dan cukup makan, jadi waktu dipanggil sidang (walaupun sempet bertanya2 kenapa dipanggil), kondisi mood cukup bagus. Inilah rangkuman sidang siang tadi (diterjemahkan ke bahasa biar lebih gampang dicerna)

1. Tahun ini apa saja yang sudah dilakukan
dan sayapun langsung berkata dalam hati “lha kan elu bosnya, masa ga tau gua ngapain aja” tapi tetap saya jawab sambil melihat si bos manggut2 dan nulis (atau mungkin dia lagi ngisi TTS aja)

2. Apa kekuranganmu
jika ini adalah job interview, saya bakal ngasih kekurangan yang bisa dilihat sebagai kelebihan kalo mau main taktis. atau ngasih minor flaw yang nggak berhubungan ama kerjaan kalo mau safe dan nggak keliatan fake answer dari tips&trik interview. Tapi berhubung pertanyaan ini kayanya nggak cocok buat ditanyakan di performance review, saya memberikan pandangan “seriously??!! pertanyaan gak penting macam apa ini!!” dan terbersit pikiran untuk bilang “I AM FLAWLESS, PERFECT BEING. KNEEL BEFORE ME, YOU PUNY HUMAN!!!”. i play my humble card this time

Me : tanya ke end user aja, kayanya mereka lebih kredibel buat ngasih jawaban
Bos : gpp, pendapat pribadimu aja
Me : hmmm, kekuranganku ya…… saya orangnya nggak sabaran, apalagi sama user yang issuenya ga jelas
Bos : gitu ya, tapi dari feedback user kayanya mereka cukup puas
Me : (lha ngapain elu nanya gw lagi kalo gitu!!!) mungkin karena mereka nggak ngerti sarkasme nggak terlalu keliatan aja

Bos : kalo soal sosialisasi gimana, kayanya kamu jarang kumpul2 sama yang lain
Me : beda minat aja sih pak, saya suka futsal. di kantor saya kadang masih ngobrol sama yang lain kok, diskusi ini itu
Bos : di luar kerjaan maksudnya. Yang lain kadang suka ngobrol bareng di samping kantor, kamu ga pernah ikutan?
Me : bapak tau itu tempat apaan? smoking room ituh, mereka disana smoking break. saya nggak ngeroko
Bos : ya kan bisa kesana ikut ngobrol2 aja, ga perlu ikut ngerokok
Me : jadi saya ngabisin waktu 30 menit di ruangan penuh asap rokok cuma buat ngobrol? brilian sekali ide bapak
Bos : ya nggak gitu juga sih (rupanya dia ngerti sarkasme), tapi itu termasuk kekurangan juga kan
Me : (OMG, masi ngebahas kekurangan juga??!!) *disini saya ceramah panjang lebar tentang apa itu kekurangan, karakteristik manusia dan tipe2nya mulai dari INTP, ESFP, dan aneka personality lainnya sampe akhirnya dia sadar kalo gw bisa bawel juga kalo diperlukan

3. nah gampang ini, sebutkan kelebihanmu
karena udah cape ngomong, kali ini saya play humble mengambil peran manusia biasa yang penuh dosa dan setara dengan yang lainnya. toh bragging juga ga ada gunanya, bukan job interview ini. malah beresiko nambah kerjaan aja kalo bilang bisa ini bisa itu :p
Bos : masa nggak ada, semua orang pasti punya kelebihan
Me : apa ya?… punctual deh, saya orangnya tepat waktu. hampir ga pernah telat pulang (sengaja cuma ngomongin pulang dan nyebut jam masuk)
Bos : kata yang lain kamu tau segalanya, jadi kalo ada problem yang mereka nggak ngerti pasti nanyanya ke kamu. termasuk kelebihan itu
Me : buat saya sih itu kebutuhan profesi, bukan kelebihan. kebanyakan juga saya ga tau kok waktu ditanya, googling dulu. merekanya aja yang males cari tau
Bos : ya kan nggak semua orang bisa gitu, termasuk kelebihan itu
Me : iya lah, terserah bapak aja (dah cape, aus, males ngomong)

Di luar dugaan, cuma itu aja pertanyaannya!!! sama sekali nggak kaya appraisal. padahal taun kemarin waktu masih di project pertanyaannya masih ngebahas project yang dikerjain taun itu dan ngapain aja. ini malah pertanyaannya macam…… ah sudahlah nggak perlu dibahas, gw suka galak kalo lagi laper (dah menjelang lunch nih *kruyuk*). Aslinya masih ada 1 pertanyaan terakhir yaitu saran dan komentar buat si bos tapi dengan sigap langsung gw jawab ga ada. Kali ini si Bos menerima dengan pasrah, ga berusaha memperpanjang waktu dan mendapat jawaban. mungkin dia juga sudah lelah :p

