Dilema HP


Jika ditanya benda apa yang masuk kategori ‘cant live without it’ atau simpelnya barang penting yang selalu saya bawa kemana aja, mungkin jawaban saya adalah hape. Bagi saya ini bukan hanya sebagai alat komunikasi, namun mempunyai berbagai fungsi penting dalam kehidupan sehari2 :

  1. Jam
    entah kenapa, saya nggak bisa pake jam tangan. baik yang berbahan kulit maupun logam selalu bikin tangan saya merah dan gatel2. Dan di kamar saya juga nggak ada jam karena saya tidak melihat ini sebagai sebuah kebutuhan (ya karena bisa liat di hape itu) dan males maku tembok juga sih :p
  2. Kalender
    ini malah sesuatu yang lebih nggak penting lagi buat saya. Yang saya tahu dalam keseharian cuma ini hari apa, tanggalnya nggak tau. Karena inilah biasanya saya nggak aware sama public holiday dan ngertinya dari kasak-kusuk sekitar yang ngomongin mau ngapain ketika ada hari libur (sementara aktivitas saya sih nggak jauh berbeda mau ada public holiday ataupun tidak). Tidak jarang pula tahu hari libur ketika paginya nunggu jemputan yang tak kunjung datang 😐
  3. Alarm
    Mungkin ini fungsi yang paling penting, ada alarm aja kadang nggak bangun 😐
  4. Teropong
    Mata saya minus, dan dengan kacamatapun masih ada limitasi seberapa jauh dan seberapa kecil tulisan yang bisa saya baca. Sementara saya nggak suka berada di posisi depan, terlalu mencolok dan susah kabur. Dengan adanya hape, saya bisa menggunakan kamera untuk menzoom tulisan jauh yang tidak kelihatan :p
  5. Escape Mechanism
    terjebak di meeting yang membosankan? diajak ngobrol tapi lagi males ngeladenin? voila, tinggal pura2 terima telp dan pergi muhahaha
  6. Solitary Mode
    wajib hadir di suatu acara tapi nggak pengen dideketin orang? sibuk sama gadget (browsing, chatting, etc) merupakan salah satu cara efektif biar nggak digangguin orang, sekedar swipe2 nggak jelas atau ngelamun sambil memandang layar hape juga bisa dilakukan (bahkan ketika hapemu mati). Masih tetep ada yang deketin? cek nomor 5 :p

Fungsi umum seperti telp, chatting, medsos, dan game sepertinya nggak perlu dibahas secara itu sudah merupakan fungsi utama sebuah handphone saat ini. Setelah hampir 5 tahun digunakan, hape saya mulai bermasalah. remeh sih benernya, cuma tombol power yang non responsif jadi kalo mau nyalain harus dipencet sekuat tenaga dan seiring waktu, jumlah tenaga yang dibutuhkan semakin meningkat hingga akhirnya tombol powernya jadi seperti menyatu dengan body hapenya :|. Hal ini menimbulkan masalah berikutnya, tombol powernya jadi terlalu responsif hingga ketika nggak ngapa2inpun langsung keluar notifikasi buat restart seolah tombol powernya diteken lama, dan ini lebih bikin frustasi ketimbang tombol yang nggak responsif >_<

Akhirnya saya bongkar itu hape dan saya copot tombol powernya, sepotong lakban menggantikan posisi tombol tersebut biar nggak kemasukan debu. Konsekuensinya, begitu layarnya mati harus dicolok power biar bisa stand by lagi (either tancep USB atau dicas). idle screen yang cukup lama juga ternyata cukup menguras batere walaupun brightnessnya udah diset low. Bikin repot juga kalo lagi di jalan, harus nyari colokan atau nunggu ada yg call dulu baru bisa pake hape. Sepertinya sudah saatnya mencari pengganti setelah sekian lama bersama.

Mulai browsing2 calon hape pengganti, ternyata promo2 di olshop cukup menggoda. Namun karena belum pernah belanja barang kaya gini secara online jadi rada parno sama shippingnya (cuma pernah beli barang yang tahan banting, jadi biar selama pengiriman dilempar2 nggak masalah), lagian tempat tinggal saat ini di daerah antah-berantah yang alamatnya nggak punya nomor (atau mungkin punya cuma nggak dipasang aja, macam mall gitu kayanya ga ada nomornya) bikin makin galau mau beli online atau cari di toko fisik aja, dan karena hape yang sekarang masih bisa digunakan, jadinya selow aja.

