The Call


Di suatu sore, ketika sedang menjadi seorang support yang baik di sebuah call center yang sibuk

Me : tolong bacakan kodenya pak
User : MLT…
Me : M atau N? (suaranya nggak jelas di telepon)
User : M
Me : Mama?
User : iya
Me : oke, lanjut pak
User : Mama Lala Tata…
Me : ….

Iklan

Stay Calm


Semenjak tahun kedua di sini, saya mengubah strategi meningkatkan pendapatan saya dengan kembali terjun ke dunia freelance. Namun karena sudah cukup lama meninggalkan dunia tersebut, saya harus mengulang lagi semuanya dari awal, dan mendapatkan client potential untuk jangka panjang lebih susah dibandingkan dulu, terutama dengan persaingan global yang semakin ganas. Agar tidak menyia2kan waktu dan jumlah bidding yang sekarang makin dibatasi, saya memasang rate yang bersaing (tapi nggak murahan2 banget tentunya) sambil memupuk reputasi, toh modalnya cuma otak (yang nggak berkurang, malah makin bagus kalo sering2 digunakan) dan waktu (punya cukup banyak waktu senggang di kantor, daripada bengong).

Tentunya, karena hanya berstatus sebagai pekerjaan sampingan, prioritas utama tetap kerjaan kantor. Selain itu saya juga punya aturan personal untuk tidak kerja di luar jam kantor, berlaku untuk segala jenis pekerjaan. Pernah pada suatu malam, saat saya lagi asik main game online, tiba2 ada project leader yang datang ke mess karena ada masalah yang nggak bisa disolve sama anak buah dia yang masih sibuk di kantor dan saya mau dibawa ke kantor buat “sebentar” buat bantuin. Berhubung dia datang langsung, maka dengan sopan saya bilang lagi “sibuk” dan minta beliau menunggu 30-45 menit lagi (online game nggak bisa dipause). Tapi gayanya yang pushy dan sok penting benar2 menyulut emosi sehingga saya marah2i dengan brutal, nggak sadar pas marah2 itu mic masih nyala (mic headset buat koordinasi tim sama temen online, bukan mic buat karaokean).

Kejadian serupa terulang kembali minggu lalu. Walaupun ratenya kaki lima, saya memperlakukan semua client freelance saya dengan professional. Dan berhubung jumat kemarin adalah public holiday, maka kamisnya saya ngasih info bakalan AFK sampai senin. Tapi doi ngerasa project dia itu urgent dan butuh selesai secepatnya, sesuatu yang meragukan mengingat budget project yang dia pasang, jumlah kandidat yang sudah dia interview sebelumnya, dan umur job postnya. Karena sudah biasa menghadapi client yang merasa semua requestnya penting banget, top priority di atas segalanya dan wajib selesai dalam waktu sesingkat2nya namun setelah deliver ntar juga bakalan dianggurin dan lama ngetesnya dengan revisi ini itu, dan juga karena komunikasinya online jadi masih bisa berkepala dingin dan ngasih alasan diplomatis “pulkam selama liburan paskah dan nggak ada sinyal internet buat kerja”. Nggak sepenuhnya bohong sih secara emang lagi di kampung, dan lebih baik daripada ngasih jawaban jujur “ogah kerja pas liburan, emangnya situ sapa bayar receh aja nuntut overtime”

Tapi kali ini, sepertinya pihak situ yang lebih nggak sabaran dan ngasih jawaban pasif aggresif mau nyari orang lain aja buat ngerjain karena dia butuh itu selesai secepatnya. Dengan kalem, sebelum pulang kamis itu, saya persilahkan dia batalin kontrak dan menikmati long weekend dengan santai 🙂

Pagi ini, ketika membaca pesan terakhirnya yang ngasih tau kalau dia sudah dapet freelancer lain yang bisa menyelesaikan projectnya dan mengirimkan hasilnya hari ini, saya cuma bisa bergumam “terus ngapain ngasih tau? kayanya ga ada hubungan ama gw deh lu dapet orang lain ato kaga”. Tapi saya cuekin aja karena memang kayanya nggak perlu dibales dan nggak tau mau bales apaan juga.

