day #10 : childhood memory


Ngomongin soal kenangan masa kecil mah bisa jadi postingan yang tak ada habisnya saking banyaknya memori yang ada (duh jadi merasa udah tua), tapi karena fotonya adalah kucing kecil dan sepeda maka random memory yang diambil adalah yang berhubungan dengan sepeda tentunya.

kitties n bike

kitties n bike

Seperti yang telah diketahui, saya baru bisa naik sepeda waktu SMA (iya, telat banget emang). Bukan berarti waktu kecil saya nggak pernah belajar sepeda, sering banget malah, namun semuanya merupakan pengalaman pahit yang selalu berakhir tragis >_<.

Layaknya anak kecil pada umumnya, pengalaman bersepeda saya dimulai dari sepeda beroda tiga. Tidak ada bukti otentik soal ini secara tidak ada foto dan bahkan tidak ada sepeda roda tiga di rumah saya, tapi samar2 saya ingat bahwa di masa balita saya pernah mengendarai sepeda roda tiga (entah ini ingatan yang keliru, sepedanya udah dijual, atau saya membajak sepeda balita lain).

Waktu SD saya dibelikan sepeda beroda empat, walaupun kakinya nggak bisa nginjak pedal dengan sempurna (lepas saat posisi pedal di paling bawah) tapi masih bisa memberikan pengalaman bersepeda yang indah. Track balap saya waktu itu masih di seputeran rumah aja yang berupa jalan sempit (2 sepeda aja nggak muat) dengan deretan rumah di sebelah kanan dan sungai di sebelah kiri.

Setelah beberapa bulan, diputuskan bahwa ini adalah saatnya meningkatkan difficulty level ke tahap yang berikutnya dengan mencopot salah satu ban kecil di sepeda saya (jadi roda tiga lagi deh). Awalnya sih hal ini sepertinya tidak memberikan perubahan berarti, saya masih bisa naik sepeda dengan normal dan merasa hebat (gini doang, gak berasa tambah susah tuh). Bahkan dengan pedenya saya masih tetap ngebut di lintasan balap sempit itu seperti biasa (sore2 biasanya ga ada orang di jalan, waktu yang tepat untuk memonopoli jalan dengan sepeda).  Dengan lincahnya saya melintasi jalan sempit itu dengan terpaan angin segar di muka, dan pas nyampe belokan, dengan kerennya saya ngedrift. Disinilah efek hilangnya ban bantu itu mulai terasa!!! karena tidak ada penyangga yang bisa menopang berat sepeda di sebelah kiri saat ngedrift seperti biasanya, sepeda itupun mulai oleng. Tanda2 kejatuhan saya diawali dengan bunyi ciiiiiiiit suara gesekan ban saat ngedrift dan diikuti dengan bunyi …… bukan gubrak tetapi byuuuur!!!!

Dan sejak saat itu, lokasi belajar sepeda saya pindah ke taman dekat rumah yang bebas dari sungai, jalannya lebar, pemandangannya bagus (iyalah, namanya juga taman) tapi memberikan tantangan dan pengalaman2 pahit lain yang akhirnya membuat saya trauma dan mengakibatkan saya tidak bisa naik sepeda selama belasan tahun 😐

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s