Changes


Tak terasa sudah hampir setahun berlalu sejak postingan terakhir dipublish. Interface WB sudah tidak seperti dulu, namun secara keseharian bisa dibilang hampir tidak ada perubahan (yeah, i have a standard boring life).

Masih tinggal di tempat yang sama dan bekerja di kantor yang sama dengan rutinitas yang bisa dibilang serupa dari hari ke hari. No complaint, i love my job.

Di pertengahan tahun kemarin, kedamaian sedikit terusik dengan adanya restrukturisasi organisasi. Jadi bos yang lama dipindahkan ke departemen lain dan sebagai gantinya kini ada 3 bos baru akibat dileburnya 3 divisi yang berbeda (walaupun cost centre dan head countnya masih beda, jadi malah bikin ribet).

Nggak terlalu peduli sih, nggak tertarik sama politik internal kantor. Salah satu action yang dilakukan bos2 baru ini adalah mengassign orang ke posisi2 baru dengan nama keren yang secara struktural sebenarnya nggak ada.

Misalnya seseorang yang awalnya menjabat sebagai OB Kantor A, kini nama jabatannya menjadi Office Maintenance Specialist yang kerjanya selain bersih2 juga harus ngerti dan membuat denah semua kantor serta maintain list inventory property kantor. Negatifnya kerjaan nambah, positifnya cuma nama jabatan yang terdengar lebih keren aja.

Masalahnya saya adalah salah satu dari “orang2 terpilih” ini !!!. Dari sisi kerjaan sih sebenarnya nggak masalah, dan workload nambah pun masih bisa diatasi. I have the power to handle more responsibility, tapi dengan bertambahnya kerjaan harusnya juga diiringi dengan bertambahnya hal yang lain (you know what) dong. If you are good at something, never do it for free after all 😀

Hal ini langsung saya utarakan secara terbuka ke para bos baru ini begitu berita “promosi abal2” ini dipublish. Tentu saja berbagai kata motivasi dan trik persuasi bergulir dalam diskusi 8 mata tersebut.

Kesimpulannya, akan ada perubahan di pertengahan tahun berikutnya (yang saat ini masih belum jelas apa itu :D)

Kuiz


Pada jaman dahulu kala, sempat booming kasus mama minta pulsa yang di Indonesia korbannya lebih banyak dari email pangeran Nigeria bagi2 duit. Karena dulu sering ada bonus sms gratis yang batas waktunya cuma sehari, saya suka iseng balesin sms aneh2 biar gratisannya kepake sebelum angus, keisengan ini sempat berlangsung cukup lama pula :p.

Di era smartphone seperti sekarang ini, sepertinya sebagian besar sudah berpindah ke whatsapp atau messenger lainnya dan teknologi sms sudah mulai ditinggalkan. Sms masuk palingan cuma berisi promo dari operator, konfirmasi online dan penipuan. Registrasi nomor hape dengan KTP dan KK yang awalnya saya kira bakal cukup bermanfaat untuk mengurangi jumlah penipuan via hape ternyata nggak begitu berpengaruh. Masih ada aja sms masuk seperti

Selamat, Anda memenangkan hadiah [mobil/uang/else], untuk info pengambilan hadiah silahkan klik [biasanya blogspot atau domain2 receh lain]. Pengirim : [operator/bank/else]

Kurang tahu sih apa yang ada di link tersebut, mungkin dia minta ditransfer sebelum ngirim hadiah dengan kedok biaya administrasi, pajak, atau sejenisnya kali ya. Dan entah apakah ada banyak yang menjadi korban penipuan model begitu secara nomor pengirimnya jelas terlihat bukan dari operator.

Nah di 2018 ini, saya pernah nyaris tertipu. Di siang hari ada telp yang mengaku dari telkomsel mengatakan nomor saya mendapat gratis paket internet selama 3 bulan tanpa dipungut biaya dan tanpa syarat. tidak terlihat seperti penipuan bukan? terlebih lagi sebelumnya dia mengkonfirmasi nomor hape dan jumlah tagihan bulan terakhir yang nominalnya dia sebutkan dengan benar (entah dari mana dia bisa dapat informasi ini). Terakhir masih dengan nada bicara yang sopan dan khas operator, dia minta saya menyebutkan nomor yang dikirim di hape dan tiba2 ada sms masuk dari TSEL-APPS (bukan nomor abal2 seperti penipuan sebelumnya) yang berbunyi

Ini Password rahasia anda untuk login aplikasi. Telkomsel tidak pernah meminta password ini dan jangan berikan kepada siapapun. Waspada penipuan. Password : xxxx

Saya tidak tahu dan tidak pernah menggunakan aplikasi yang dimaksud, dan jelas disebutkan telkomsel tidak pernah meminta password rahasia tersebut jadi disitu kecurigaan mulai muncul.