Rabu pagi, sinar mentari menembus jendela kamar mebangunkanku dari tidur yang nyenyak……. eh sinar mentari? tidur nyenyak?!! jam berapa ini?!!! terlompat panik menyadari ini udah jam 8.30!! Dalam keadaan normal sih, saya bakal tidur lagi dengan santai dan ngantor after lunch, tapi hari itu saya ada meeting jam 9. Untungnya pagi itu ada “red carpet incident” di kantor sehingga meetingnya tertunda hingga saya tiba. Tapi hal ini cukup mengkhawatirkan sih karena saya nggak pernah sekalipun nyuekin alarm jika ada agenda yang mengharuskan saya bangun pagi.

Besoknya, baru bangung jam 10 lewat!!!! tapi untungnya kamis itu public holiday :). Tapi tetep aja nggak wajar ini terjadi 2 hari berturut2, dan setelah dicek ternyata schedule alarm harian yang terset menghilang secara misterius *x-file theme playing*. Situasi yang makin serius membuat saya ke kota pada hari Sabtu untuk beli hape yang sudah diincer….. namun ternyata harganya lebih mahal 500rb!!! bahkan setelah muterin hampir semua toko yang ada dan nawar mentok, masih lebih mahal 300rb >_<. sesuatu banget mengingat beda harganya sudah termasuk ongkir kalo beli online…… jadi galau lagi deh sama bisikan “pending dulu deh, cuma masalah alarm doang, bisa diset ulang, nggak tiap hari harus bangun pagi juga kan”

Kopdar Jogja


Karena sidang kenaikan kelas yang bisa dibilang nggak terlalu ceria kemarin, saya nggak berharap banyak waktu terima rapot dan lempeng2 aja walaupun nggak naik kelas lagi, satu2nya keluhan yang saya sampaikan hanyalah selama 3 tahun ini saya belum pernah sekalipun training apapun sebagai bagian dari career development plan. keluhan ini direspon dengan diplomatis “budgetnya terbatas, diprioritaskan ke yang membutuhkan dulu”. Karena aslinya saya memang nggak terlalu butuh training dan lebih pengen jalan2 aja, saya terima saja jawaban itu walaupun deep down pengen bilang “pret!!!”

Ketika datang kerjaan baru, saya memanfaatkan momen ini buat nolak assignment dengan alasan “saya nggak bisa pak, kasih ke orang lain yang udah pernah ditraining ini aja” dengan harapan pergi training ato ga perlu ngerjain. Singkat cerita, akhirnya saya bisa jalan2 ke jogja :). hingga hari H, saya menghabiskan waktu di kantor buat nyari lokasi hotel yang strategis buat makan, jalan2, dan mengatur jadwal yang efektif sekaligus merencanakan jumpa fans dengan jogjaers.

mengetahui hal ini, ternyata jakartaers juga pengen ikutan sehingga akhirnya saya memutuskan untuk memisahkan diri dari rombongan dan mampir ke Jakarta sebelum kembali ke hutan :). Karena perubahan rencana yang cukup dadakan dan cuma sempat dipublikasikan di hari terakhir, diperparah dengan charger yang ketinggalan di kereta membuat event jumpa fans jakarta bertemakan “Tag Game” dimana saya akan keluyuran di 1 tempat saja selama waktu yang ditentukan, menunggu untuk ditemukan :p

Tak disangka, dengan kondisi seperti itu ternyata masih ada yang berhasil memenangkan game ini dan mendapatkan hadiah makan bareng (awalnya mau nonton bareng, tapi waktunya tidak mencukupi)

Bagi yang gagal di hari itu, saya menjanjikan jumpa fans berikutnya yang awalnya saya perkirakan baru bisa terwujud menjelang akhir tahun atau malah di tahun 2018…… Namun alam semesta sepertinya punya rencana lain karena pada suatu malam, ketika lagi asik main game online tiba2 si bos telp/

Boss : besok pagi kamu nggak usah dateng ke kantor
Me : (dipecat? ga konsen, masih fokus di game) mmm?
Boss : langsung ke hotel [salah satu hotel] aja
Me : ngapain?
Boss : ada meeting sama orang [salah satu instansi]
Me : kok nggak di kantor aja, kan kita ada meeting room?
Boss : sama orang [salah satu instansi] ini
Me : (lagi war, lost focus lagi) memangnya kenapa? kan bisa ke kantor aja?

Saya nggak nyadar jeda waktu pertanyaan terakhir berapa lama, ternyata udah end call dan saya ngomong sendiri di pertanyaan terakhir. Besoknya ketika nyampe di hotel, saya juga baru nyadar kalo nggak tau meetingnya di ruangan mana dan harus ketemu sapa, dan udah lupa juga sama nama instansinya :|. Untungnya pagi itu pake seragam kantor, jadi ada yang mengenali dan diarahkan ke tempat yang seharusnya yang ternyata agendanya bukanlah meeting tapi semacam demo dan presentasi. Yang terjadi setelah itu lebih mirip sidang TA dimana presenternya terlihat kebingungan menjawab pertanyaan2 dan berusaha menghubungi “orang pusat” tanpa hasil.