Gimana yang lain, akhir taun gini biasanya semuanya pada persiapan rapotan. Prosesnya sama atau mungkin lebih menarik di kantornya? sistem hunger games gitu mungkin, 1 juaranya naik gaji trus yang posisi terakhir dipecat? :p

My Monday Morning


Keteraturan adalah sebuah kata yang sama sekali tidak menggambarkan saya. Aktivitas yang direncanakan seperti lari pagi bersama biasanya batal gara2 hal remeh seperti pagi yang dingin, bantalnya ga mau ditinggal, atau 5 menit lagi :p. Bahkan untuk hal serius semacam pekerjaan, jika lagi nggak mood saya bisa nggak ngerjain apa2 seharian walaupun sudah masuk dalam to do list.

Namun di dalam keseharian saya yang chaos itu, rutinitas masih memberikan pengaruh auto pilot yang kuat. Jadi walaupun tidur jam 2, alarm jam 6 masih efektif membangunkan saya untuk memulai “snooze sequence” hingga akhirnya berangkat kerja jam 7.30 melewati jalanan yang padat (walaupun dalam kondisi 1/2 sadar) hingga akhirnya tiba dengan selamat di kantor. Dan karena akhir2 ini status saya sebagai cowo pinjaman mengharuskan saya untuk pindah kantor sementara, proses autopilot ini membawa saya ke kantor lama tanpa sadar (sudah terjadi beberapa kali malah). Suatu pagi, seorang rekan kerja bertanya “wah balik ke kantorsini lagi, dah selesai projectnya disana?” membuat saya tersadar lagi dimana….. dan saya pura2 ngambil dokumen penting yang tertinggal (aslinya cuma kertas coret2 ga penting)

Semalam saya tidur lebih awal dari biasanya karena lampu mati, tapi anehnya jam tidur yang lebih panjang tersebut malah bikin makin males bangun dan somehow di bawah siraman shower dengan kepala nempel di tembok, gw ketiduran!!!! (dan kayanya cukup lama jika melihat kaca kamar mandi sampe putih beruap gitu). Dengan sedikit terburu2 saya bergegas ke parkiran ketika menyadari helmnya ketinggalan zzz, lari balik ke kamar buat ngambil helm dan ternyata kunci kamarnya ilang entah kemana. bongkar tas dan saku celana dengan paniknya, hingga traceback rute dari kamar ke parkiran buat nyari jatuh dimana……. and guess what, ternyata kamarnya lupa dikunci dan si kunci masih nancep di dalem!!!!

Akhirnya, sambil menghela nafas panjang dan quick scan kamar untuk memastikan tidak ada lagi yang ketinggalan, saya kembali ke parkiran dan bersiap berangkat, masang helm, kemudian terheran2 kenapa saya bawa laundry bag (technically, nggak ada yang ketinggalan sih, kelebihan malah yg dibawa). Saat itulah saya putuskan untuk kembali tidur dan ngantor siang aja after lunch (crazy way to start the day, maybe its a sign. kalo diterusin, takutnya kegilaan ini masih berlanjut di kantor)

Wild Life


Saya punya kemampuan adaptasi yang lumayan bagus sehingga berpindah2 tempat tinggal seperti yang saya alami selama ini tidak menjadi kendala. Mulai dari lingkungan perkotaan dengan mall dimana-mana dan ratusan angkot lalu lalang memadati jalanan, hingga Bali yang kaya akan pantai tapi miskin mall dan transportasi umum. Kali ini tempat tinggal saya bernuansa hutan dimana kita bisa melihat aneka binatang di habitat aslinya, bahkan dari pintu belakang kamar saya bisa langsung tembus ke hutan :p
backyard

Walaupun disebut tinggal di hutan, jangan bayangkan kehidupan primitif ala tarzan dimana saya tinggal di pondok kayu dengan lampu petromak karena nggak ada listrik dan untuk mandi harus ke sungai. Kehidupan di sini cukup normal dengan akses internet (walaupun nggak ada pilihan provider lain selain telkom) dan setiap rumah ada TV Kabel (karena nggak bakal dapet siaran apa2 dengan bermodalkan antena biasa). Walaupun susah cari pokestop di daerah sini, tapi banyak pokemon binatang liar yang bisa dijumpai waktu jalan sore, seperti anak naga liar di bawah ini
kadal

Dan nggak cuma di rerumputan, kadang bisa dijumpai juga di tempat tak terduga. Di dalam kamar aja sudah beberapa kali ada kodok nyasar entah masuk darimana
ulo