Me : ini nomor buat apa ya mas? biasanya apply paket nggak pernah pake ginian segala
X : ini untuk konfirmasi saja pak
Me : oh gitu ya, ok nomornya xxxx (nyebutin nomor lain)
X : ini ada bonus bicara 300 menit juga, coba dikonfirmasi lagi nomornya
Me : *ada sms masuk lagi, tapi udah males nanggepin* eh saya ada urusan mas, dicancel aja lah gratisannya, saya nggak butuh.

Beberapa minggu setelahnya, ada modus serupa tapi tak sama. call malam2 sekitar jam 7 mengaku dari jamu sido muncul padahal saya nggak doyan jamu!! Suaranya juga bukan tipikal operator pada umumnya jadi sudah menimbulkan kecurigaan sejak awal

X : Selamat malam pak, nomor bapak terpilih untuk mengikuti kuis berhadiah 30 juta dari sido muncul bla bla bla
Me : *pengen tau ke mana arahnya, jadi ngikut aja sampai jawab pertanyaan pilihan ganda yang diberikan*
X : selamat, jawaban bapak benar. ini nanti hadiahnya akan langsung dikirimkan ke alamat bapak dan tidak dipungut biaya apapun ya pak.
Me : *bertanya2, ini orang nggak nanya alamat dari tadi ntar ngirimnya gimana emang*
X : untuk itu, kami butuh konfirmasi nomor PIN yang akan segera dikirimkan ke hape bapak untuk memastikan ini benar nomor [nomor hape saya] (sms yang sama seperti modus sebelumnya)
Me : *makin bingung, situ yang telp kemari kok mau mastiin nomornya bener, gimana cerita?* ini nomor buat apa ya mas?
X : untuk memastikan hadiahnya dikirim ke alamat bapak
Me : lha hubungannya apa ini sama alamat?
X : di sistem kami sudah tersimpan alamat dan nomor hape bapak
Me : ya klo udah ada ya langsung kirim aja toh, buat apa pake minta pin segala?
X : ya itu digunakan buat (mulai ngasih alesan2 yang nggak masuk akal dan dibuat2)
Me : dah klo ribet gitu saya sumbangkan ke panti asuhan terdekat di sana aja lah mas, nggak usah repot dikirim kemari segala
X : (kayanya ngomong sesuatu tapi udah keburu tutup telp, bikin senewen ngeladenin omongannya)

Beberapa hari setelah itu, nomor hape saya yang lain dihubungi lagi siang2 sama si sido muncul dan orang yang sama pula (masih inget suaranya). karena udah ilfil (dan lagi di tempat umum pula), ga mau ngucapin keyword buat ngikutin kuisnya. Tapi konyolnya katanya gpp dan masih lanjut aja (padahal klo di kuiz normal, salah ngucapin slogan di awal aja udah gagal tuh)

Me : *motong pas dia lagi bacain pertanyaan kuis* mas dapet nomor saya dari mana ya?
X : ini nomor bapak terpilih untuk mengikuti…
Me : iya, yang saya tanya ini dapat nomor saya dari mana kok bisa terpilih
X : bapak salah satu pelanggan kami yang beruntung..
Me : saya nggak pernah beli jamu lho mas
X : *mulai terbata2* wah nggak tau mas, ini dari atasan saya
Me : coba ditanyakan ke atasannya dapet dari mana, atau sambungkan langsung saja biar saya ngobrol sendiri sama atasannya
X : anu, ini datanya dapat dari pemerintah
Me : eh? nggak mungkin lah mas pemerintah ngasih data2 gituan ke perusahaan jamu, apa hubungannya? (dengan nada kalem)
X : *mulai emosi ngelesnya sampai akhirnya mengakhiri panggilan dengan kalimat yang tidak layak disebutkan di sini*

Sekarang, sudah berbulan2 nggak dapet model begitu lagi. Lagi masa transisi ke jenis penipuan yang lain lagi kali ya. Ada yang punya pengalaman serupa atau malah jadi korban? penasaran itu PIN bisa dipake buat apaan emang

Misidentification


Saya cukup sering menerima panggilan nyasar yang biasanya cuma berujung ke “oh maaf” atau langsung ditutup, walau kadang ada kasus khusus yang membuat pembicaraan sedikit lebih panjang, seperti :