Dan sorenya,…….. ada pesan baru

Motivation


Motivasi, merupakan salah satu alasan bagi seseorang untuk melakukan sesuatu, pendorong sebuah tindakan untuk mencapai suatu tujuan. Misalnya waktu kecil (sampai sekarang sih), saya yang biasanya susah bangun pagi, waktu hari Minggu bisa bangun pagi sendiri buat nonton kartun :p. Untuk urusan akademis sih, walaupun nggak pernah masuk 10 besar tapi aslinya saya nggak goblok2 amat lho, hanya agak sulit membagi waktu saking padatnya aktivitas sehari2 mulai dari tidur siang, main, dan nonton tipi (waktu kecil dulu termasuk maniak TV, hafal jadwal acara semua channel yang waktu itu cuma 5 doang).

Encouragement dari ortu waktu itu agar lebih rajin belajar biar pas gede bisa jadi [you name it lah, standar cita2 harapan ortu] sama sekali nggak mempan, karena saya nggak pengen jadi itu semua, bahkan waktu kecil (sampai sekarang malah) saya nggak punya cita2. Jadi belajar secukupnya (sengantuknya), yang penting nggak dapet nilai merah walaupun nggak bagus2 amat biar nggak dimarahi.

Waktu kelas 3 SD, wali kelas saya adalah guru yang dikenal killer dan di kelas 3 itu pula nilai2 saya ada peningkatan. Tentu saja waktu itu ortu mengaitkan perubahan tersebut dan beranggapan saya jadi lebih rajin karena takut sama guru killer tersebut. Padahal aslinya sih disebabkan oleh kebiasaan beliau ngasih stempel/stiker di samping nilai 100 :). Jadi motivasi utama saya waktu itu cuma mau koleksi semua jenis stempel yang ada XD. Di tahun2 berikutnya, motivasi saya adalah komik, dan kenyataan yang tidak bisa dijelaskan bahwa baca komik malah meningkatkan prestasi akademik membuat ortu saya menerima hobi baru ini. win-win solution lah :p

Setelah lulus SMA, sebagai seseorang yang nggak punya cita2, saya mendaftar di salah satu universitas swasta tempat sebagian besar teman2 satu geng saya berada dan di jurusan yang sama. Namun karena keinginan ortu agar anaknya jadi dokter (hampir semua ortu penen anaknya jadi dokter di masa itu, dan jadi jawaban default anak2 termasuk suzan kalo ditanya mau jadi apa kalo udah gede), saya ikut UMPTN. Bahkan saya diikutin bimbel buat persiapan UMPTN, padahal waktu SMA nggak ikutan bimbel atau sejenisnya. Jangankan ikutan les, bikin peer aja di kelas :p. Tiap minggu diadakan try out di tempat bimbel, dan sekalipun nggak pernah lolos (not proud about this, but no shame either).

Di minggu terakhir sebelum final try out, ketemu guru BK yang memberikan saran untuk mengganti agar saya ganti pilihan lain selain kedokteran. Sayapun menjelaskan bahwa aslinya saya nggak masalah dengan jurusan apapun dan ini cuma ngikutin keinginan ortu. Doi kemudian menyarankan untuk daftar fakultas kedokteran di Universitas lain. Awalnya pengen menjelaskan alasan pemilihan univnya karena di kota itu ada keluarga, jadi biar ga repot nyari kos2an nantinya. Namun karena penasaran dengan saran2 tersebut, apakah feng shui universitas tersebut nggak cocok dengan saya, rasi bintang saya nggak bisa jadi dokter, atau mungkin menurut mbah BK saya cocoknya kerja di aer, dengan kalem saya tanyakan kenapa begitu? dan dengan nggak kalah kalem, beliau mengatakan target saya ketinggian serta menganjurkan agar saya menentukan pilihan yang passing gradenya lebih achievable. Sebuah saran yang sangat berkesan mengingat selama ini, kebanyakan orang mengatakan “gantungkan cita2mu setinggi langit”.

Waktu try out terakhir, saya mengikuti saran yang diberikan dan mengganti pilihan pertama saya di lembar try out. Dari fakultas kedokteran ke jurusan lain yang passing gradenya lebih tinggi!!! Dan tidak seperti sebelum2nya, saya mengerjakan try out terakhir dengan berapi-api dan penuh konsentrasi. Dan hasilnya……. tetep nggak lulus!!! bahkan nilainya lebih rendan dari try out sebelumnya!!! -_-

Entah kenapa, kata2 guru BK yang namanya bahkan saya sudah lupa beberapa jam setelah sesi konsultasi itu memotivasi saya untuk membuktikan saya bisa (atau cuma membuktikan dia salah!!, confidence, pride, or just stubborn?). Ketika tiba saatnya daftar ulang di Universitas swasta di mana saya diterima waktu itu (penerimaan univ swasta dilakukan sebelum UMPTN), saya memutuskan untuk mempertaruhkan segalanya di UMPTN. Ya salah satu alasannya juga karena duitnya cuma bisa balik 50%semisal nantinya lulus UMPTN, jadi mental Paman Gober saya memilih untuk nggak bayar sekalian (50% dari 0 = 0).