Nggak cuma bangsa reptil aja, dimana lagi bisa liat yang beginian keluyuran di jalan dengan santainya
bebeks

Pengalaman tak terlupakan dengan satwa liar terjadi di bulan2 pertama saya di tempat baru. Pada suatu malam, saya terbangun karena suara berisik dari belakang kamar. Walaupun gempa bumi nggak cukup buat bikin saya bangun (true story), saya cukup sensitif sama bunyi2an. Jam di komputer yang sibuk download menunjukan pukul 2 dini hari dan saya cek dari jendela kamar sapa tau ada kucing yang pengen masuk ato minta minum, tapi nggak keliatan apa2 dari jendela namun suara berisik itu masih terdengar.

Karena penasaran, saya keluar kamar dan mendekati sumber suara dimana akhirnya saya melihat makhluk besar berbulu itu. Saya terpaku dan mengeluarkan bunyi kaget (nggak inget kaya gimana, mungkin semacam “Nguik!!!” or its just in my head) dan makhluk berbulu bernama babi hutan itu menoleh dan melihat saya. Kami saling bertatapan untuk beberapa detik yang terasa cukup lama (nggak ada BGM lagu romantis di scene ini) dan dia juga terlompat kaget seraya berkata “GROOOK!!!” kemudian balik badan dan lari sekuat tenaga nabrak jemuran handuk…… kemudian kayanya sadar dia lari ke arah yang salah, lalu balik badan dan lari ke arah hutan sambil melewati saya yang masih diam tak bergerak.

Besoknya saya cerita ke penduduk setempat, dan ternyata udah biasa ada babi hutan keluyuran di daerah sini dan biasanya cari makan di tempat sampah. Kadang ada yang berkelana terlalu jauh dan nyasar ke tengah kompleks. Kalo ada yang nyasar biasanya ada pemberitahuan masal, jalan ditutup dan ada tim yang dikerahkan untuk menggiring balik ke dalam hutan.

Money Management


Pada kesempatan kali ini gw mau berbagi cerita tentang cara mengelola uang, atau bahasa kerennya budgeting. Perlu diketahui, ini bukan tulisan mengenai investasi ataupun sebuah metode yang terbukti secara ilmiah, hanya berdasarkan pengalaman pribadi dan belum tentu cocok diterapkan untuk semua orang.

piggy

Pengalaman pertama gw dalam mengatur keuangan sendiri dimulai di bangku SMA. Karena jauh dari orang tua, gw dapat kebebasan penuh dalam hal memilih dan mendaftar sekolah (tentu saja masih dalam status wajib lapor, nggak bisa seenaknya daftar sembarangan), termasuk mengelola uang belanja bulanan untuk makan, transport, dan kebutuhan hidup lain. Penghematan pertama yang gw lakukan merupakan sebuah ketidaksengajaan dimana ketika mengisi form pendaftaran SMA, gw ga paham apa maksud dan tujuan dari isian “sumbangan sukarela” sehingga dengan polosnya gw isi Rp 0 di lembar pendaftaran tersebut. Hal ini mendapat reaksi keras dari ortu mengingat nilai akademis SMP gw yang pas2an dan bertanya2 gimana kalo nggak diterima,lagi2 dengan polosnya gw jawab ‘ya udah, coba lagi aja taun depan’.Untungnya teknologi waktu itu tidak memungkinkan lemparan sandal lewat telp (eh sekarang juga masih belum bisa ya) dan biaya interlokal lumayan mahal jadi nggak bisa lama2 :p.

Somehow gw keterima, entah karena kesalahan administrasi, 3 nilai 7 itu bawa keberuntungan, atau persentase pendaftar dan jumlah kursi itu overated dan cuma buat mancing uang sumbangan aja. Di tahun pertama, karena masih awam maka tidak banyak penghematan yang bisa dilakukan. Transport masih mengandalkan antar jemput karena gw belum gitu ngerti jalan, buku juga beli di sekolah karena list daftar buku dari sekolah kurang deskriptif untuk dicari di gramed.Intinya di tahun pertama, gw masih jadi anak baik2 gitu. Namun sebagai bocah di usia remaja yang jauh dari orang tua dan lebih banyak menghabiskan waktu di jalan, akhirnya karena pengaruh lingkungan, gw akhirnya mulai mengenal dan makin sering nongkrong di sebuah lokasi bernama……. rental komik😐

