Kopdar Jogja


Karena sidang kenaikan kelas yang bisa dibilang nggak terlalu ceria kemarin, saya nggak berharap banyak waktu terima rapot dan lempeng2 aja walaupun nggak naik kelas lagi, satu2nya keluhan yang saya sampaikan hanyalah selama 3 tahun ini saya belum pernah sekalipun training apapun sebagai bagian dari career development plan. keluhan ini direspon dengan diplomatis “budgetnya terbatas, diprioritaskan ke yang membutuhkan dulu”. Karena aslinya saya memang nggak terlalu butuh training dan lebih pengen jalan2 aja, saya terima saja jawaban itu walaupun deep down pengen bilang “pret!!!”

Ketika datang kerjaan baru, saya memanfaatkan momen ini buat nolak assignment dengan alasan “saya nggak bisa pak, kasih ke orang lain yang udah pernah ditraining ini aja” dengan harapan pergi training ato ga perlu ngerjain. Singkat cerita, akhirnya saya bisa jalan2 ke jogja :). hingga hari H, saya menghabiskan waktu di kantor buat nyari lokasi hotel yang strategis buat makan, jalan2, dan mengatur jadwal yang efektif sekaligus merencanakan jumpa fans dengan jogjaers.

mengetahui hal ini, ternyata jakartaers juga pengen ikutan sehingga akhirnya saya memutuskan untuk memisahkan diri dari rombongan dan mampir ke Jakarta sebelum kembali ke hutan :). Karena perubahan rencana yang cukup dadakan dan cuma sempat dipublikasikan di hari terakhir, diperparah dengan charger yang ketinggalan di kereta membuat event jumpa fans jakarta bertemakan “Tag Game” dimana saya akan keluyuran di 1 tempat saja selama waktu yang ditentukan, menunggu untuk ditemukan :p

Tak disangka, dengan kondisi seperti itu ternyata masih ada yang berhasil memenangkan game ini dan mendapatkan hadiah makan bareng (awalnya mau nonton bareng, tapi waktunya tidak mencukupi)

Bagi yang gagal di hari itu, saya menjanjikan jumpa fans berikutnya yang awalnya saya perkirakan baru bisa terwujud menjelang akhir tahun atau malah di tahun 2018…… Namun alam semesta sepertinya punya rencana lain karena pada suatu malam, ketika lagi asik main game online tiba2 si bos telp/

Boss : besok pagi kamu nggak usah dateng ke kantor
Me : (dipecat? ga konsen, masih fokus di game) mmm?
Boss : langsung ke hotel [salah satu hotel] aja
Me : ngapain?
Boss : ada meeting sama orang [salah satu instansi]
Me : kok nggak di kantor aja, kan kita ada meeting room?
Boss : sama orang [salah satu instansi] ini
Me : (lagi war, lost focus lagi) memangnya kenapa? kan bisa ke kantor aja?

Saya nggak nyadar jeda waktu pertanyaan terakhir berapa lama, ternyata udah end call dan saya ngomong sendiri di pertanyaan terakhir. Besoknya ketika nyampe di hotel, saya juga baru nyadar kalo nggak tau meetingnya di ruangan mana dan harus ketemu sapa, dan udah lupa juga sama nama instansinya :|. Untungnya pagi itu pake seragam kantor, jadi ada yang mengenali dan diarahkan ke tempat yang seharusnya yang ternyata agendanya bukanlah meeting tapi semacam demo dan presentasi. Yang terjadi setelah itu lebih mirip sidang TA dimana presenternya terlihat kebingungan menjawab pertanyaan2 dan berusaha menghubungi “orang pusat” tanpa hasil.