Singkat cerita, secara tidak disangka2, saya lulus UMPTN dan diterima di pilihan pertama saya yaitu Informatika. Ada rasa kepuasan tersendiri ketika melihat hasilnya terpampang di dinding tempat bimbel, mengumumkan hasil tersebut ke ortu. Dan akhirnya kesadaran saya kembali ketika ortu nanya “Informatika itu ngapain ya?”, membuat saya ikutan bertanya dalam hati “iya, itu ngapain ya??!!!”

Training 7 Habit


Mungkin karena saya mengeluh pada performance review tahun lalu tentang nggak ada ilmu yang bisa dipelajari selama 2 tahun di sini dan keinginan untuk ikut training eksternal walaupun niat tersembunyinya biar bisa jalan2 aja aslinya, tahun ini saya jadi beberapa kali disuruh mengikuti training walaupun nggak seperti yang saya harapkan (cuma sekali aja jalan2, selebihnya training lokal doang). Mungkin lain kali harus secara eksplisit ngomong pengen jalan2 berkedok training kali ya :p

Jadi training terakhir yang saya ikuti membahas tentang working habit, bisa ditebak dari namanya bahwa ini adalah training “soft skill” yang nggak beda jauh dari seminar motivasi atau pertemuan MLM, tapi paling nggak masih lebih relevan lah dibandingkan training sebelum ini tentang bekerja di ruang tertutup dimana trainernya cuma mengajukan 1 pertanyaan kepada saya dan selanjutnya saya seperti tidak ada di sana sampai acara berakhir :p

Poin utama yang ditekankan di training ini adalah membentuk “can do attitude”, sebuah proses transformasi yang digambarkan sebagai anak tangga mulai dari paling bawah di mana kita malihat kesuksesan orang lain, berharap menjadi sukses, hingga akhirnya melangkah dengan penuh percaya diri ke jalan tersebut. Ada 7 habit yang dibahas dari pagi hingga sore (nggak terlalu inget tapi apa 7 itu, mungkin bisa dicari2 di internet).Namun di sini, saya tidak mau ikutan berteori karena hidup itu tidak semudah cocote Mario Teguh

Saya yakin sang trainer sudah sering sekali membawakan materi ini dan sudah punya gambaran peserta, respon dan pertanyaan yang akan dilontarkan, dan lain sebagainya. Dan kehadiran saya di sana membantu memberikan variasi biar pengalamannya makin beragam, tapi saya berusaha menjadi anak baik yang hanya duduk manis dan tidak terlalu aktif berpartisipasi (emang pada dasarnya males aja sih) kecuali ditanya. Berikut ini beberapa hal yang mungkin merupakan anomali

1.Group Habit
Training diawali di ruang kelas dimana ada beberapa meja bundar yang membagi peserta menjadi 5 grup, setelah itu ada outdoor activity dan semuanya kembali diminta untuk membentuk 5 kelompok bebas. Di lapangan, si trainer mengatakan bahwa tanpa sadar ketika membentuk kelompok, manusia akan berkumpul bersama orang2 yang dikenalnya jadi di dalam kelas, orang2 yang sekantor akan berada di kelompok yang sama.

Demikian pula ketika di luar, setelah beberapa jam menjadi satu kelompok di ruang kelas, ketika disuruh membentuk kelompok di luar, kecenderungan untuk berada di antara orang2 yang sama itu tetap ada. Sayangnya saya adalah kasus khusus yang nggak sesuai dengan teorinya. Karena lebih sering berkomunikasi via email, saya nggak tahu siapa saja peserta yang sekantor jadi waktu datang awal2 di kelas duduknya random. Dan ketika outdoor activity, saya nggak ingat siapa saja yang segrup waktu di kelas jadi lagi2 ngumpulnya random :p

2. Can Do Attitude

salah satu permainan yang dilakukan waktu outdoor activity adalah membentuk lingkaran dari tali rafia. Jadi si trainer menggenggam 6 potong tali rafia di tengah2 dan masing2 orang memegang potongan tali atas dengan tangan kanan, dan potongan tali bawah dengan tangan kiri. setelah semua orang sudah memegang tali. si trainer melepaskan tali tersebut dan kita disuruh membentuk lingkaran besar dengan syarat tidak boleh melepaskan tali yang kita pegang.

