Kesetaraan


Dalam rangka memperingati hari kartini, kali ini postingannya rada serius dikit dimana saya ingin membahas tentang kesetaraan, persamaan hak, dan feminisme. Hal2 mendasar yang dulu diperjuangkan oleh ibu Kartini ini sekarang sepertinya sedikit menyimpang maknanya dan terkadang “dimanfaatkan” oleh sebagian orang. Daripada berlama2 di paragraf pembuka, langsung saja ke poin2

1. Jatah

di banyak bidang saat ini mulai ada yang namanya jatah perempuan, seperti jumlah minimum wanita yang ada di pemerintahan, berapa persen pekerja wanita yang ada di 1 perusahaan, etc. Saya heran saja kenapa hal ini diperlukan? bukankah seharusnya hal ini lebih melihat pada kemampuan dan bukannya gender? jika memang dari semua kandidat yang ada ternyata yang kompeten itu semuanya perempuan atau laki2 ya seharusnya itulah hasilnya. Bukankah hal yang diperjuangkan dahulu adalah persamaan hak perempuan dalam berorganisasi dimana dulunya perempuan dilarang berpolitik dan tidak diakui haknya.

yang saya soroti disini bukan hanya gender equality, namun juga priviledge2 serupa seperti jatah daerah dan sejenisnya karena adanya orang2 yang sebenarnya tidak punya kemampuan yang dibutuhkan tapi sangat pede di seleksi suatu posisi walaupun saingannya hebat2 karena tahu dia akan mendapatkan “jatah” ini. hal ini menghilangkan esensi “berjuang” untuk meraih sesuatu dan lebih ke mengharap “belas kasihan” untuk mendapatkan sesuatu.

2. Respect

Di sebuah situasi seorang feminist PMS bisa marah2 ketika ada seorang pria membukakan pintu untuknya, entah karena sang pria merasa hal itu adalah tindakan gentleman, atau karena pria itu adalah penjaga pintu yang emang tugasnya membukakan pintu dan menyambut semua orang. Di situasi yang lain, seorang cewe marah2 dan mukul kepala cowonya menunjukkan “girl power” dan perempuan itu tidak lebih rendah derajatnya dari laki2. Dan di tempat yang berbeda seorang wanita menerobos antrian dengan santainya seraya berkata “Ladies First”. Whats wrong with you people??!!

Mari kita gunakan akal sehat, terapkan norma dan sopan santun secara global tanpa melihat jenis kelamin. tindakan seorang pria membantu pria lain bawain barang is not a gay thing, dan seorang wanita ngebukain pintu buat pria yang membawa banyak barang is okay.

3. Pekerjaan

tanpa bermaksud diskriminatif, tapi sifat dasar pria dan wanita itu berbeda dan ada beberapa pekerjaan yang lebih cocok di tangan salah satu gender. Misalnya saja guru TK lebih cocok dilakukan oleh wanita yang umumnya lebih sabar dan keibuan dalam menghadapi anak kecil daripada dilakukan oleh pria yang seringnya berujung pada kasus pedo 😐

Karena itu jangan protes jika jumlah pria di sebuah posisi jauh lebih banyak dari wanita, itu bukan diskriminasi ya babe jadi ga perlu demo persamaan hak karena hal itu. Namun sekali lagi, ini juga melihat ke skill individu jadi jika seandainya nanti ada perempuan yang jadi menpora, so what?

4. Opportunity

Oke jadi ceritanya kemampuan sama, personality juga sama bagus, asal juga sama, tapi kok mereka masih memprioritaskan yang cowo? diskriminasi ini, dunia tidak adil. Di balik itu semua, masih ada yang namanya faktor X dalam menentukan pilihan yang kadang juga berpengaruh dengan jenis kelamin. Contoh nyatanya adalah dalam hal cuti, perempuan punya hak cuti yang lebih banyak dari laki2 dengan adanya cuti ‘bulanan’ dan maternity leave sehingga dari segi produktivitas, laki2 dianggap punya nilai lebih.

Selain itu untuk jenis pekerjaan yang sama terkadang ada hal ekstra yang bisa dilakukan salah satu gender. misalnya janitor, selain tugas umum bersih2 dan bikin minuman, yang laki2 bisa dapet task tambahan macam ngangkat galon, ganti lampu, atau benerin genteng. Sementara untuk posisi sales, walaupun sama2 punya keahlian menjual dan menawarkan produk, efek yang didapat dari cowo2 muda berpakaian minim di mall ketika menawarkan “parfum baru nih om, dicoba deh wanginya enak deh” tidak akan seperti yang diharapkan :|. sedikit sexist mungkin, tapi begitulah realitanya.

 

Ada yang mau nambahin atau mungkin pernah mengalami kejadian2 di atas? bisa dibagi pengalamannya di bawah

2 thoughts on “Kesetaraan

  1. karena kalo ada cowok yang ngerasa apa-apa musti bayarin sih ya di situasi tertentu enak sih apalagi kalo lagi bokek. wahahahah tapi dank jadi mesti ada hutang yang blm terbalas :p

  2. untuk hal2 receh macam bayarin parkir, beliin minuman, atau sejenisnya sih umumnya cowo ga terlalu mikirin dan bisa dibilang ego boost juga buat mereka tanpa disadari, jadi jangan ngerasa berhutang atau apalah

    kalo apa2 itu dinner dan frekuensinya sering, kemungkinan doi ada feeling atau minimal si cewe udah masuk kategori spesial

    sementara kalo apa2nya itu bayarin gadget baru, tiket liburan ke paris, cicilan apartemen mewah dan sejenisnya. kayanya itu om2 senang deh 😐

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s