Dentistphobia


Dokter gigi adalah salah satu profesi halal yang saya takuti sejak kecil, scary levelnya di atas badut dan polisi buat saya waktu itu. Walaupun saya sangat jarang mengunjungi dokter gigi, tapi berada di ruang tunggunya saja sudah memberikan efek gelisah yang luar biasa, bahkan ketika saya cuma menemani orang lain kesana dan bukan berstatus sebagai pasien. Dan pengalaman sebagai pasien selalu berakhir sebagai pengalaman traumatis yang penuh dengan raungan, darah dan air mata :p

Jujur saja, saya sama sekali tidak ingat apa saja yang terjadi di ruang periksa waktu saya kecil dulu. Tapi katanya butuh 3 orang buat megangin waktu cabut gigi, padahal umur saya waktu itu belum genap 7 tahun. Saking traumanya, sejak kelas 2 SD saya selalu sembunyi2 jika ada gigi yang goyang dan memilih untuk dicabut sendiri daripada ke dokter gigi. Caranya cukup bervariasi sih, bisa pake tangan, copot sendiri waktu makan, bahkan waktu tidur hahaha. Kekurangan cara ini adalah nyabutnya harus nunggu kondisi gigi benar2 goyang jadi tinggal senggol dikit udah kecabut sendiri :p. Tidak jarang gigi yang baru sudah mulai muncul sedangkan gigi lama masih belum dicabut, sehingga posisi gigi agak sedikit berantakan :p (prinsipnya dulu rapi itu urusan belakang, yang penting nggak ke dokter gigi :p), Waktu kecil  saya juga rajin mengkonsumsi permen kalsium, entah benar2 berguna untuk menguatkan gigi atau tidak, yang pasti hingga saat ini gigi saya yang sudah pernah dicabut hanyalah gigi seri dan 2 gigi taring, sedangkan yang lainnya masih gigi susu.

Dan setelah sekian lama, saya masih takut sama dokter gigi hahaha. Terakhir kali saya ke dokter gigi ya waktu kelas 2 SD itu, itu juga dipaksa karena gagal sembunyi2 waktu sakit gigi hiks. Eh, technically itu bukan terakhir kali saya ke dokter gigi ding, belasan tahun kemudian ketika saya sudah berada di Bali, saya ikutan temen konsultasi ke dokter gigi, tapi murni konsultasi untuk membahas gigi geraham saya yang tampak baru tumbuh padahal usia saya sudah lebih dari 20 tahun waktu itu ,bahkan saya menolak ketika si dokter menawarkan untuk memeriksa gigi saya waktu itu :p

Karena saya rasa tidak mengganggu, maka gigi geraham mungil yang tampak tumbuh di bagian mulut paling belakang itu saya biarkan saja. Namun akhir2 ini mulai muncul masalah, kadang2 gigi itu terasa ngilu, bahkan ketika saya tidak sedang melakukan apa2. Dan karena asuransi saya kali ini juga cover gigi, maka saya memberanikan diri untuk konsultasi ke dokter gigi mengenai masalah ini . kalo nggak dicover sih kayanya berat melakukan 2 hal yang dibenci (ke dokter gigi dan buang2 duit) pada saat yang bersamaan :|. Pada akhirnya saya disuruh rontgen dimana akhirnya terlihat bahwa geraham mungil tersebut ternyata tidak semungil yang terlihat, yang muncul di atas gusi hanyalah sebagian mahkota giginya sementara sebagian besar bagian yang lain terkubur di dalam gusi dan final decisionnya adalah gigi tak berdosa itu harus dilenyapkan dari muka mulut saya :((

Scumbag Teeth

Scumbag Teeth

Sebuah keputusan yang berat buat saya, bahkan berulang kali saya mencoba meyakinkan diri untuk menunda hal ini dengan berbagai alasan (mulai dari alasan bodoh yang terdengar logis hingga alasan bodoh yang memang terdengar bodoh :hammer:) hingga akhirnya saya berkata dalam hati “Its time to say goodbye to this wisdom teeth, I hope its a wise decision” . Hari yang dinanti akhirnya tiba, setelah dibuat menunggu dengan gelisah selama lebih dari 30 menit, saya dipersilahkan masuk untuk…… tensi!!!! dan setelah itu disuruh nunggu lagi sementara saya bertanya2 ngapain kok pake ditensi segala padahal seingat saya dulu cabut gigi ga perlu aneh2 gini. Tapi walaupun sudah dibuat cemas dan parno gitu, ternyata proses cabutnya sendiri tidak menyakitkan kok. Bahkan saya tidak merasakan apa2 ketika benda2 metalik itu menjelajah isi mulut saya, ketika tangan sang dokter tampak melakukan gerakan menarik2 dan mencongkel, dan ketika suara klotak2 itu terdengar keras di kepala saya. Semuanya bagaikan terjadi di tempat lain, mungkin itu hanya tukang ledeng yang lagi benerin pipa bocor di ruangan sebelah. Tapi meskipun saya tidak bisa merasakan mulut saya diobok2, saya tahu semua itu benar2 terjadi karena anastesi itu tidak menghapus bau dan rasa darah (vampire mode on)

Proses cabutnya ternyata memakan waktu cukup lama, lebih dari 30 menit. Efek biusnya malah lebih lama sebab selama lebih dari 10 menit setelahnya saya masih tidak merasakan apa2 ketika mengigit bola kapas dengan masih meneguk darah sendiri sambil menatap potongan gigi di atas loyang. Dokternya sendiri membekali saya dengan 2 bola kapas untuk digunakan dengan interval 30 menit dan jatah painkiller untuk 3 hari sambil berkata “obatnya jangan lupa diminum, kalo nggak ntar malem bakal gulung2 lho”, dan kemudian menawarkan potongan gigi itu untuk dibawa pulang ketika melihat saya masih terdiam kaku =)) . Demikianlah perpisahan saya dengan sang geraham bungsu, wise -1, brave +1. Semoga perubahan stat ini berdampak positif untuk hari2 ke depan

nb : malemnya saya terbangun sambil gulung2, ternyata dokternya nggak becanda waktu ngomong itu >_<

6 thoughts on “Dentistphobia

  1. hadeeeh, i know what u feel daaah, itu rasanya abis dicabut bener2 gulung2 daaah, anak ampe diungsiin ga boleh deket2 emaknya, saking emaknya cuman bisa nungging doang nahan sakit
    enak bener sih di cover u dokter giginya huhuhu *inget pengeluaran waktu itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s