Karena hingga akhir minggu masih belum mendapatkan hasil yang memuaskan, akhirnya diputuskan untuk mendatangi kantor pusatnya langsung di Jakarta yang artinya bisa sekalian jumpa fans Jakarta. Sayangnya karena status saya cuma diboyong sebagai tukang tanya2 dan budgetnya dari departemen lain, saya nggak mendapatkan informasi lengkap mengenai jadwal keberangkatan, tempat nginep, dan informasi lain untuk merencanakan proper meet up seperti di Jogja kemarin. and this lead to a drama,….. a lot of drama (bersambung)

Cat Lessons


Melanjutkan kisah sebelumnya tentang bagaimana gw akhirnya mengadopsi (lebih tepatnya semacam buka daycare, bukan adopsi sih secara masih induknya yg ngasih makan) triplets. Tidak seperti kuro & shiro yang terlantar di postingan kemarin, triplets tidak ditelantarkan sama induknya. Si Gembul (salah satu anggota geng lunch cats, ternyata itu bukan obesitas biasa) cuma tidak bijak dalam memilih lokasi untuk merawat anak2nya (pojokan tempat para pekerja bangunan biasa lempar2 pecahan kayu, batu, dan genteng) dan sering keluyuran meninggalkan anaknya tanpa pengawasan sementara disini ada banyak satwa liar macam ular, biawak, dan babi hutan berkeliaran hingga akhirnya gw memutuskan untuk memindahkan mereka ke tempat yang lebih aman, di kamar gw sendiri dan under supervision.

Gw menempatkan ketiganya di kotak sepatu beralaskan pakaian bekas, sebagian besar waktunya digunakan untuk merayap hingga mendapati objek empuk terdekat (bisa bantal, bola karet, ato sodaranya sendiri) dan tidur.

triplets di kotak sepatu

Siangnya, geng lunch cats ngantri di depan pintu seperti biasa menunggu makanan sisa dan gw tunjukin triplets di kotak sepatu ke si Gembul sambil ngasih tau berharap dia ngerti bahasa indonesia. Dia (dan 2 temennya) ngeliatin isi kotak sepatu itu dengan bingung, lalu si gembul melihat pojokan yang jaraknya cuma beberapa meter dari kamar gw (deket bgt, gw pungut gara2 denger tangisan mereka yang mungkin kepanasan) lalu pergi kesana.

Lesson 1 : mata kucing kayanya ga bagus (atau dia cuma lelet dan mau konfirmasi itu memang anaknya)

Anehnya, temen2nya juga ikut dia ke pojokan dan kembali lagi (entah mau nemenin doang, ikutan konfirmasi, ato cuma ngikutin doang ngira ada makanan disana) dan mengendus2 triplets, temennya juga mau ikutan ngendus, tapi si gembul tiba2 mendesis galak dan mengusir temen2nya (gw ikutan kaget waktu dia tiba2 mendesis dan mengusir mundur kucing2 lain) kemudian menjilati anaknya (mereka jadi bangun terus ribut nguik2 sambil saling dorong)

Lesson 2 : kucing protektif sama anaknya dari kucing lain

Biar gampang dan ga kehalang kardus, gw pindahin triplets ke lantai dan mereka langsung merayap dengan mata terpejam ke si gembul dan minum susu dengan beringas (saling dorong, saling panjat, dan pindah2 lokasi dengan agresif. maybe this is why cat have 6 tits) dan si gembul selonjoran santai tapi tetap menatap galak ke arah temen2nya dan mendesis tiap mereka bergerak mendekat. Begitu gw menuangkan makanan ke tempatnya, dia langsung bangun menghampiri sambil NYERET anak2nya (copot 1 di tengah jalan sementara 2 lagi somehow masih nempel), trus pas temen2nya mau ikutan makan juga tiba2 dia meraung ganas, nyakar, dan ngejar pas temennya lari ketakutan sampe 2 ekor anaknya yang lagi bergelantungan kelempar (shocking scene, lebih mendebarkan dari film horor)

Lesson 3 : makanan itu no 1 buat mama kitty, lebih protektif sama makanan ketimbang sama anaknya

pelajaran yg gw petik dari kejadian ini, jangan kasih makan si gembul dulu sebelum dia selesai menyusui anak2nya soalnya ada kemungkinan dia langsung pergi dengan santainya abis makan :|. Di siang hari gw biasanya buka pintu kamar biar nggak gerah jadi si gembul bebas keluar masuk ngurusin anaknya yg emang gw tempatin di deket pintu. Kadang dia sampe ketiduran waktu ngasih makan triplets, tapi seringnya sih dia minggat waktu triplets selesai makan.


