Stay Calm


Semenjak tahun kedua di sini, saya mengubah strategi meningkatkan pendapatan saya dengan kembali terjun ke dunia freelance. Namun karena sudah cukup lama meninggalkan dunia tersebut, saya harus mengulang lagi semuanya dari awal, dan mendapatkan client potential untuk jangka panjang lebih susah dibandingkan dulu, terutama dengan persaingan global yang semakin ganas. Agar tidak menyia2kan waktu dan jumlah bidding yang sekarang makin dibatasi, saya memasang rate yang bersaing (tapi nggak murahan2 banget tentunya) sambil memupuk reputasi, toh modalnya cuma otak (yang nggak berkurang, malah makin bagus kalo sering2 digunakan) dan waktu (punya cukup banyak waktu senggang di kantor, daripada bengong).

Tentunya, karena hanya berstatus sebagai pekerjaan sampingan, prioritas utama tetap kerjaan kantor. Selain itu saya juga punya aturan personal untuk tidak kerja di luar jam kantor, berlaku untuk segala jenis pekerjaan. Pernah pada suatu malam, saat saya lagi asik main game online, tiba2 ada project leader yang datang ke mess karena ada masalah yang nggak bisa disolve sama anak buah dia yang masih sibuk di kantor dan saya mau dibawa ke kantor buat “sebentar” buat bantuin. Berhubung dia datang langsung, maka dengan sopan saya bilang lagi “sibuk” dan minta beliau menunggu 30-45 menit lagi (online game nggak bisa dipause). Tapi gayanya yang pushy dan sok penting benar2 menyulut emosi sehingga saya marah2i dengan brutal, nggak sadar pas marah2 itu mic masih nyala (mic headset buat koordinasi tim sama temen online, bukan mic buat karaokean).

Kejadian serupa terulang kembali minggu lalu. Walaupun ratenya kaki lima, saya memperlakukan semua client freelance saya dengan professional. Dan berhubung jumat kemarin adalah public holiday, maka kamisnya saya ngasih info bakalan AFK sampai senin. Tapi doi ngerasa project dia itu urgent dan butuh selesai secepatnya, sesuatu yang meragukan mengingat budget project yang dia pasang, jumlah kandidat yang sudah dia interview sebelumnya, dan umur job postnya. Karena sudah biasa menghadapi client yang merasa semua requestnya penting banget, top priority di atas segalanya dan wajib selesai dalam waktu sesingkat2nya namun setelah deliver ntar juga bakalan dianggurin dan lama ngetesnya dengan revisi ini itu, dan juga karena komunikasinya online jadi masih bisa berkepala dingin dan ngasih alasan diplomatis “pulkam selama liburan paskah dan nggak ada sinyal internet buat kerja”. Nggak sepenuhnya bohong sih secara emang lagi di kampung, dan lebih baik daripada ngasih jawaban jujur “ogah kerja pas liburan, emangnya situ sapa bayar receh aja nuntut overtime”

Tapi kali ini, sepertinya pihak situ yang lebih nggak sabaran dan ngasih jawaban pasif aggresif mau nyari orang lain aja buat ngerjain karena dia butuh itu selesai secepatnya. Dengan kalem, sebelum pulang kamis itu, saya persilahkan dia batalin kontrak dan menikmati long weekend dengan santai πŸ™‚

Pagi ini, ketika membaca pesan terakhirnya yang ngasih tau kalau dia sudah dapet freelancer lain yang bisa menyelesaikan projectnya dan mengirimkan hasilnya hari ini, saya cuma bisa bergumam “terus ngapain ngasih tau? kayanya ga ada hubungan ama gw deh lu dapet orang lain ato kaga”. Tapi saya cuekin aja karena memang kayanya nggak perlu dibales dan nggak tau mau bales apaan juga.

Dan sorenya,…….. ada pesan baru

4 komentar di “Stay Calm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s