Sebuah benda adiktif yang biasanya saya dapatkan dengan harga Rp5000 (di tahun itu sudah jadi Rp 9000) bisa saya nikmati hanya dengan Rp300 – Rp500 saja, benar2 menggoda dan cukup berpengaruh pada pengeluaran dan akhirnya gw mulai merasakan perlunya mengelola uang untuk memenuhi kebutuhan “ekstra”. Karena sudah mulai mengenal seluk beluk jalanan, akhirnya di tahun kedua gw beralih menggunakan media transportasi angkot, selain lebih hemat dari sisi finansial juga lebih fleksibel jam pulangnya😀. Datang waktu pembagian buku paket walaupun nggak order di sekolah cuma buat mengamati bentuk fisiknya dan nyatet detailnya (pengarang, penerbit, edisi tahun berapa) terus nyari di luaran dengan harga murah hehe, di tahun ini juga gw mulai cari extra income. Sebagai seorang reguler, gw juga dpt priviledge di rental komik biar bisa berlama2 baca di tempat sambil duduk manis di balik meja pengawas rental (lumayan bs dapet 10 buku/hari). Hal paling berkesan di tahun kedua ini adalah bagaimana gw akhirnya bisa naik sepeda

Tahun ketiga, sudah mengenal semua guru dan karakteristiknya. Sama sekali nggak beli buku paket di tahun ini dan cuma beli bbrp LKS untuk mapel yang gurunya rajin ngumpulin dan nilai LKS (ekstrim ya). Bahkan untuk buku tulis sudah beralih ke binder agar bisa multifungsi untuk semua mapel (kecuali bbrp subject yang gurunya somehow hobi meriksa buku catatan buat dinilai). Hal yang unik di kelas IPA adalah keberadaan lemari di setiap kelas yang katanya diperuntukan untuk menyimpan alat2 lab (yang sampe gw lulus ga pernah diisi apa2) sehingga gw manfaatkan buat nyimpen semua buku, alat tulis, sampe seragam gw disana (hebatnya ga ada yang tahu, atau mungkin lebih tepatnya ga ada yg peduli). Hal ini sangat membantu karena di tahun terakhir ini gw pulang pergi pake sepeda, jadi beban lebih ringan dan bisa ganti di sekolah agar bebas dari keringat serta hujan >_<. Karena ga punya buku paket, gw selalu ngerjain PR di sekolah dan hafal jadwal pelajaran SEMUA KELAS sehingga tahu pasti dimana saja bisa dapat pinjaman buku yang dibutuhkan di hari itu. Untuk ulangan harian, semua guru punya karakteristik masing2, jadi pahamilah gurunya sebelum memahami pelajarannya biar hidupmu lebih mudah😀

pohon duit

Dan sekarang, gwmenerapkan private policy dalam hal money management dimana tiap bulannya di luar pengeluaran rutin seperti bayar tagihan PLN, PDAM, telkom, dan pulsa, gw merancanakan mau ngapain aja dlm sebulan (nonton, jalan2, belanja) dan ambil duit dari ATM sesuai dengan rencana awal tersebut. Misalnya bulan ini gw ambil sejuta dari ATM, maka bagaimanapun caranya gw harus bisa stick to the plan dan bertahan hidup dengan sejuta sampai bulan depan. Jadi misal ada diskon gadget yang menggoda hati nurani, gw harus berani menahan godaan atau menghadapi resiko mati kelaparan di bulan ini. Tentu saja ada alternatif lain seperti program sebulan bersama mi instan jika diskonannya benar2 worth to die for, atau2 memanfaatkan susu kantor secara maksimal untuk bertahan hidup. Intinya adalah cara menghadapi hal2 di luar rencana seperti :

Coworker : bro, tar pulang kantor ikutan karaoke bareng anak2 tim X yuk
Me :sori gw hrs pulang cepet, ada acara di kos
Coworker : lho, bukannya anak kos lo dah pada mudik lebaran semua ya
Me : ada pesta sarden sama kucing2 di kos, bhaaay

Untungnya untuk kejadian tak terduga seperti kecelakaan atau serangan penyakit sudah dicover sama asuransi, jadi worst case scenario seperti opname bisa dilihat sebagai best case scenario dimana selama periode opname bisa menghemat pengeluaran makan dan di akhir bulan ada extra money to spend :p. Yak betul sekali, dengan policy yang sama, maka semua kelebihan yang ada di akhir bulan harus dihabiskan (salah satu alasan munculnya traktiran dadakan, end month shopping spree, atau random vacation). Buat yang pengen nabung tapi selalu gagal karena di akhir bulan sudah ga ada yang bisa ditabung akibat foya2 bisa coba cara ini, masih diperbolehkan foya2 kok asalkan sudah terencana sebelumnya sehingga keberadaan tabungan lebih terjamin😀