Karena hingga akhir minggu masih belum mendapatkan hasil yang memuaskan, akhirnya diputuskan untuk mendatangi kantor pusatnya langsung di Jakarta yang artinya bisa sekalian jumpa fans Jakarta. Sayangnya karena status saya cuma diboyong sebagai tukang tanya2 dan budgetnya dari departemen lain, saya nggak mendapatkan informasi lengkap mengenai jadwal keberangkatan, tempat nginep, dan informasi lain untuk merencanakan proper meet up seperti di Jogja kemarin. and this lead to a drama,….. a lot of drama (bersambung)

Green Go


Di suatu sabtu pagi yang mungkin cerah (udah nggak inget, mungkin mendung tapi yang pasti nggak hujan), saya tiba2 terbangun karena suara berisik misterius. Jendela kamar bergetar, terdengar suara berisik burung beterbangan dan pohon2 tumbang. Di dalam kamar yang masih gelap, saya meraba2 sekitar mencari hape untuk melihat jam berapa saat itu (seperti yang sudah pernah saya ceritakan, belakang kamar itu hutan, jadi biasanya sinar matahari baru masuk di atas jam 9) dan setelah beberapa menit masih nggak ketemu, saya menyerah (too lazy to do anything that morning).
backyard

Karena nggak ada suara berisik tetangga sekitar atas peristiwa ini, otak bangun tidur saya memformulasikan beberapa hipotesa:
– its nothing serious, go back to sleep
– kiamat telah tiba dan mereka semua sudah tewas jadi percuma aja panik, mending tidur lagi dan mati dalam damai
– ini cuma mimpi, mari tidur dan ganti mimpi lain yg lebih menarik

Jadi akhirnya saya melanjutkan tidur ….

Ketika bangun siangnya, ternyata suara2 itu masih ada. Terlihat berbagai peralatan berat meratakan hutan belakang kamar dan pohon tumbang berserakan dimana2. Banyak teori bermunculan dari tetangga sekitar mulai dari tindakan preventif mengurangi kasus pencurian yang banyak terjadi akhir2 ini dengan menghilangkan tempat kabur dan sembunyi maling hingga dugaan ilegal logging.

Dalam waktu beberapa minggu saja, pemandangan belakang kamar saya sudah menjadi seperti ini
terang

Di satu sisi, kini sinar mentari pagi jadi lebih mudah memasuki jendela kamar (awal2 sempet panik ngira telat bangun, ternyata masih jam 7 >_<) dan somehow nggak ada babi hutan keluyuran lagi di malam hari (bahkan ular, komodo, dan aneka pokemon lain juga menghilang. mungkin pindah ke hutan sebelah) dan populasi kucing tampak meningkat (entah migrasi dari hutan atau nambah karena predatornya berkurang). Tapi jadi nggak bisa duduk santai di belakang sambil menikmati gorengan dan teh di waktu hujan.

Sekarang sudah beberapa bulan berlalu dan terdengar kabar resmi mau dibangun kompleks perumahan baru disana. Iseng ke bukit seberang untuk melihat progress pembangunannya, ternyata lumayan luas juga areal hutan yang digunakan oleh proyek ini, sepertinya bakal lama jadinya dan bakal ada keberisikan jilid 2 saat proses konstruksi dimulai >_<
bersih

Family Gathering 2016


Beberapa waktu yang lalu, tempat saya bekerja mengadakan Family Gathering yang merupakan acara kumpul2 bersama antar karyawan dan keluarganya dalam rangka ngabisin anggaran. Karena acara ini harus ada dokumentasinya, maka terima mentahan dengan sistem bagi rata budget tidak bisa dilakukan dan di kota sekecil ini nggak ada tempat makan yang bisa menampung jumlah peserta dan keluarganya (lagian klo cuma ngumpul makan bareng trus pulang kayanya boring banget), maka acara ini dilakukan di…. errr… sebuah konservasi yang isinya meliputi kebun buah, peternakan lebah, kolam ikan, dan tempat pembibitan (entah apa tempat ini sebutannya). Agar tidak terganggu dan mengganggu pengunjung lain, kita booking tempat ini 1/2 hari dari jauh2 hari.