si gembul mode sayang anak

Malam hari gw tutup pintu kamar biar ga banyak nyamuk, jadi si gembul ngeong2 kalo mau masuk. Hal ini lumayan nyebelin soalnya abis dibukain pintu dan anak2nya lagi tidur, dia ngeong2 lagi minta keluar, dan ga sampe 15 menit ngeong2 lagi minta masuk!!! Salah satu yang entah kenapa bikin si gembul betah di kamar dan nggak keluar masuk adalah “The Voice” atau apapun yang ada solo singernya, kadang ikutan “auuu auuu” juga sambil menatap layar televisi. Triplets juga akhirnya gw pindahin ke kardus TV karena si gembul ngotot mau ikutan masuk ke kotak sepatu 😐 muat sih anehnya cuma gw nggak yakin triplets bisa napas di bawah si gembul.awalnya gw malah teriak kaget pas si gembul tiba2 lompat masuk ke kotak sepatu, dan merasa lega setelah ngusir si gembul dan melihat anak2nya masih idup setelah didudukin gitu.

Lesson 4 : badan kucing itu macam jeli, bisa menyesuaikan diri sama tempatnya. distribusi bobotnya masih dipertanyakan

Problem utama dalam merawat triplets adalah induknya sering menghilang entah kemana, jadi gw bingung juga nyariin kalo anak2nya rewel minta makan walaupun biasanya hal ini nggak berlangsung lama. setelah saling panjat dan mencoba mengunyah kuping sodara2nya, mereka kembali tidur. tapi kayanya ini bukan healthy behaviour, jadi gw berusaha mencari cara agar mereka nggak kurang gizi. sedotan dan pipet terbukti tidak efektif dan cuma bikin mereka basah sama batuk2 aja. Saat itu gw teringat sama Garfield the next door cat dan muncul pemikiran radikal berdasarkan beberapa fakta
– triplets masih belum bisa buka mata, jadi harusnya mereka nggak bisa liat apa
– by default merayap dan mengunyah objek terdekat kalo mau makan, baik itu kaki gw ataupun muka sodara2nya
– Garfield juga punya anak 3, sementara colokannya ada 6

Jadi pertanyaannya, “apakah kucing itu punya fitur plug n play?” sehingga triplets bisa numpang makan ke colokan yang lagi nganggur.

Dan jawabannya adalah……..

Lesson 5 : kucing itu punya fitur plug n play

masih nggak jelas colokannya universal atau nggak, mungkin buat yang punya piaraan lain seperti bayi hamster atau marmut bisa dicoba colokin ke kucing terdekat 😐

e-KTP


Postingan ini nggak ada hubungannya dengan polemik e-KTP yang lagi marak sekarang, murni opini tentang KTP secara general, baik e-KTP maupun predesesornya

Sebelum era e-KTP

pertama kali punya KTP dulu itu…… jujur saja saya udah nggak ingat gimana prosesnya, tapi sepertinya merupakan sesuatu yg spesial sebagai simbol kedewasaan, bisa bikin SIM, bisa nyoblos, bisa buka rekening sendiri (eh sebelum punya KTP juga bisa buka rekening pake kartu pelajar sih). Tapi selanjutnya ketika saya mulai merantau dan hidup nomaden, benda satu ini menjadi sesuatu yang merepotkan dan memunculkan pertanyaan2 random seperti

1. Masa berlaku
masa berlaku KTP dulu itu 4 tahun, kenapa harus ada masa berlakunya? apakah setelah 4 Tahun itu jika tidak diperpanjang maka kita bukan penduduk Indonesia lagi? Kartu Mahasiswa aja nggak ada masa berlakunya dan ketika kita lulus maka kartu mahasiswa tersebut harus dikembalikan sebagai salah satu syarat kelulusan. Harusnya KTP gitu juga dong ya, nggak pake masa berlaku dan harus dikembalikan ketika kita pindah warga negara.

Kalo SIM masih bisa dimengerti sih, sifatnya sebagai surat ijin harus diperbarui dan jika expired maka tidak boleh berkendara di jalanan. Lha kalo KTP expired gimana? nggak jelas kegunaan dan konsekuensinya. Kenyataan bahwa saya bisa tetap hidup normal dengan KTP expired selama 8 tahun lebih membuktikan hal ini, nggak pernah merasakan yang namanya razia KTP.