Part2


Sudah seminggu berlalu, saatnya melanjutkan analisa dari postingan sebelumnya karena posting nggak tuntas itu adalah ciri pengguna narkoba (eh bukan ya? auk ah, belum dibaca semua). Biar nggak jadi postingan berseri yang panjang, langsung aja

11. Semakin jarang mengikuti kegiatan keluarga
hmmm iya juga sih, dulu waktu kecil pasti ngikut aja entah itu arisan ke rumah tante ato belanja bareng kemana gitu. ya masa ditinggal sendirian di rumah berjam2, bisa didatengin kak Seto ntar :p. Sekarang mah males rasanya, ujung2nya palingan dipalakin ponakan trus terjebak di awkward position antara bosen dengerin gosip ibu2 atau bengong sama topik bapak2 yang biasanya ngomongin bola di tengah asap rokok (2 hal yang gw ga suka). Sekalinya terlibat interaksi, palingan ditanya kerja apa dan ujung2nya “bisa benerin (insert any electronic stuff here) nggak?”

12. Berubah teman dan jarang mau mengenalkan teman2nya
well, secara gw suka pindah2 jadi mau nggak mau temen2 juga pasti berubah. dari SD ke SMP aja ga ada yg sama, SMP ke SMA masih 60% sama karena masih sekompleks, kuliah 100% berubah. Dan karena jaman dulu yang namanya hape atau email belum populer, akhirnya putus kontak sudah dengan sebagian besar teman SMA ke bawah😦.

13. Teman sebayanya makin lama tampak mempunyai pengaruh negatif
buset, ini mah ciri yang susah buat diamati dan bisa bikin 95% ortu di Indonesia dengan anak remaja jadi salah mengambil kesimpulan. Bisa2 kepolisian dapet laporan penduduk kalo si Asep yang dulunya jam 5 sore udah pulang ke rumah abis main kejar2an trus jam 9 udah bobo, sekarang jam 10 masih nonton di Mall sama temen2nya jadi Asep sekarang pasti pengguna narkoba!!! ato si Neneng yang dulunya suka nemenin ibunya masak di dapur sekarang pulang dari salon dengan rambut disemir. ini pasti pengaruh buruk drama korea dan temen2 sebayanya, dan tentu saja narkoba!!


14. Mulai melalaikan tanggung jawabnya

Aduh pak, Mukidi bulan ini telat ngasih uang belanja istrinya sama uang sekolah anaknya bukan gara2 narkoba. emang belum ada duit aja. eh Mukidi itu sapa sih?

15. Lebih sering dihukum atau dimarahi
lagi ngomongin Nobita atau Shinchan nih?

16. Bila dimarahi makin2 menjadi2 dan membangkang
ini mah lagi akil balik aja kayanya :hammer:, yang bikin ciri2 ini lupa masa lalu sendiri kayanya

17. Tidak mau mempedulikan peraturan di lingkungan keluarga
aman kalo yang ini, nggak ada peraturan keluarga hehe (eh ato jangan2 ada tapi gw yang nggak peduli ya? :|)

18. Sering pulang larut malam
jaman kuliah dulu biasanya malah perginya yang larut malam, pulangnya pagi😐

19. Sering pergi ke disco, mall, atau pesta
kasihan Jakartaers, perasaan sebagian besar tempat nongkrongnya mall deh. teater JKT48 itu masuk kategori disco/mall/pesta nggak? hayo lo wota, awas keciduk BNN😀

20. menghabiskan uang tabungannya atau selalu kehabisan uang
karena gw punya policy sendiri mengenai penggunaan uang, kayanya ga mungkin tabungan gw bisa abis😀. eh tapi klo kehabisan uang mayan sering ding gara2 perencaan yang ga jalan sesuai harapan (beda lho ya kehabisan uang sama kehabisan tabungan :p)


21. Barang berharga miliknya atau keluarga yang dipinjam hilang dan sering tidak dilaporkan

kalo barang milik sendiri mah namanya bukan pinjam, kalo ilang juga paling cuma bisa meratap. Jadi inget pas hp ilang di musim banjir dan kemungkinan besar hanyut ke danau, kepikiran berhari2. oh koleksi foto2ku :((

22. Sering merongrong keluarga untuk minta uang dengan berbagai alasan
ah, ini era usaha keras menuhin celengan ayam biar bisa beli game console. setiap koin begitu berharga

23. Selalu meminta kebebasan yang lebih
kalimat ini kayanya terlalu abstrak dan terkesan lebay deh, tapi gw ga mau komen apa2 ah soal ini, ntar ada yang tersinggung :nomention:

24. Waktunya di rumah banyak dihabiskan di kamar atau di kamar mandi
ini mah gw banget pas jaman kuliah, kalo nggak nongkrong di kampus ya ngendon di kamar main game, baca komik, nonton film. kalo nggak gitu ya di kamar mandi ngurusin tumpukan cucian sebelum terpaksa ke kampus pake kaos oblong :p

25. Jarang mau makan atau kumpul bersama keluarga
ketemu keluarga aja palingan setaun sekali, gimana nggak jarang ngumpul ato makan bareng coba😦

26. Sikapnya manipulatif
TATAP MATA SAYA!!!!

27. Emosi tidak stabil
gw kadang bisa mendadak sedih atau bad mood tanpa alasan yang jelas, bisa juga tiba2 jadi bahagia dan baik hati, or doing something crazy on impulse. penyabab pastinya masih belum diketahui dengan pasti, mungkin ada hubungannya sama pergerakan bulan dan posisi 9 planet (eh?)

28. Berani berbuat kekerasan dan kriminal
seperti yang sudah gw bilang di postingan sebelumnya, gw nggak suka kekerasan (atau lebih cocok dibilang too lazy to do that). Tindakan kriminal yang gw lakukan palingan nyebrang jalan sembarangan, parkir di tanda dilarang parkir, atau nyolong wifi tetangga :hammer:

29. Ada obat2an, kertas timah, dan barang aneh lainnya
kalo lagi sakit ringan trus dikasih obat sama dokter, biasanya cuma gw simpen aja dan cukup banyak minum dan tidur. Jadinya gw punya 1 kotak obat berisi aneka macam obat dan antibiotik yang beberasa diantaranya mungkin sudah kadaluwarsa (tanggal kadaluwarsanya ditulis dimana sih, kayanya ga keliatan deh). So ngapain ke dokter kalo obatnya nggak diminum? buat jaga2 aja sih sapa tau penyakit serius (lagian ke dokternya juga gratis, biar kepake lah asuransinya) soalnya dulu gw pernah ngira cuma demam biasa, terus pas ke RS ternyata udah langsung masuk UGD dan opname😐

30. Sering makan permen karet atau menthol
sumpah bukan gara2 narkoba, gw cuma pengen ngumpulin tulisan YOSAN doang. kurang 1 huruf aja nih ga dapet2 dari dulu -_-


31. Sering memakai kacamata gelap untuk menutupi mata telernya

bukan cuma sering, tapi gw selalu pake kacamata (walau nggak gelap), jadi kalo didobel pake kacamata gelap mah lebih mengundang perhatian daripada mata teler sih (which i don’t really care actually, gw biasa jalan kaki pake helm kok. ciyus)

Huff, masih banyak ya ternyata. padahal niatnya diabisin semua hari ini tapi udah jam segini aja, saatnya cabut sebelum si boss manggil nanya macem2

Apakah aku pengguna narkoba


Jadi baru2 ini saya melihat BNN merilis ciri2 pengguna narkoba. Tentu saja agar bisa lebih waspada dan tidak terjerumus ke lembah nista (dan juga karena lagi nganggur dan mau keliatan sok sibuk nan serius), saya mempelajari ciri2 tersebut, kali aja penjual bandrek selama ini adalah pengguna narkoba dan dagangannya dioplos sama heroin biar pembelinya ketagihan (malah rugi ya kayanya secara mahalan narkoba daripada bandrek, eh ga tau ding berapaan narkoba seporsi). Jadi mari kita telaah satu2

1. Jika diajak bicara jarang mau kontak mata

eh, kok yang ini kayanya gue banget ya? jangankan kontak mata, kalo lagi mode “senggol bacok” dengan headset nempel dan pandangan lurus menatap layar sih biasanya noleh aja kagak. jika topiknya layak mendapat tanggapan sih biasanya masih ngerespon, tapi kalo nggak pasti bakal pura2 ga denger. Mungkin harus jelas bilang “Tatap mata saya!!!” buat memastikan poin ini ya😐

2. Bicara pelo/cadel
hmmm… walaupun nggak cadel2 banget, tapi saya nggak begitu fasih melafalkan “R” dan kayanya cukup banyak deh yang kaya gini (ya kan kan kan??) jadi kayanya aneh aja deh kalo ini termasuk ciri2 pengguna narkoba. emangnya narkoba itu bisa bikin orang cadel? padahal banyak orang yang kalo ngomong sama bayi (terutama cewek2) malah dicadel2in (ciyus, lual biaca deh). Mungkin istilah baby talk perlu diganti jadi drug addict talk. Eh ato jangan2 itu kode ya, sebenarnya si bayi itu adalah bandar yang lagi nyamar dan mereka lagi transaksi :mindblown:

3. Jika keluar rumah sembunyi-sembunyi
Jadi inget jaman kuliah dimana waktu siang susah banget dapet PC di lab, jadi harus malem2 ke kampus nunggu labnya sepi. nggak berisik juga malem2 jadi lebih konsentrasi ngerjain tugas, internetnya juga lebih kenceng (eh niat bikin tugas ama ngenet nih). Orang rumah suka ribet urusan keluar malem jadi biasanya suka keluar diem2 biar nggak ditanya “mau kemana? pulang jam berapa? kok nggak siang2 aja? nggak bisa dikerjain di rumah aja? dikerjain besok pagi2 aja dll dsb dst”

4. Keras kepala/susah dinasehati
ini poin yang debatable karena saya itu pada dasarnya nggak suka ribut2 jadi ketika dinasehati biasanya nggak ngelawan, kecuali isi nasehatnya nggak logis dan menggelitik buat teriak “Objection!!! Hold it!!”. Tapi untuk kasus2 dimana debat merupakan tindakan yang buang2 waktu sih biasanya saya mengaktifkan special ability dimana saya bisa menatap mata pembicara di depan saya dan tampak mendengarkan omongannya tapi nggak ada satu katapun yang masuk ke kepala😀

5. Sering menyalahkan orang lain untuk kesalahan yang dia buat
ini juga argumentatif sih. KADANG2 (kadang lho ya, nggak sering) saya suka iseng bereksperimen di kantor ketika lagi nggak ada kerjaan tapi pengen kerja (dua kondisi yang jarang terjadi dalam waktu bersamaan). Dan karena males testing puluhan skenario yang mungkin terjadi, saya lakukan eksperimen ini langsung ke server production dimana ada ratusan user yang bisa menjadi tester sukarela. Tentunya nggak semua eksperimen ini berjalan mulus, KADANG ada error dan usernya lapor dan sayapun mendapatkan list problem,error, dan replication step yang berguna untuk menyempurnakan eksperimen. Tinggal undo perubahan dan voila, semuanya kembali normal!!! biasanya sih di tahap ini usernya udah seneng karena masalahnya cepat teratasi, tapi KADANG ada yang nanya tadi kenapa errornya dan saya jawab “mungkin servernya bermasalah” (ga bohong juga lho, emang servernya bermasalah walaupun masalahnya gara2 saya juga muhaha). coba lihat ada berapa KADANG itu, nggak sering kan artinya :p

6. Tidak konsisten dalam berbicara
penggunaan kata ganti dalam satu postingan ini aja bervariasi, nggak konsisten. bahasanya juga campur2, formalitas katanyapun begitu. eh tapi ini nulis/ngetik kan ya, bukan lagi berbicara

7. Sering mengemukakan alasan yang dibuat-buat
ini biasanya kalo lagi males ngasih tanggapan dimana situasinya membutuhkan tanggapan, contoh

X : ini kenapa ya udah dipencet dari tadi tulisannya downloading terus nggak kelar2?
Me : mungkin dia lelah

8. Sering berbohong
saya sudah ratusan kali berhadapan dengan kata2 “I have read this Agreement and agree to the terms and conditions” waktu install software. Ain’t no time to read that

9. Sering mengancam, menantang atau sesuatu hal yang dapat menimbulkan kontak fisik atau perkelahian untuk mencapai keinginannya
saya nggak suka kontak fisik, apalagi perkelahian.Menurut saya, berkelahi adalah aktivitas yang menghabiskan banyak energi dan merupakan tindakan yang kurang efisien untuk melumpuhkan lawan. Assasination is much better, less noise, faster, instant kill (eh).

10. Berbicara kasar kepada orang tua atau anggota keluarganya
Nay, seperti yang telah dibahas sebelumnya, walaupun aslinya saya orangnya nggak sabaran tapi saya tipe orang yang lebih memilih keluar rumah diam2 daripada berdebat mengenai pro dan kontra keluar rumah malem2 demi mengerjakan tugas di lab dengan resiko digodain cewe berandalan di jalan (eh?!). Pulang pagi terus dinasehatin dalam kondisi tugas udah selesai dan nggak denger apa isi nasehat saking ngantuknya is a better option. tampang lemes, mata sayu, dan telinga terkulai biasanya bikin orang marah nggak lama2 :p

eh, masih panjang ya ternyata listnya. niat kali bikin ciri2 sampe 53 gini, kayanya bakal jadi tugas hafalan anak SD masa kini macam ngafalin butir2 pancasila atau kabinet pembangunan dulu deh(btw masih inget lho gue). Duh mulai ngelantur, dilanjutin kapan2 deh 43 poin sisanya. nggak kerasa udah waktunya lunch break😀