kolam ikan

Sebelumnya sudah diinfokan oleh pihak pengelola untuk tidak memetik buah sembarangan dari pohonnya dan jika mau di bagian depan ada tempat penjualan hasil kebun dan ternak. Tentu saja informasi ini diteruskan ke semua peserta mengingat akan ada banyak anak kecil yang ditakutkan bakal keluyuran dan metik2 sembarangan. Namun pada kenyataannya, di hari H para bocah ini malah pada nempel terus ke orang tuanya dan yang udah agak gedean sibuk sendiri sama gadget sementara para Ibu-ibu langsung kalap teriak “Wah rambutannya gede-gede!!!” dan langsung semburat dengan beringas!!!. Melihat hal ini, panitia langsung teriak2 ngingetin “bu, jangan bu!!!” macam warga pemukiman liar yang kena gusur satpol, bahkan sampe minta bapak2nya ngingetin berhubung kalah jumlah hingga akhirnya menempuh cara terakhir yaitu pake TOA macam demonstran orasi. Ya untungnya nggak ada pengunjung lain atau penjaga sama sekali (mungkin karena lagi dibooking jadi para petugasnya pada pulang cepet kali ya, bahkan tukang parkirpun ga ada) jadi ga terlalu malu2in lah (nggak yakin juga para ibu2 itu bakal malu kalo ada penjaganya, mungkin penjaganya dicakar kalo berani2 ngalangin hehe).Tersadarkan oleh teriakan TOA, para ibu langsung kembali ke barisan (sambil bawa setumpuk buah2an yang cukup buat makan seluruh rombongan -_-)

Biar tampak ada partisipasi dari semua anggota keluarga dalam kegiatan ini, diadakan lomba2 untuk anak2 yang acara dan konsepnya dilakukan sama ibu2nya sementara panitia cuma menyediakan hadiah2 lomba aja (biar ada partisipasi ibu2 juga, bukan karena panitianya males mikir konsep sama ngurusin acara lho ya du du du). Secara usia anak2 yang begitu beragam dan perbedaan fisik yang tampak mencolok, lomba2nya keliatan nggak balance banget. Ada bocah 3 taunan yang ngedudukin balon malah membal sementara balonnya masih utuh, atau yang jalan bawa kelereng dengan santai dan hati2 hingga ketika peserta lain sudah 2x start finish dianya belum 1/2 jalan … but who cares, ujung2nya semua dapet hadiah kok :D. Ibu pengurus lomba menginterogasi para pemenang mulai dari nama, umur, sekolah dimana , sampai siapa nama bapaknya sebelum ngasih hadiah melahirkan momen khusus

Ibu2 : kamu anaknya siapa?
Bocah : anaknya ayah
Ibu2 : Iya, nama ayahmu siapa?
Bocah : …… Ayah
Ibu : *evil laugh* nama bapakmu Ayah?
Bocah : *manggut2*
Ibu2 : penasaran saya, coba bapaknya maju sini, saya pengen tahu yang mana orangnya
Audience : *diem tolah-toleh, ga ada yang berdiri*
Ibu2 : coba nak, tunjuk ayahnya yang mana
Bocah : *scanning penonton beberapa saat, tapi ga menemukan target yang dicari*
Ibu2 : (entah bosen atau kasihan) dah balik sana ke ayahnya *ngasih hadiah*, Ayahnya nanti di rumah kasih tau ke anaknya ya siapa namanya

Saya agak khawatis si ayah menelantarkan anaknya disana karena si bocah nggak balik ke pangkuan ortunya, tapi lari ke pojokan, sendirian sambil memeluk hadiahnya. Entah beneran ga liat bapaknya diantara kerumunan orang ini atau udah dapet dead stare dari kejauhan dan isyarat “Jangan kemari, pura2 ga kenal!!!” dari bapaknya LOL. Para remajanya tampak malas mengikuti lomba, entah gara2 takut dipermalukan setelah melihat apa yang terjadi di lomba anak atau emang ga minat aja. Tapi bukan ibu2 namanya kalau tidak bisa “membujuk” anak2nya mengikuti acara yang mereka adakan

Acara makan siang bersama sempat terganggu oleh kehadiran kucing raksasa yang berkeliling mengemis sedekah membuat sebagian besar bocah panik. Bahkan saya sendiri sempat kaget melihat ukuran kucing2 disini yang ukurannya 2x lebih besar dari kucing kompleks, entah itu akibat sering makan buah2 di perkebunan ini atau kucing2 itu sendiri merupakan hasil rekayasa genetik yang dibuat di tempat ini untuk dilatih sebagai penjaga perkebunan yang murah meriah dengan gaji seekor tongkol mutan yang ga kalah besarnya tiap bulan
lunch