2. Lokasi pembuatan
OK lah, saya terima saja bahwa KTP itu wajib diperbaharui walaupun nggak jelas tujuannya. Namun kenapa juga harus repot diperbaharui di tempat asal jika seharusnya ID card ini berlaku seIndonesia. Hal ini sangat menyusahkan perantau, apalagi yang beda pulau seperti yang saya alami dulu. Untuk buat baru bisalah dengan alasan biar bisa divalidasi keabsahannya, harus di kota asal dengan konfirmasi RT RW sampai kecamatan tempat tinggal. Tapi untuk update masa berlaku doang harusnya nggak perlu serepot itu kan, i mean jauh2 dari Bali ke Sulawesi (berat di ongkos, lama di jalan) cuma buat perpanjang KTP doang itu sesuatu banget >_<

3. Area berlaku
Awalnya saya kira KTP ini berlaku seIndonesia, ketika kuliah di Jawa juga buka rekening bank bisa menggunakan KTP dari mana saja. Namun di Bali ternyata nggak seperti itu, kekuatan KIPEM itu mengalahkan KTP. Nggak salah deh joke Bali itu beda dengan Indonesia dimana bule itu lebih ngerti yang namanya Bali ketimbang Indonesia. Saya menghabiskan waktu 5 tahun di Bali dengan KTP yang expired hanya dengan mengandalkan KIPEM untuk bepergian, baik lewat udara (waktu checkin di airport cukup nunjukin KIPEM) maupun laut (buat yang pernah naik bis Jawa-Bali, pasti pernah merasakan pengecekan abis nyebrang)

4. Legalitas
Bagaimana cara mengecek legalitas sebuah KTP sebelum era KTP Online? kayanya nggak bisa ya? karena waktu mendapati 3 masalah sebelumnya saat mau perpanjang KTP, saya akhirnya mencoba “jalur lain” untuk membuat KTP dimana cuma dibutuhkan biodata dan pasfoto (yep, bahkan nggak perlu dateng ke kantornya buat foto), dalam waktu 1 minggu sudah jadi itu KTP. beberapa datanya ngaco sih (ngasal aja kayanya ngasih agama, nggak sesuai apa yg ditulis. alamatnya juga ga tau fiktif atau nyata). Tapi KTP ini diterima di bandara, bank, dan bahkan bisa buat bikin passport lho. So akhirnya saya jadi punya 2 KTP dengan nomor yang berbeda sebelum era e-KTP.

era e-KTP

ketika mendengar tentang e-KTP, saya cukup tertarik secara KTP saya sudah expired sejak 2013 dan status saya sebagai warga negara Indonesia bisa dibilang nggak jelas. saya masih bisa keluyuran antar pulau di Indonesia tapi nggak bisa ke luar negeri karena bikin paspor butuh KTP. karena sebutannya “online”, saya kira itu artinya bisa bikin dimana saja selama bisa nunjukin KK, KTP lama, dan mungkin keterangan tinggal dari tempat kira berada saat ini. ternyata itu SALAH!!!, tetap harus dibuat di kota asal juga (padahal ini yang bikin males perpanjang KTP) >_<

berhubung waktu itu salah satu motif pengen bikin KTP selain karena embel2 "online" yang ternyata bukan berarti beneran bisa dibikin dimana saja selama ada koneksi ke server pusatnya, juga biar bisa perpanjang paspor semisal ada kesempatan jalan2 gratis dadakan. Akhirnya seperti sebelumnya, i turn to the dark side saya mencoba jalur lain yang oleh orang sini disebut “KTP tembak”. Ternyata masih bisa dilakukan selama data kita belum terdaftar di KTP online, tapi harganya jadi jauh lebih mahal. doi minta 600 rb untuk KTP dan KK dimana 1 KK minimal 2 orang. jadi kalo kita mau bikin 1 KTP tembak, maka ntar KKnya digabungin sama nama orang lain yang juga bikin KTP tembak (entah hubungan keluarganya dibikin apa itu, i cant even imagine). Saya nggak sreg dengan penggabungan KK ini (dan juga sama harganya sih, dulu bikin KTP tembak cuma 150rb soalnya), membatalkan niat perpanjang paspor (yeah, i can lose my interest and abandon my plan easily) dan merencanakan sesuatu yg lebih besar …….. (bersambung)

flash news : tanggal 9-13 saya bakal berada di jogja dalam rangka book tour, jadi yang mau ngasih donasi, minta tanda tangan, ngajak talk show, ato sekedar ketemuan aja bisa japri langsung 🙂

Kebodohan di Pagi Hari


Mungkin karena sudah mulai berumur atau pada dasarnya emang males aja, saya nggak suka menggunakan tangga. Naik 1 lantai lewat tangga aja udah merasa capek, turun masih nggak masalah sih tapi tetep males juga. Mungkin jika ada kebakaran dan lift tidak bisa digunakan, saya bakalan lompat dan meluncur dengan ombak manusia kaya di konser2 metal gitu. Bikin tiang seluncur macam di markas pemadam kebakaran juga kayanya asik (jadi ngelantur). Intinya saya biasanya lebih suka pake lift di kantor biarpun cuma selantai.