Di percobaan pertama, saya melihat dari potongan tali yang dipegang saat itu bahwa tidak mungkin ini bisa dilakukan dan menyarankan untuk “mereset” hingga mendapatkan initial start yang menguntungkan. Namun salah satu bapak2 anggota kelompok mengingatkan saya pada “can do attitude” bahwa semuanya bisa dilakukan jika kita berusaha. Usaha saya menjelaskan kenapa hal ini tidak bisa dilakukan tampak sia2 karena dia juga berusaha meyakinkan saya untuk “mencoba dulu dan tidak patah semangat”. Males berargumen, akhirnya saya memilih opsi “yowis, karepmu lah” (tidak diucapkan terang2an tentunya) dan setelah lebih dari 10 menit mencoba mengarahkan anggota kelompoknya berputar2 kesana kemari akhirnya dia menyadari nggak semuanya bisa dilakukan cuma dengan modal keyakinan. Sepertinya si bapak perlu ikut traning work smart, not just work hard :p

3. Teamwork and Trust
Salah satu permainan lain yang dilakukan 2 orang. Orang pertama matanya ditutup dan harus mencapai finish secepat mungkin sambil menghindari “ranjau” yang disebar di lapangan. Orang kedua bertugas mengarahkan orang pertama dan untuk setiap ranjau yang terinjak ada penalti waktunya.

Sebagai pelari terakhir di kelompok, saya berkesempatan untuk mengamati pelari2 sebelumnya dan melihat di tengah keributan dan arahan dari kelompok2 lain, cukup susah membedakan suara arahan teman kita. Selain itu walaupun kita bisa membedakan suaranya, cukup susah juga menghindari ranjau yang ada, instruksi maju-kanan-kiri atau instruksi lain tidak begitu membantu. Jadi saya memformulasikan stragegi khusus untuk memenangkan permainan ini, yaitu dengan berlari sekencang mungkin dengan langkah besar tanpa memperdulikan instruksi yang diberikan XD

Dengan mengambil langkah besar, jumlah langkah yang diperlukan untuk mencapai finish tidak terlalu banyak jadi worst case setiap langkah menginjak ranjau juga penalti waktunya nggak gitu terasa karena perbedaan waktu yang cukup besar dibandingkan peserta lain yang melangkah perlahan dan berhati2 untuk mencapai finish :p. Saya nggak yakin bagaimana respon trainer, rekan saya, ataupun penonton dari tim lain ketika saya melakukan hal ini. yang pasti saya cukup puas meraih skor tertinggi di permainan ini walaupun mengabaikan tema teamwork yang diangkat :p

Apakah saya akan merekomendasikan training ini pada rekan kerja yang lain? tentu saja, makan siang dan snack coffee break yang disediakan cukup enak 🙂

Habit


Kata orang, sifat dan kebiasaan itu melekat pada diri kita dan susah dihilangkan. Namun setelah sekian lama melakukan eksperimen, sepertinya habit itu tergantung dari kondisi lingkungan, gaya hidup, dan seperti rokok, bisa dihilangkan walaupun awalnya terasa susah.

Misalnya, waktu dulu saya suka sekali nonton tv. Jadwal acara semua stasiun televisi yang waktu itu tidak lebih dari 7 saya tahu, bahkan nggak jarang multitasking nonton beberapa acara sekaligus dengan ganti2 channel waktu jeda iklan yang cukup lama, dan merasa sedih ketika ketinggalan salah satu acara karena ketiduran atau hal lainnya. Saya bahkan terlambat datang mengikuti ujian masuk sekolah karena episode terakhir salah satu serial yang durasinya beberapa menit lebih panjang dari biasanya :p. Namun setelah itu ada fase dimana saya tidak nonton tv selama bertahun2 dan tidak merasa kehilangan.