Di penghujung acara, ada pembagian lucky draw yang sekali lagi diserbu oleh Ibu-ibu yang antusias ngambil nomor undian seolah takut kehabisan padahal nomor yang disiapkan jumlahnya sudah sesuai sama jumlah peserta yang hadir (In fact, malah mereka sendiri yang bikin nomor undian dan menggulungnya ke potongan sedotan), jadi entah kenapa juga pake rebutan segala ngambilnya, sudah sifat dasar ibu-ibu kayanya :p. Dan tebak siapa yang mendapatkan hadiah utamanya!!! its Me muhahaha
lucky-draw

Saya yang seumur hidup belum pernah menang undian apapun, bahkan kentongan kodok di undian staff party aja ga dapet dan mentok di hadiah hiburan krim cuci piring dari supermarket ini secara tak terduga mendapatkan doorprize kompor gas sontak membuat saya diserbu sama ibu2 saat itu.

Nggak masak kan di rumah? dah buat Ibu aja ya deh kompornya

Tuker sama hadiah punya Ibu mau ya *nawarin jam dindingnya*

Berat ya? sini Ibu aja yang bawain (sok baik)

Kasih ke saya aja, ntar Ibu masakain sebulan

Membuat saya kewalahan dan ketakutan walaupun emang bener sih kalo hadiahnya ga bakal kepake juga secara jarang masak dan kayanya mubazir beli tabung LPG untuk kegiatan yang selama ini bisa dilakukan dengan magic jar. Tapi karena berurusan sama mereka itu sepertinya sama berbahayanya dengan mafia, saya ngasih jawaban diplomatis “besok dibahas di kantor aja ya” biar urusannya sama bapak2nya yang lebih jinak :p

Once upon a time


Pada suatu sore, saat mau beranjak ke pantry buat ngintip apa takjil hari ini, tiba2 telp berdering setelah seharian terdiam

Me : Halo
X : Pak, tolong kembalikan akses saya biar bisa revisi data
Me : eh, akses apa? perasaan saya nggak cabut akses ibu
X : tapi ini saya mau edit data tiba2 nggak bisa, kemarin2 bisa lho pak
Me : ok saya cek dulu bu

konfirmasi ke rekan2 yang lain sapa tau ada yang dapet request cabut akses dan ternyata ga ada yang merasa melakukan, sesuai dugaan mereka malah nggak tau gimana cara melakukannya. bongkar2 email kali aja itu request lama tapi tetep ga ketemu. Mau nanya2 juga nggak tau nomer ekstension si ibu karena cuma biasa terima telp. Panjang umur, ga lama doi telp lagi

X : gimana pak?
Me : ga ada yang ubah2 akses kok bu
X : lha terus kenapa kok tiba2 saya ga bisa revisi data?
Me : biasanya ibu bisa revisi ya? harusnya tetep bisa sih kalo ga ada yang ganti2 aksesnya
X : iya biasanya bisa, saya sering kok edit data
Me : kapan terakhir kali ibu edit data?
X : baru2 ini aja, kemarin2 masih bisa eh sekarang tiba2 nggak bisa
Me : *penasaran + excited akhirnya ada yg bisa dikerjain* coba saya cek dulu, data apa yang mau diubah?
X : *ngasih info*

Ngecek error log kali aja programnya bermasalah, cek detail datanya sana sini sapa tau ada yg corrupt atau kurang datanya tetep aja nggak ketemu. Akhirnya setengah menyerah dan ga enak ama si ibu yang udah nunggu lama2. Saya kasih advice ultimate seorang app support. “coba restart, kalo masih nggak bisa coba di komputer lain”

25 menit berlalu tanpa kabar, sepertinya solusinya berhasil. sebuah hal klenik yang berlaku untuk semua computer-related issue di muka bumi, hal misterius dimana restart bisa memecahkan segala macam persoalan. hingga telepon laknat itu berdering lagi

Baca lebih lanjut

Tadaimaaa


Jadi bulan Mei kemarin saya melakukan tour de Java dalam rangka ngabisin cuti tahunan, sebenarnya hal ini sudah cukup lama direncanakan walaupun tujuan pastinya masih sering berubah hingga pada akhirnya diputuskan bahwa kota pertama yang akan disinggahi adalah Surabaya dan tiket dengan tanggal keberangkatan 24 Mei 2014 sudah siap di tangan :D.