Pagi ini, seperti biasa saya memasuki lift dengan segelas kopi di tangan, mencet tombol kemudian bersandar sambil merem. Aslinya saya nggak begitu suka lift juga dan biasa mendistraksi diri dengan memejamkan mata atau fokus ngeliatin yang lain (entah tombol lift atau bacaan apapun yang ada di lift) untuk meredam perasaan aneh di perut waktu lift sedang bergerak. Masih pagi juga jadi saya butuh sering2 berada di “mode stand by” buat ngumpulin nyawa sampe melek 100%, itulah alasan saya bikin kopi. cuma buat dihirup aromanya aja karena saya juga bukan seorang penikmat kopi (ngelantur lagi)

Back to the story, saya bersandar dan menunggu lift mengantarku ke lantai tujuan. Anehnya kali ini saya tidak merasakan sensasi aneh itu, whateverlah justru bagus kalo gitu (masih pagi biasanya males mikir, mau ada gempa juga whatever pasti). Tapi setelah menunggu cukup lama kok nggak ada suara “ding” pintu lift kebuka ya?……

Baca lebih lanjut

Giveaway


Gw bukan tipe orang yang terlalu peduli sama materi, contohnya awal2 gw pindah ke Bali dulu, selama 3 bulan pertama gw tinggal di sebuah kamar yang hanya berisi kasur dan guling doang dan sama sekali nggak membeli perlengkapan lain seperti meja, kursi, ataupun seprei!! bahkan baju2pun nggak dikeluarin dari travel bag biar praktis seandainya gw harus kabur dari grebekan memutuskan untuk move on ke kota lain (pindah ke Bali sendiri waktu itu adalah aksi impulsif, bisa dibilang pelarian lah :p). Pastinya setelah settle, kamar gw mulai penuh dengan hadirnya lemari, meja, PC, dan aneka barang lainnya hingga waktu mau pindahan aja kardus buku gw beratnya udah 10kg lebih >_<

Waktu mau pindah, gw posting foto barang2 di kamar mulai dari lemari, monitor, sampe galon di gugel plus (waktu itu masih ngetren) yang cukup mengejutkan banyak pihak waktu itu karena sebelumnya nggak ada tanda2 gw mau resign. jadi last day gw di kantor dihabiskan dengan membalas PM yang menanyakan harga dan kondisi barang di postingan itu, ternyata banyak yg nggak aware kalo nggak ada label harga di postingan tersebut itu intentional karena emang niatnya adalah giveaway dan bukannya jualan, sampe ada yg komen “masa yg kaya gitu dijual”. But in the end, semuanya mendapatkan owner baru dan tidak terbuang percuma. So walaupun nggak materialistis, masih ada perasaan “dibuang sayang” jauh di lubuk hati ini *hoex*

Beberapa tahun berselang, gw dapet doorprize berupa kompor dimana waktu itu gw diserbu gerombolan ibu2 yg rupanya dari awal sudah mengincar hadiah tersebut. Di satu sisi sih mereka memang benar, hadiah itu nggak bakal kepake ama gw secara gw tinggal sendirian dan jarang masak. Untuk masakpun gw biasanya cuma mengandalkan magic jar yang ternyata benar2 multifungsi, bisa buat masak nasi, mi instan, sop, sampai buat nggoreng (kalo males keluar pas wiken biasanya deep fried kentang goreng sama nugget :D), sementara kalo pake kompor harus beli LPG dan ganti tabungnya cukup repot. Namun mau dijualpun gw males tawar-menawar sama rombongan ibu2 kalap jadi gw cepet2 kabur dari acara sebelum dikerubungin dan beresiko ga bisa pulang dengan selamat
Keesokan harinya, sepertinya bapak2nya sudah mengemban amanat dari sang istri tapi cara pendekatannya teramat sangat pasif walaupun sebelum jam makan siang gw udah disamperin oleh 4 org.
Pagi2, baru nyampe kantor :

A : kompornya nggak dijual?
Me : boleh klo mau beli
A : ok nanti saya kabari (ga ada kabar lagi sampe pulang)

agak siangan dikit

B : apa kabar?
Me : baik
B : kompornya gimana?
Me : baik juga
B : *pergi*
Me : ….. (WTF was that?)

trus pas gw ke WC

C : kompornya ada rencana dijual?
Me : boleh klo mau beli
C : dijual berapa?
Me : buka harga aja
C : ok nanti saya liat2 dulu
Me : (liat2 mana? toko sebelah?)
C : *pergi*
Me : … *speechless, itu ngikutin gw ke WC buat nanya gitu doang??!!*

dan usaha yang paling maksimal sekaligus paling nyebelin, menjelang lunch break

D : mau dijual berapa kompornya?
Me : bapak buka harga deh
D : 50rb gimana?
Me : bah yg bener aja pak, tabung LPGnya aja ga boleh segitu
D : 55rb deh
Me : *ketawa doang trus gw tinggal early break, nawar becanda doang kayanya*

nggak ada follow up lagi dari 4 org itu sampe pulang, gw jg woles sih secara nggak ada urgency juga buat jual cepat.malah sejujurnya gw sendiri nggak tau berapa harga pasaran kompor, mungkin sekitar 200-300rb kali ya. 2 hari kemudian, rekan kerja yg duduk di sebelah kubikel gw pulang dari cuti