Local Steakhouse


Weekend merupakan “Spending Day” buat saya dimana saya biasanya jalan2 ke luar kota, ke bioskop, atau sekedar makan2. Jika budget yang tersisa di akhir bulan berlebih bisa semuanya, atau ngajak siapapun yang lagi beruntung hari itu, bahkan para kucingpun dapat treatment khusus di hari ini, nggak level sisa makanan lagi :p. Minggu kemarin saya mengalami disorientasi waktu jadi nggak sempet browsing2 tiket murah trus nggak kerasa tau2 udah weekend (berkat libur 17-an ditambah bolos ikutan upacara, jadi berasa kaya baru weekend aja hehe) dan nggak ada film yang menarik di bioskop, akhirnya saya memutuskan untuk jalan2 random sekalian makan.

Biasanya di hari minggu, saya suka jelajah hutan di belakang kamar sambil cari2 shortcut tapi karena sejak minggu lalu banyak alat berat yang meratakan hutan dan mengganggu aktivitas bobo2 cantik di hari libur, sepertinya petualangan rutin itu sudah tidak bisa dilakukan lagi😦. So akhirnya saya memainkan game angkot yang sudah lama tidak saya lakukan, buat yang mau nyobain permainan ini, begini langkah2nya

  • turun ke jalan dan naiki angkot/bus/mrt secara random (kalo bisa yang belum pernah dinaikin sebelumnya)
  • duduk manis dan lakukan aktivitas random seperti ngelamun, baca buku, ato merem sambil dengerin musik
  • setelah cukup lama/bosan, hentikan angkot secara random dan turun
  • mulai eksplorasi untuk menemukan spot menarik, jika tidak ada yang menarik ulangi langkah pertama🙂

Permainan yang cukup menarik untuk dilakukan jika lagi bosan, dan berkat ini juga dulu saya jadi lebih mengenal Surabaya dalam waktu yang cukup singkat :p. Singkat cerita, saya singgah ke tempat makan lokal baru (atau cuma baru direnov aja) karena melihat menu yang tidak biasa di kampung ini : Steak. Ciyus, selama disini saya nggak pernah liat satu tempat makanpun yang menyediakan steak kecuali di restoran hotel.

tridi
Dari segi interior, mencoba ke arah kontemporer dengan kombinasi tembok bambu,pola brick, dan warna2 cerah (kuning cerah, hijau muda, pink, etc). Berasa di tempat kongkow teletubbies atau lagi high😐. Ada aura modern art dalam bentuk 3D paint yang sayangnya tidak terlalu berhasil, but nice try lah (foto di atas itu lukisan yang paling bagus, sisanya menyedihkan). Tapi overall tempatnya cukup nyaman untuk ukuran kota yang biasanya panas, banyak kipas dan playlist musiknya juga lumayan untuk mengobati cuci otak akut dari sopir bus yang muter goyang dumang berulang2 >_<

Pertama kalinya saya pesan steak ditanya “pake nasi?” dan setengah berharap itu bukan berarti steaknya dikasih lontong aja :hammer: , saya memesan es teler untuk menemani steak karena milkshake terlalu mainstream (juga karena lagi kepanasan di jalan). Porsinya cukup loyal, full hingga ke mulut gelas dengan tumpukan es serut di atasnya. Saya sampai bingung bagaimana cara menusukkan sendok biar isinya nggak tumpah, berputar mencari angle yang pas macam main uno stacko. Mbak2nya sepertinya mengerti kegalauan yang saya rasakan karena waktu nganterin steaknya dia bawa sedotan sambil bilang “maaf ketinggalan tadi”

da steak

da steak

Steaknya disajikan di hotplate, padahal di restoran hotelpun biasanya langsung disajikan di piring. Sausnya tidak sesuai dugaan, nggak jelas juga bumbu apa yang digunakan tapi yang jelas rasanya nggak seperti saus steak biasa. Lebih ke arah saus sate padang campur kuah gulai campur bumbu rendang yang susah dideskripsikan bagaimana rasanya, tapi masih edible lah. Ukuran dagingnya juga mengenyangkan walau nggak ada kentangnya, dan harganya cukup murah (<50% harga menu restoran hotel langganan lah pastinya) so overall layak dikunjungi lagi untuk nyobain menu2 lainnya (itupun kalau inget lokasinya dimana :|). Sayangnya nggak inget nama tempatnya, dan di foto2 hp juga ternyata nggak ada satupun yang menampilkan namanya >_<