X : Halo, pak Imron?
Me : salah sambung bu
X : ini [nyebut nomor]?
Me : bukan bu, salah nomor
X : trus ini siapa?
Me : yang pasti bukan pak Imron (nutup telp)

Bikin senewen aja, udah dibilang salah nomor kok masih nanya2. mau modus ya? huh *menyibak rambut*

Ada juga yang nggak salah nomor, tapi……

X : Halo selamat sore
Me : Sore
X : Perkenalkan bu, nama saya (mawar, bukan nama sebenarnya) dari bank (KRUT, bukan nama bank sebenarnya) ingin menawarkan (bla bla bla, bukan kata2 sebenarnya)
Me : (Bu? bu?!!! bu?!!!!) *udah nggak fokus sama omongan setelahnya)

Perasaan ini nama nggak genderless deh, kok bisa sampe dikira ibu2 sih??!!! ter la lu!!

Masih bisa dimaklumi lah ya, mungkin karena via telp dan nggak keliatan langsung orangnya dan entah karena suara saya yang terlalu lembut atau memancarkan uara keibuan (halah) atau si sales aja yang perlu ke THT jadi salah gitu. tapi pernah juga secara tatap muka di dalam bus tiba2 diajak ngobrol sama bapak2 yang duduk di samping saya

B : sekolah di SMA mana?
Me : (kaget tiba2 ditanya pas lagi bengong) *menjawab singkat*
B : mau kemana ini?
Me : jalan2 aja (emang ga ada tujuan pasti waktu itu, murni jalan2 gaje)
B : lagi libur sekolah ya?
Me : eh?!… iya lagi liburan

Di sini baru ngeh klo kayanya si bapak salah ngira saya ini masih anak sekolahan, tapi males mengoreksi jadi play along aja lah, lagian emang bener lagi liburan ini, ambil cuti panjang buat keliling Jawa.

Dan pengalaman terakhir waktu naik taksi, biasanya saya selalu duduk manis hingga tiba di tujuan, namun waktu itu karena drivernya tampak berpotensi nyasar maka saya sesekali mengarahkan (macam belok kiri setelah lampu merah) jika diperlukan (di tempat2 yang berpotensi salah belok dan putar baliknya jauh) ketika si sopir nanya “Sudah lama tinggal di sini?”.

Saya yang memang sering pindah2 tempat tinggal berusaha mengingat2 tahun berapa pindah kemari, tapi karena nggak inget pastinya (males ngitung sih tepatnya, sama kaya kalo ditanya umur, ga bisa ngasih jawaban instan biasanya :p) jadi ngasih jawaban general “lumayan lama”

Pertanyaan berikutnya yang benar2 tidak disangka, “Tahun berapa datang ke Indonesia?”. woot??!!! kirain keterangan tempatnya merefer ke kota, ternyata sampai level negara toh. asli baru kali ini dikira turis.

Berharap bisa menjelaskan semua kesalahpahaman ini, saya jawab saja “Saya lahir di Indonesia”. Si sopir tampak terkejut dan ketawa kecil “Oh lahirnya di Indonesia toh, trus sampai umur berapa di Indonesia?”……..

“Dari lahir sampai sekarang di Indonesia terus” dan reaksi final si sopir cuma “oooo” dan situasi kembali hening hingga tiba di tujuan…

Pembulatan


Salah satu kegiatan rutin saya adalah belanja, yang dilakukan setiap 2 minggu sekali. Tidak ada daftar belanjaan kecuali ada sesuatu yang habis dan harus dibeli, jadi biasanya apa yang dibeli benar2 random namun didominasi oleh makanan. Hal yang pertama dicek ketika tiba di tempat belanja adalah katalog promo minggu itu. Pada dasarnya saya suka mencoba produk baru yang lagi diskon, kecuali tidak ada promo yang menarik baru kembali ke brand yang biasa dibeli.

Namun satu hal yang pasti, karena nggak suka ngumpulin recehan atau dapet kembalian berupa permen, total belanjaan saya selalu kelipatan seribu. Jadi jika ada item dengan harga berakhiran 700 misalnya, saya cari item lain dengan akhiran 300 untuk melengkapi (contoh sederhana, jumlah item mggak harus 2). Memang sih di jaman sekarang, ada yang namanya kartu kredit atau debit biar nggak perlu ribet sama yang namanya kembalian, namun saya jadi lebih susah mengontrol pengeluaran bulanan.