E : kabarnya pas family gathering kmrn menang doorprize
Me : iya (wow br pulang cuti pdhl, kok bisa tau)
E : ada niat dijual nggak kompornya?
Me : boleh, mau beli berapa?
E : 150rb ya, harga teman
Me : ok

case closed gw pikir,…. yang ternyata malah merupakan awal dari sesuatu yg lbh ribet karena siangnya si A dan D menghampiri…..

A : denger2 kompornya sudah dijual ya?
Me : iya tadi pagi ditawar sama pak E
A : kok buru2 amat dijual
Me : ya ngapain juga lama2?
A : ya kan bisa diemail dulu ke semua biar pada tau
Me : perasaan semua dah tau deh, wong pak E yang ga ikut fam gath aja tau kok
C : * tiba2 mendekat dan ikut nimbrung* dijual berapa emang?
Me : 15b rb
D : gitu ya, kemarin saya nawar nggak dikasih, sama si E dikasih
Me : lha situ nawarnya 50rb
C : wah parah lu
D : ya namanya juga nawar, udah dinaikin juga kok
Me : naik goceng doang!!, kirain becanda itu nawarnya
D : gitu ya ternyata
B : iya cukup tau aja deh pokoknya (yg ini duduknya di belakang gw)
Me : (dunno what that means) apa pula ini ikut2an, nawar juga nggak
B : ya biar rame aja, cukup tau lah
E : *baru balik lunch* ada apa ini kumpul2 disini?
D : nah ini dia, sudah dibeli ya kompornya
E : iya tadi pagi 150rb
D : blm serah terima barang kan? jual ke saya aja 155rb. rugi lho 150rb itu
B : 15500!!! *dari nadanya sih becanda doang ini kayanya*
Me : 150rb dibilang rugi, situ malah kmrn nawar 50 rb
E : wah nggak bisa, sudah deal kita tadi pagi
D : kan belum salaman, blm sah itu
Me : *keluar,pura2 ada panggilan di HP. dont want to be involved in this shit*

dan hingga seminggu ke depan, kompor menjadi trending topic (tapi gw nggak terlalu peduli jg sih benernya :p)
lain kali kalo dapet doorprize lagi gw jual via kaskus aja biar ga ribet

SPT2017


Tiba kembali saat pelaporan pajak tahunan saat amplop formulir 1721-A1 dibagikan oleh finance, dan karena tahun lalu saya sudah bikin EFIN maka tahun ini saya berniat untuk mencoba isi SPT secara online mengingat akhir2 ini sering hujan dan lokasi kantor pajak yang lumayan jauh, belum lagi males ngantrinya. Walaupun sudah lupa passwordnya, tapi untungnya DJP online menyediakan fitur bagi yang lupa password.

Entah karena sudah diimprove atau karena lagi awal bulan dan belum banyak yang akses, situsnya bisa diakses dengan mudah dan cepat, bahkan sampai selesai submit nggak ada error sama sekali. Pengisiannya juga cukup mudah dengan adanya wizard yang membantu proses pengisian, tinggal klik sana sini dan otomatis diarahkan ke form yang sesuai (1770S atau 1770SS)
E-Form

Perhitungannya juga dilakukan secara otomatis sehingga kita tidak perlu mengetik manual besar PPh yang kita bayarkan (jadi nggak terlalu nyesek lah), bisa nyantai2 di rumah juga dengan memanfaatkan ijin ngurus pajak hehe. Buat yang masih ngisi manual dan bingung dengan perhitungannya, tutorial cara ngisi SPT yang pernah saya posting dulu itu sudah nggak valid lagi dengan perubahan PTKP 2016 berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak No. PER-16/PJ/2016, Peraturan Menteri Keuangan No. 101/PMK.010/2016 dan No. 102/PMK.010/2016 mengenai Penyesuaian Besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP), besarnya PTKP sekarang adalah :

  • Rp 54.000.000,- per tahun atau setara dengan Rp 4.500.000,- per bulan untuk wajib pajak orang pribadi.
  • Rp 4.500.000,- per tahun atau setara dengan Rp 375.000,- per bulan tambahan untuk wajib pajak yang kawin (tanpa tanggungan).
  • Rp 4.500.000,- per tahun atau setara dengan Rp 375.000,- per bulan tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus atau anak angkat, yang menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak 3 (orang) untuk setiap keluarga.

contoh perhitungan pajak menggunakan studi kasus yang ada di situs pajak sbb :

Sita Rianti adalah karyawati pada perusahaan PT. Onix Komunika dengan status menikah dan mempunyai tiga anak. Suami Sita merupakan pegawai negeri sipil di Kementrian Komunikasi & Informatika. Sita menerima gaji Rp 6.000.000,- per bulan.