Karena satu dan lain hal (well, benernya sih udah bosen aja di kantor tanpa aktivitas), tanggal 20 Mei saya membeli tiket dengan tujuan Jakarta dan berangkat pada hari itu juga. Awalnya sih cuma nanya hari itu ada tiket promo ke Jakarta apa kaga tapi sepertinya terjadi miskomunikasi dan bener2 dibookingin tiket promo di hari itu, daripada kebuang akhirnya berangkat dah =)). Dan karena cukup dadakan maka setibanya saya di Jakarta, sempat kebingungan dulu di Bandara karena ga tau tujuannya kemana, tapi free wifi di bandara cukup membantu untuk memutuskan langkah berikutnya. Terakhir kali saya ke Soetta, nggak ada free wifi padahal. Entah apakah ini adalah fasilitas khusus untuk terminal 3 atau bagaimana secara saya lihat fasilitas2 yang disediakan disini tampak lebih lengkap dan modern dibandingkan dengan terminal 1 dan 2, bahkan ada tempat main segala.

salah satu fasilitas bandara

salah satu fasilitas bandara

Daftar kota yang disinggahi dalam liburan kali ini adalah : Jakarta – Jogja – Solo – Surabaya – Tasikmalaya – Bandung – Makasar. Mayan banyak ya, dan hampir semuanya ditentukan on the spot berdasarkan ketersediaan tiket, jadi nggak sempet publikasi di media buat jumpa fans, cuma sebatas broadcast FB dan WA doang buat kumpul2 dadakan :p.

Postingan kali ini cuma dalam rangka menginformasikan bahwa saya sudah kembali dengan selamat, terima kasih atas arahan teman2 sekalian sehingga saya nggak nyasar dan dapet hotel low budget yang aman dan nyaman (special thanks buat beberapa pihak yang ngasih tempat nginep gratis, sangat membantu dalam hal budgeting sehingga kota tujuan dalam liburan kali ini bisa nambah di luar rencana hehe). Reportase kunjungan masing2 kota menyusul di postingan2 berikutnya kalo sempet dan masih inget 😀

Murphy’s Law


Murphy Law menyatakan bahwa “Anything that can go wrong, will go wrong”, dan hal ini sering terjadi waktu update aplikasi yang biasanya diwarnai dengan kejadian tak terduga di hari H, mulai dari server yang tiba2 lemot, salah copy patch, atau HD tiba2 jebol. Untuk menghindari kejutan2 seperti ini, saya sudah menyiapkan segalanya sejak bulan November jadi tinggal copas aja di hari H (aslinya sih udah siap sejak Oktober tapi lapornya baru November karena deadline yang masih lama hehe), itupun ternyata masih nunggu “hari baik” yang diputuskan jatuh pada tanggal 6 Desember kemarin. Semua user udah dikasih info sejak tanggal 1, semuanya tampak begitu sempurna lah intinya. Tapi ternyata tetep aja ada kejadian tak terduga ……

H-1, siangnya tiba2 migrain akut disertai sakit perut menyerang jadi saya memutuskan untuk pulang cepet dan istirahat dengan harapan besoknya udah fit lagi. Kombinasi obat sakit kepala, keringetan, sama angin AC langsung ngasih efek bius begitu kepala nyentuh bantal. Begitu bangun sorenya, sakit kepalanya udah ilang (yay). Tapi begitu saya bangkit dari tempat tidur, dunia langsung terasa berputar dan langsung ambruk lagi ke kasur dan tiba2 badan jadi mengigil dan gemeteran. Berhubung nggak ada orang yang bisa diminta nganterin ke dokter dan nggak yakin saya bisa bertahan nunggu jam pulang kantor, akhirnya saya menggunakan opsi terakhir, manggil ambulance.