Saya juga adalah seorang otaku yang mulai mengkoleksi komik sejak kelas 5 SD, menyisihkan uang jajan sampai kadang rela pulang sekolah jalan kaki buat beli komik. Kebiasaan ini makin parah ketika mengenal yang namanya scanlation waktu kuliah, koleksi meningkat secara eksponensial karena biaya dan ruang yang dibutuhkan nyaris tidak ada. Namun sekarang sudah berbulan2 saya tidak membaca manga walaupun sebenarnya bisa2 aja, dan walaupun awalnya susah untuk menahan godaan tersebut, ternyata kebiasaan baca komik bisa juga digantikan dengan aktivitas lain sehingga kebiasaan tidak baca komik akhirnya menetralisir godaan tersebut. Nantinya akan dilakukan eksperimen apakah ketika kebiasaan lama yang sudah sempat dihilangkan ini nantinya dimunculkan lagi, apakah intensitasnya akan sama seperti sebelumnya dan apakah kenikmatan yang dihasilkan masih tetap sama, berkurang, atau malah lebih.

Waktu kecil, saya adalah anak yang cerewet dan gemar bersosialisasi. Tiap rapotan selalu ada catatan dari guru agar tidak terlalu banyak ngobrol di dalam kelas. Bukan tipe yang bisa duduk manis lah pokoknya. Dan karena cukup sering pindah2 di mana di tempat baru nggak kenal siapapun dan harus memulai interaksi sosial dari 0, saya terkadang membangun image yang berbeda untuk menyesuaikan diri di lingkungan baru dengan optimal. Di tempat A saya bisa jadi sosok yang serius, di tempat B jadi joker, jadi geek pekerja keras di tempat C, dan males2an di tempat D. Jadinya harus selektif di media sosial agar tidak mencampur semua kenalan2 yang ada di satu tempat demi menghindari clash personality nantinya :p

15 tahun yang lalu, saya pasti tidak menyangka bahwa saya bisa hidup di tempat terpencil yang nggak punya bioskop ataupun mall, bahkan mcD pun tak ada serta nggak nonton tv ataupun baca komik. but here i am. Dan mengutip pertanyaan yang sering digaungkan waktu interview, 5 tahun lagi kira2 kaya gimana ya? hmmmm…..

nb : tulisan ini dibuat karena tiba2 dapet notifikasi bakal didaftarin ke training pembentukan kepribadian bulan depan. nggak tahu macam mana itu isinya, apakah bakal diajarin table manner dengan 7 jenis sendok garpu dan full course atau jalan sambil bawa kamus di atas kepala? bukan kursus kepribadian yang kaya gitu sih kayanya, tapi lets see lah

The Pandas


Jadi ceritanya baru2 ini saya pindahan, dan karena di pindahan terakhir dari Bali dimana saya harus membagikan banyak peninggalan seperti lemari, kursi santai, sampe galon saking banyaknya barang yang ribet untuk dibawa, tapi sayang untuk dibuang, selama bertahun2 ini saya tidak menambah barang sama sekali sehingga practically, semuanya muat di kardus yang sama dan tinggal dibawa begitu saja.

Extra luggage yang ada hanyalah objek penelitian musim panas kemarin yang sudah tumbuh besar dan punya rumah sendiri (walaupun cuma dari potongan kayu bekas asal paku dan beratapkan kardus). Akhirnya diputuskan untuk membawa Inga saja karena dia yang paling anteng.

trio

Lingkungan di tempat baru cukup “cat friendly”, banyak tanaman buat diendus2, banyak ban motor buat dicakar2. Kardus tempat tidur favorit inga dan mangkok makan juga tidak lupa dibawa,all is well pokoknya……. hingga pada suatu hari, ketika pulang, saya mendapati Inga tiduran di dekat tempat sampah

Me : Inga, ngapain kamu di situ? Inga bukan kucing gembel
Inga : ngaaaa (ga tau apa artinya, i don’t speak cats)
Me : ayo pulang, bobo di kardusmu aja

Ternyata kardusnya diakusisi kucing lain

Me : sapa kamu?
Fat Cat : Hissss…..
Me : pergi2, jangan di situ
Me : Hrrrrr!!!…..

Dia tidak bergeming, mungkin kucing preman lokal penguasa daerah sini. Akhirnya kita yang ngalah masukin Inga ke kamar, bahkan ngambil mangkok makanannya aja pelan2 dalam pengawasan ketat dan desisan si preman.

Beberapa hari kemudian, si preman mulai berani masuk ke kamar yang sedikit terbuka dan dengan pedenya makan minum ransum si Inga sementara Inga sendiri cuma diem ngeliatin (entah takut, atau ga peduli). Tapi pas saya mau keluar, dia langsung lari keluar mendahului, ternyata abis punya anak, pantes keliatan agak kurusan.