Pada suatu hari, saya berbelanja seperti biasa. Dan ketika bayar, kasirnya ngasih saya kembalian 700 rupiah!!! merasa ada yang salah, saya langsung cek struk belanjaan dan ternyata ada item yang nggak dapet diskon.

Selengkapnya

The Call


Di suatu sore, ketika sedang menjadi seorang support yang baik di sebuah call center yang sibuk

Me : tolong bacakan kodenya pak
User : MLT…
Me : M atau N? (suaranya nggak jelas di telepon)
User : M
Me : Mama?
User : iya
Me : oke, lanjut pak
User : Mama Lala Tata…
Me : ….

Stay Calm


Semenjak tahun kedua di sini, saya mengubah strategi meningkatkan pendapatan saya dengan kembali terjun ke dunia freelance. Namun karena sudah cukup lama meninggalkan dunia tersebut, saya harus mengulang lagi semuanya dari awal, dan mendapatkan client potential untuk jangka panjang lebih susah dibandingkan dulu, terutama dengan persaingan global yang semakin ganas. Agar tidak menyia2kan waktu dan jumlah bidding yang sekarang makin dibatasi, saya memasang rate yang bersaing (tapi nggak murahan2 banget tentunya) sambil memupuk reputasi, toh modalnya cuma otak (yang nggak berkurang, malah makin bagus kalo sering2 digunakan) dan waktu (punya cukup banyak waktu senggang di kantor, daripada bengong).

Tentunya, karena hanya berstatus sebagai pekerjaan sampingan, prioritas utama tetap kerjaan kantor. Selain itu saya juga punya aturan personal untuk tidak kerja di luar jam kantor, berlaku untuk segala jenis pekerjaan. Pernah pada suatu malam, saat saya lagi asik main game online, tiba2 ada project leader yang datang ke mess karena ada masalah yang nggak bisa disolve sama anak buah dia yang masih sibuk di kantor dan saya mau dibawa ke kantor buat “sebentar” buat bantuin. Berhubung dia datang langsung, maka dengan sopan saya bilang lagi “sibuk” dan minta beliau menunggu 30-45 menit lagi (online game nggak bisa dipause). Tapi gayanya yang pushy dan sok penting benar2 menyulut emosi sehingga saya marah2i dengan brutal, nggak sadar pas marah2 itu mic masih nyala (mic headset buat koordinasi tim sama temen online, bukan mic buat karaokean).

Kejadian serupa terulang kembali minggu lalu. Walaupun ratenya kaki lima, saya memperlakukan semua client freelance saya dengan professional. Dan berhubung jumat kemarin adalah public holiday, maka kamisnya saya ngasih info bakalan AFK sampai senin. Tapi doi ngerasa project dia itu urgent dan butuh selesai secepatnya, sesuatu yang meragukan mengingat budget project yang dia pasang, jumlah kandidat yang sudah dia interview sebelumnya, dan umur job postnya. Karena sudah biasa menghadapi client yang merasa semua requestnya penting banget, top priority di atas segalanya dan wajib selesai dalam waktu sesingkat2nya namun setelah deliver ntar juga bakalan dianggurin dan lama ngetesnya dengan revisi ini itu, dan juga karena komunikasinya online jadi masih bisa berkepala dingin dan ngasih alasan diplomatis “pulkam selama liburan paskah dan nggak ada sinyal internet buat kerja”. Nggak sepenuhnya bohong sih secara emang lagi di kampung, dan lebih baik daripada ngasih jawaban jujur “ogah kerja pas liburan, emangnya situ sapa bayar receh aja nuntut overtime”

Tapi kali ini, sepertinya pihak situ yang lebih nggak sabaran dan ngasih jawaban pasif aggresif mau nyari orang lain aja buat ngerjain karena dia butuh itu selesai secepatnya. Dengan kalem, sebelum pulang kamis itu, saya persilahkan dia batalin kontrak dan menikmati long weekend dengan santai 🙂

Pagi ini, ketika membaca pesan terakhirnya yang ngasih tau kalau dia sudah dapet freelancer lain yang bisa menyelesaikan projectnya dan mengirimkan hasilnya hari ini, saya cuma bisa bergumam “terus ngapain ngasih tau? kayanya ga ada hubungan ama gw deh lu dapet orang lain ato kaga”. Tapi saya cuekin aja karena memang kayanya nggak perlu dibales dan nggak tau mau bales apaan juga.

Dan sorenya,…….. ada pesan baru