PT. Onix Komunika mengikuti program pensiun dan BPJS Kesehatan. Perusahaan membayarkan iuran pensiun dari BPJS sebesar 1% dari perhitungan gaji, yakni sebesar Rp 30.000,- per bulan. Di samping itu perusahaan membayarkan iuran Jaminan Hari Tua (JHT) karyawannya setiap bulan sebesar 3,70% dari gaji, sedangkan Sita membayar iuran Jaminan Hari Tua setiap bulan sebesar 2,00% dari gaji. Premi Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JK) dibayar oleh pemberi kerja dengan jumlah masing-masing sebesar 1,00% dan 0,30% dari gaji.

Pada bulan Juli 2016 di samping menerima pembayaran gaji, Sita juga menerima uang lembur (overtime) sebesar Rp 2.000.000,-.

hasilnya sbb :

Gaji Pokok 6.000.000,00
Tunjangan Lainnya (jika ada) 2.000.000,00
JKK 0.24% 14.400,00
JK 0.3% 18.000,00
Penghasilan bruto (kotor) 8.032.400,00
Pengurangan
1. Biaya Jabatan: 5% x 8.032.400,00 = 401.620,00 401.620,00
2. Iuran JHT (Jaminan Hari Tua), 2% dari gaji pokok 120.000,00
3. JP (Jaminan Pensiun), 1% dari gaji pokok, jika ada 60.000,00
(581.620,00)
Penghasilan neto (bersih) sebulan 7.450.780,00
Penghasilan neto setahun 12 x 7.450.780,00 89.409.360,00
Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) 54.000.000,00
(54.000.000,00)
Penghasilan Kena Pajak Setahun 35.409.360,00
Pembulatan ke bawah 35.409.000,00
PPh Terutang 
5% x 50.000.000,00 1.770.450,00
PPh Pasal 21 Bulan Juli = 1.770.450,00 : 12 147.538,00

Keterangan :

(i) Tunjangan lainnya seperti tunjangan transportasi, uang lembur, akomodasi, komunikasi, dan tunjangan tidak tetap lainnya. Umumnya tunjangan tersebut dapat diberikan oleh perusahaan atau tidak, tergantung dari kebijakan perusahaan itu sendiri.

(ii) Iuran Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) berkisar antara 0.24% – 1.74% sesuai kelompok jenis usaha seperti yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 76 Tahun 2007. Di OnlinePajak, tarif iuran JPP yang diterapkan adalah tarif JKK yang paling umum dipakai perusahaan-perusahaan yaitu 0.24%.

(iii) Biaya Jabatan sebesar 5% dari Penghasilan Bruto, setinggi-tingginya Rp 500.000,- sebulan, atau Rp 6.000.000,- setahun

(iv) Jaminan atau Iuran Pensiun ditentukan oleh lembaga keuangan yang pendiriannya disahkan dalam Peraturan Menteri Keuangan dan ditunjuk oleh perusahaan. Jumlah persentase yang diterapkan di sini adalah 1%.

(v) Penghasilan Neto: Jika pegawai merupakan pegawai lama (lebih dari satu tahun) atau pegawai baru yang mulai bekerja pada bulan Januari tahun itu, maka penghasilan neto dikalikan 12 untuk memperoleh nilai penghasilan neto setahun, namun jika pegawai merupakan pegawai baru yang mulai bekerja pada bulan Mei misalkan, maka penghasilan neto setahun dikalikan 8 (diperoleh dari penghitungan bulan dalam setahun: Mei-Desember = 8 bulan). Pada contoh ini diasumsikan pegawai merupakan pegawai baru yang mulai bekerja pada bulan Januari.

(vi) Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) berfungsi untuk mengurangi penghasilan bruto, agar diperoleh nilai Penghasilan Kena Pajak yang akan dihitung sebagai objek pajak penghasilan milik wajib pajak.

Pada contoh ini WP sudah menikah dan memiliki 3 tanggungan anak, namun karena suami WP menerima atau memperoleh penghasilan, besarnya PTKP WP Sita adalah PTKP untuk dirinya sendiri (TK/0).

(vii) Penghasilan Kena Pajak harus dibulatkan ke bawah hingga nominal ribuan penuh, atau 3 angka di belakang (ratusan rupiah) adalah 0. Contoh: 56.901.200,00 menjadi 56.901.000,00.

Ribet ya, makanya isi online aja biar ga pusing ngitung2 manual, belum lagi nyari kode jabatan dan kode2 lainnya pas ngisi form excel manual