Motivation


Motivasi, merupakan salah satu alasan bagi seseorang untuk melakukan sesuatu, pendorong sebuah tindakan untuk mencapai suatu tujuan. Misalnya waktu kecil (sampai sekarang sih), saya yang biasanya susah bangun pagi, waktu hari Minggu bisa bangun pagi sendiri buat nonton kartun :p. Untuk urusan akademis sih, walaupun nggak pernah masuk 10 besar tapi aslinya saya nggak goblok2 amat lho, hanya agak sulit membagi waktu saking padatnya aktivitas sehari2 mulai dari tidur siang, main, dan nonton tipi (waktu kecil dulu termasuk maniak TV, hafal jadwal acara semua channel yang waktu itu cuma 5 doang).

Encouragement dari ortu waktu itu agar lebih rajin belajar biar pas gede bisa jadi [you name it lah, standar cita2 harapan ortu] sama sekali nggak mempan, karena saya nggak pengen jadi itu semua, bahkan waktu kecil (sampai sekarang malah) saya nggak punya cita2. Jadi belajar secukupnya (sengantuknya), yang penting nggak dapet nilai merah walaupun nggak bagus2 amat biar nggak dimarahi.

Waktu kelas 3 SD, wali kelas saya adalah guru yang dikenal killer dan di kelas 3 itu pula nilai2 saya ada peningkatan. Tentu saja waktu itu ortu mengaitkan perubahan tersebut dan beranggapan saya jadi lebih rajin karena takut sama guru killer tersebut. Padahal aslinya sih disebabkan oleh kebiasaan beliau ngasih stempel/stiker di samping nilai 100 :). Jadi motivasi utama saya waktu itu cuma mau koleksi semua jenis stempel yang ada XD. Di tahun2 berikutnya, motivasi saya adalah komik, dan kenyataan yang tidak bisa dijelaskan bahwa baca komik malah meningkatkan prestasi akademik membuat ortu saya menerima hobi baru ini. win-win solution lah :p

Setelah lulus SMA, sebagai seseorang yang nggak punya cita2, saya mendaftar di salah satu universitas swasta tempat sebagian besar teman2 satu geng saya berada dan di jurusan yang sama. Namun karena keinginan ortu agar anaknya jadi dokter (hampir semua ortu penen anaknya jadi dokter di masa itu, dan jadi jawaban default anak2 termasuk suzan kalo ditanya mau jadi apa kalo udah gede), saya ikut UMPTN. Bahkan saya diikutin bimbel buat persiapan UMPTN, padahal waktu SMA nggak ikutan bimbel atau sejenisnya. Jangankan ikutan les, bikin peer aja di kelas :p. Tiap minggu diadakan try out di tempat bimbel, dan sekalipun nggak pernah lolos (not proud about this, but no shame either).

Di minggu terakhir sebelum final try out, ketemu guru BK yang memberikan saran untuk mengganti agar saya ganti pilihan lain selain kedokteran. Sayapun menjelaskan bahwa aslinya saya nggak masalah dengan jurusan apapun dan ini cuma ngikutin keinginan ortu. Doi kemudian menyarankan untuk daftar fakultas kedokteran di Universitas lain. Awalnya pengen menjelaskan alasan pemilihan univnya karena di kota itu ada keluarga, jadi biar ga repot nyari kos2an nantinya. Namun karena penasaran dengan saran2 tersebut, apakah feng shui universitas tersebut nggak cocok dengan saya, rasi bintang saya nggak bisa jadi dokter, atau mungkin menurut mbah BK saya cocoknya kerja di aer, dengan kalem saya tanyakan kenapa begitu? dan dengan nggak kalah kalem, beliau mengatakan target saya ketinggian serta menganjurkan agar saya menentukan pilihan yang passing gradenya lebih achievable. Sebuah saran yang sangat berkesan mengingat selama ini, kebanyakan orang mengatakan “gantungkan cita2mu setinggi langit”.

Waktu try out terakhir, saya mengikuti saran yang diberikan dan mengganti pilihan pertama saya di lembar try out. Dari fakultas kedokteran ke jurusan lain yang passing gradenya lebih tinggi!!! Dan tidak seperti sebelum2nya, saya mengerjakan try out terakhir dengan berapi-api dan penuh konsentrasi. Dan hasilnya……. tetep nggak lulus!!! bahkan nilainya lebih rendan dari try out sebelumnya!!! -_-

Entah kenapa, kata2 guru BK yang namanya bahkan saya sudah lupa beberapa jam setelah sesi konsultasi itu memotivasi saya untuk membuktikan saya bisa (atau cuma membuktikan dia salah!!, confidence, pride, or just stubborn?). Ketika tiba saatnya daftar ulang di Universitas swasta di mana saya diterima waktu itu (penerimaan univ swasta dilakukan sebelum UMPTN), saya memutuskan untuk mempertaruhkan segalanya di UMPTN. Ya salah satu alasannya juga karena duitnya cuma bisa balik 50%semisal nantinya lulus UMPTN, jadi mental Paman Gober saya memilih untuk nggak bayar sekalian (50% dari 0 = 0).

Singkat cerita, secara tidak disangka2, saya lulus UMPTN dan diterima di pilihan pertama saya yaitu Informatika. Ada rasa kepuasan tersendiri ketika melihat hasilnya terpampang di dinding tempat bimbel, mengumumkan hasil tersebut ke ortu. Dan akhirnya kesadaran saya kembali ketika ortu nanya “Informatika itu ngapain ya?”, membuat saya ikutan bertanya dalam hati “iya, itu ngapain ya??!!!”

Iklan

10 thoughts on “Motivation

  1. Aku dulu ambil HI karena biar bisa jadi diplomat dan jalan-jalan ke luar negeri. Motivasi utamanya di bagian jalan-jalan ke luar negeri itu sih. Padahal dulu gatau juga kuliah HI itu belajar apaan.

    Suka

    • sekarang ga pernah ditanya lagi, udah pada (sok) tau Informatika itu ngapain, buktinya begitu bilang lulusan Informatika langsung bilang “kulkas/ tv/ elektronik lain gw rusak nih, bisa benerin nggak?”

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s