IMG_20170802_185023_HHT

Awalnya dia masih protektif banget, tapi lama2 anaknya dipindahin masuk. Dibawanya satu-persatu ke tumpukan kardus di pojok kamar, tapi mereka malah jatoh ke celah antara kardus dan tembok, si preman tampak kebingungan ga bisa meraih anaknya yg jatoh dan cuma bisa muter2 sambil ao-ao. Karena saya baik (aslinya sih terganggu sama berisiknya), saya bantuin geser kardus yang ternyata cukup berat dan mindahin anak2nya ke tempat yang layak di dalam kamar.

Ternyata si preman ini (mulai saat ini disebut Mapan) adalah ibu yang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan si Gembul. Dia nggak sering keluyuran dan menghilang tanpa kabar, serta sabar mengurus kelima anaknya (disebut Panda 5). Feeding time cukup hectic karena walaupun colokannya ada 6, tapi posisinya tidak memungkinkan untuk digunakan semua secara bersamaan. Saling dorong tak terelakkan walaupun sudah dibantuin mengarahkan ke colokan yang tersedia biar semua kebagian, masih aja pindah2.

Mereka tumbuh menjadi para panda yang sadar kamera banget, instingnya maju mendekati kamera. agak susah jadinya karena gerak terus dan kalo udah stabil malah deket banget ama kamera jadi harus dimundurin lagi :p. Inga sendiri cukup akur sama mereka, tapi kalo udah dideketin rame2 biasanya dia panik trus pindah tempat lain, dideketin lagi trus pindah lagi, gitu seterusnya sampe capek sendiri. Mapan juga akhirnya jadi baik sama Inga, dideketin dan dijilat2. Tapi Inga sepertinya nggak suka digituin, kalo udah menghindar masih digituin biasanya Mapan ditabok 😐

Ketika tiba saatnya (udah bisa lari2 dan manjat2, serta mulai berekskresi), kandangnya dipindahin keluar biar bisa potty training seperti triplet dulu (3 aja udah ribet dulu, apalagi 5) namun sekitar seminggu setelah itu tiba2 hadir Panda keenam yang entah darimana datangnya. Awalnya nggak nyadar karena patternnya mirip dan ngumpul ama Panda yang lain.  Setelah diamati baru keliatan ada 1 yang ukurannya lebih besar.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Pulang opname kemarin, heran mendapati lingkungan kamar yang sepi, cuma ada Mapan sendiri. Inga sih udah biasa keluyuran, palingan pergi pijat pus pus seperti biasa

Me : Mapan, mana anak2?
Mapan : awuwu awuwu

Buka pintu kamar dan Mapan langsung masuk, tampak bingung muter2 di dalam macam mencari sesuatu. Dari kelakuannya sih kayanya bukan dipindahin sama induknya, tapi nggak mungkin juga mereka kabur rame2 secara selama ini nggak pernah keluyuran, ada tukang anter galon aja mereka lari sembunyi masuk kotak. Hingga kini masih misteri apa yang terjadi dengan Panda, tinggal Mapan dan Inga 😦

Opname


Dari kecil, saya paling anti sama yang namanya dokter, mungkin karena waktu masih kecil dulu entah kenapa dokternya hobi ngasih obat puyer bukannya sirup. Sementara waktu masih kecil dulu bisa dibilang saya ini sakit2an walaupun makanannya dijaga banget, jadi kalo udah ada gejala sakit biasanya saya diem2 aja biar nggak dibawa ke dokter dan minum obat sendiri (obat turun panas rasa jeruk ato obat batuk rasa mint) berharap cepet sembuh.

Sampai sekarang juga saya menghindari banget pergi ke dokter jadi biasanya jika merasa mau sakit biasanya jadi lebih banyak tidur, minum, dan makanannya jadi lebih berkualitas biar cepet sehat lagi. Jika merasa beneran sakit yang biasanya ditandai dengan aliran waktu yang terasa berbeda (either orang ngomong terasa lebih lambat ato lebih cepet, karena bisa dibilang setiap saat saya pake headset dengan playlist yang itu2 aja jadi kerasa banget), barulah saya ke dokter untuk memastikan itu bukan penyakit serius. Umumnya sih cuma dikasih antibiotik atau parasetamol yang nggak pernah saya minum.

