Every Little Thing


Sudah cukup lama saya berstatus sebagai cowok panggilan, saking lamanya hingga saya lupa kapan tepatnya ini bermula. Yang pasti ini semua berawal dari kantor sebelah yang katanya masih ada hubungan dengan kantor tempat saya bekerja yang mendadak butuh tambahan manpower untuk salah satu projectnya sehingga mereka “meminjam” 3 orang dari kantor saya untuk diperbantukan. Saya sendiri sebelumnya pernah berkolaborasi dalam sebuah project gabungan dengan kantor ini sebelumnya, yang kala itu tidak berlangsung cukup baik membuat saya heran kenapa saya dipilih untuk membantu mereka lagi kali ini.

Sebenarnya project gabungan ini sudah selesai di awal tahun 2015 kemarin, bahkan 2 orang rekan saya sudah dikembalikan ke kantornya yang lama, namun entah kenapa saya sendiri diplan untuk “dipinjam” lagi bulan Juni nanti dan sekarang status saya jadi complicated. Udah bukan cowo panggilan lagi dan nggak ada kepentingan untuk datang di kantor sekarang (seenggaknya sampai bulan Juni nanti) tapi kesehariannya masih tetep setor muka kemari. Benernya bisa aja sih balik ke kantor yang sebenarnya, tapi ada beberapa hal yang bikin saya stay disini

1. Males Pindahan

asli deh, pindahan itu adalah kegiatan yang merepotkan. bongkar PC dan kabel2 yang sudah ditata dengan cantik. Ganti nomor extension di address book yang tentunya nggak semua orang baca, dan karena kerjaan saya sebagai CS itu urusannya ama telp, ganti nomor itu annoying bgt >_<

2. Pantrynya lebih bagus

Di kantor asal cuma ada kopi di pantry sementara saya sendiri bukanlah penikmat kopi (nggak ada masalah sama rasanya, tapi kadang perut suka rewel abis ngopi, kinerja ginjal juga jauh lebih aktif setelah ngopi). Not a big deal sih secara kantor ngasih jatah susu ama teh, tapi pantry di kantor ini juga menyediakan teh, susu, dan creamer (ada toaster dan oven juga klo butuh snack sore) jadi berasa lebih dimanjakan. berkat ini juga jatah susu ama teh jadi bisa ditimbun, ada 2 kardus susu di kamar sekarang, mencukupi jika butuh nyepi sebulan di kamar hehe

3. Ignorance

Sebagian besar orang lebih suka jadi centre of attention dan merasa nyaman dengan perhatian yang diberikan sekitar, sementara buat saya sendiri, Ignorance is a bliss. Bekerja di balik layar, mengontrol segalanya tapi jauh dari perhatian orang lain itu memiliki nilai plus. Dan paling terasa manfaatnya ketika Jumat kmrn saya nggak ngantor karena mengira itu hari Sabtu :hammer:, dan karena punya jatah cuti yang melimpah maka Seninnya saya memutuskan untuk nggak masuk juga biar sekalian long wiken gitu. Selasa pagi ketika mau apply leave, ternyata berdasarkan daftar hadir, nggak ada yang sadar klo saya bolos (atau mungkin benernya ga peduli juga sih secara technically emang ga ada kerjaan di kantor itu) dan saya dianggap masuk 2 hari itu. Dan karena pak bos tidak berada di 1 kantor yang sama dan hanya mengamati dari laporan tersebut, maka timesheet february sudah disubmit dan pengajuan cuti hari selasa tersebut tidak bisa diterima karena timesheet udah diapprove, ga jadi bakar cuti deh :p

 4. Snack

Untuk yang terakhir ini, saya nggak tahu apakah employee sini begitu pandai merayu bosnya untuk sering sekali beliin snack sore atau justru ini langkah cerdas si bos untuk menjaga indeks kepuasaan bawahan dengan cost minimum (at least ini lebih murah daripada naikin gaji ato ngasih bonus kan), yang pasti sering sekali ada random snack mulai dari donat, pisang kipas, tahu isi, mochi, pisang keju, etc di sore hari yang tentunya sejalan dengan program penambahan berat badan yang saya lakukan😀

Pisang Kipas & Moccacino

Pisang Kipas & Moccacino

Alasan2 di atas tampak ga penting dan sepele, tapi terkadang untuk mempertahankan seseorang dan membuatnya betah tidak butuh hal2 besar, small things matter🙂

Nggak perlu ngasih janji2 muluk yang belum tentu anda tepati, Nggak usah ngabisin budget untuk memberikan impresi sesaat jika anda tidak bisa mempertahankan kesan baik itu secara berkesinambungan. Its the little things that you do that matter. Ngebelain anak buah saat client minta yang aneh2, nemenin lembur walaupun sebenernya ga bisa bantuin apa (selain ikut nemenin dan beliin gorengan), team dinner 1-2 minggu sekali walaupun cuma soto yang rasa kebersamaannya lebih besar dari fancy BBQ setaun sekali, atau sekedar ngasih pulang cepet jika kerjaan udah kelar, bukannya nambah2in kerjaan buat ngejar KPI. Just Try it

4 thoughts on “Every Little Thing

    • pada dasarnya sih i love my job, jadi faktor lokasi itu nggak terlalu penting. tapi karena bisa milih mau ngantor dimana dengan pertimbangan

      Option A
      – deket ama bos, jadi bisa siap sedia kalo disuruh ngerjain ini itu
      – deket coworker, jadi bisa ngebantuin kerjaan mereka dan ditanya ini itu

      Option B
      – jauh dari bos dan rekan kerja lain, basically do nothing selain terima telp yg akhir2 ini jarang bunyi
      – ngebantuin orang2 disini ngabisin snack sore yang kalo ga abis juga biasanya dibawa pulang sama OB sisanya

      so… yes i am cheap, want to hire me? *cowo panggilan mode on*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s