Bulan ini kebetulan saya lagi serius2nya kerja demi ngejar deadline (bukan kerjaan kantor sih, project eksternal aja) sampe pasang status “might not respond to any message” dan selalu ngantor tepat waktu padahal biasanya suka masuk siang dan nyantai2 di kantor. Mungkin kurangnya tidur siang dan intermezzo inilah yang tanpa disadari membuat kondisi badan menjadi drop dan ujung2nya pertengahan bulan kemarin itu terjadi.

Paginya semua masih terasa normal, after lunch tiba2 diajak meeting dan saya tidak bisa konsentrasi mendengarkan suara pembicara yang terasa lambat dan pandangan saya terasa dizoom ke mulut yang bergerak secara slow motion, pikiran menerawang nggak jelas dan tau2 udah jam 5 (nggak jelas waktunya melambat ato sebaliknya). Pulangnya langsung ngomong ke si bos kalo mau ambil cuti 2 hari karena ga enak badan. Rencananya sih mau pulang trus sekalian ke dokter pas keluar makan malam nantinya, tapi bus terasa jalan pelan banget dan somehow ini membuat saya nggak sabaran sehingga saya memutuskan untuk turun di persimpangan dan jalan kaki ke arah sebaliknya menemui dokter.

Sesampainya di sana, saya baru sadar waktu daftar bahwa saya nggak bawa kartu asuransi. Tapi untungnya di dompet ada fotokopiannya dan susternya mau nerima, sayangnya doi manja banget nanya nama dan informasi2 lainnya yang seharusnya bisa dia baca sendiri di fotokopian itu

Suster : berapa nomornya tadi?
Me : 1003….
Suster : seribu (nulis 1000) tiga (nulis 3)
Me : satu kosong kosong tiga mbak maksudnya
Suster : satu… kosong..kosong… tiga (jadi 100031003 yang dia tulis)
Me : (mulai frustasi but too tired for this shit) sini saya tulis sendiri aja mbak

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya saya dipanggil, tapi ternyata nggak langsung menemui dokter tapi ditensi sama cek temp doang. Di sini saya merasa nafas saya agak berat dan jantung berdebar lebih kencang, tapi pas nanya ke susternya katanya tensinya normal. Pas mau balik ke ruang tunggu susternya bilang “Mau kemana? tunggu sini aja!!” jadi saya duduk lagi menunggu entah berapa lama hingga akhirnya dipanggil masuk menemui dokternya. Entah karena kelamaan duduk di kursi yang ergonomis itu atau posisi duduknya yang nggak bener, pas berdiri kaki saya kesemutan jadi jalannya agak tertatih-tatih sambil dipegangin susternya. Pas mau duduk di ruangan dokternya malah makin drama, pas megang sandaran kursinya ternyata nggak sekokoh yang saya duga dan kursinya malah kedorong jatuh. Dokternya langsung berdiri panik ikut megangin dan nyuruh saya langsung tiduran. standar pemeriksaan doktor dengan stetoskopnya, trus ngecek pemeriksaan awal susternya dan kaget ternyata suhu badan 40 derajat (saya juga ikutan kaget karena nggak merasa demam parah gitu) dan saya langsung dibawa ke UGD buat diinfus.

Singkat kata, saya disuruh opname walaupun saya sendiri merasa ini cuma demam biasa yang bisa sembuh sendiri dengan bergalon2 air dan hibernasi. Setelah proses administrasi selesai, saya dibawa ke kamar yang ternyata isinya cuma saya sendiri walaupun ini bukan kelas 1, jadi curiga disuruh opname biar ada pasien aja ck ck. Ada bagusnya juga langsung kemarin abis pulang kantor, jadi ada hiburan dengan adanya laptop, kesempatan bagus buat ngabisin film donlotan yang udah lama dianggurin. Cukup bosen juga lama2 cuma tidur-nonton film mulu dan tiap kontrol suhu badan masih berkutat di 39 derajat walau udah gonta ganti infus dan dicekokin paracetamol, satu2nya keseruan cuma pas darah naik ke infus karena terlalu lincah.

Setelah 2 hari, akhirnya ada pasien lain yang masuk meramaikan kamar. Ibu2 paruh baya, nggak tau sakit apa tapi suaranya mayan lemes dan sering ditelp anaknya yang kayanya needy (nggak tau umur berapa, kayanya sih masih TK atau lebih kecil lagi)

Baca lebih lanjut