masih sempet poto2

Respon tim medis ternyata cukup cepat, 15 menit kira2 Ambulance sudah datang menjemput, langsung dibawa ke UGD lengkap dengan infus dan kompres air panas. Belum ada info sakitnya apa tapi bikin keder juga sama tesnya yang cukup lengkap mulai dari tes darah, EKG, rontgen, sampe USG segala (sempet ngira ada yang salah begitu dibawa ke poli kandungan). Dokternya juga cukup sabar menghadapi pertanyaan yang selalu keluar tiap sensor USGnya digerakin kesana kemari, mayan sekarang jadi paham bentuk dan posisi ginjal, lambung, hati, sama jeroan2 perut lainnya. Pertanyaan berhenti ketika layar menunjukan bagian usus dengan gumpalan berwarna putih dengan mata bulat hitam (susah dijelaskan, kira2 gitu lah yang terlihat saat itu wkwk) dan dokternya bilang “Ini harus dioperasi”. Sebenarnya banyak pertanyaan yang ada di kepala saat itu (itu apaan kok kaya alien? kok bisa ada di situ? aliennya cewe apa cowo?) tapi yang keluar dari mulut waktu itu cuma “eh?!!”

tool

nyiapil alat, lagi2 sempet foto2

Segala sesuatu yang terjadi setelah itu cukup kabur, tau2 udah ada di ruang operasi dikelilingi 5 dokter. Suntik bius di bagian tulang belakang yang terasa menyakitkan dan disuruh batuk2 biar biusnya cepet nyebar katanya (entah itu beneran apa nggak, pokoknya nurut aja). Beberapa menit kemudian mulai kerasa efek biusnya, kaki terasa kesemutan dan berat walaupun masih bisa digerak2in (dan saya gerak2in buat ngasih kode “masih belum full effect nih, jangan dipotong dulu >_<).Karena ditutup kain dan nggak keliatan, saya biasanya kaget begitu merasakan ada logam dingin menyentuh perut. Mulai heran juga kenapa efek biusnya cuma kerasa di kaki, ini mau operasi perut apa amputasi kaki sih *parno mode on*

Entah karena dokternya nggak sabar ato emang prosedurnya kaya gitu, akhirnya saya dikasih suntikan bius kedua di tangan. Nggak sesakit yang pertama dan saya cukup skeptis karena yang ini malah nggak ada efek apa2 kaya bius pertama tapi dalam sekali kedipan mata saya sudah berada di kamar, terbangun oleh aroma roti bakar serta susu coklat di meja, dan 3 jam telah berlalu begitu saja!!!! Sekitar 30 menit, datanglah seorang suster

S : nanti kalo butuh bantuan buat makan kasih tau ya
Me : udah abis sus
S : wow, sudah bisa duduk?! *ngeliat piring kosong*
Me : iya bisa kok *heran, ada yang aneh gitu?”
S : buat jalan kayanya masih susah, jadi nanti kalo mau ke kamar mandi bilang aja ya
Me : udah juga tadi jalan sendiri (lebih kerasa kaya melayang bukannya jalan soalnya ga kerasa nginjek tanah :p)
S : hah, udah bisa jalan juga? udah ilang berarti biusnya

Ternyata itu semua justru gara2 efek bius. Setelah ilang efeknya, jangankan buat duduk, buat ganti posisi tidur aja susah >_<

waras

Di atas itu foto terakhir selama opname soalnya baru nyadar kalo ga bawa charger, terpaksa hemat batere biar bisa telp jemputan buat pulang nantinya :p. Kamarnya cukup unik, tembok di depan full kaca, cocok buat foto narsis (baru ketauan waktu pulang kalo itu benernya ruangan buat senam hamil yang disulap jadi kamar karena kekurangan ruangan >_<). In the end, update aplikasinya diundur lagi sampe hari baik berikutnya sekitar pertengahan Januari 2014, semoga nggak terjadi apa2 lagi -__-

I am not a Time Traveller


Alih profesi dari programmer ke IT support membawa banyak perubahan dalam keseharian saya, dari yang dulunya selalu berkutat dengan program yang behaviournya predictable dengan anomali2 yang klenik, kini sekarang saya lebih banyak berurusan dengan yang namanya manusia. Behaviournya lebih beragam dan unpredictable, ada tipe minion yang cuma ngikut apa kata Bos tanpa mikir instruksinya bener apa nggak, ada tipe dateng langsung sambil bawa sesajen biar requestnya cepet dihandle, dan ada juga tipe asal request salah sasaran (contohnya lapor mobilnya rusak ga mau dinyalain, dikira ini bengkel apa 😡 ).

Request paling populer belakangan ini adalah reset password, bisa dimaklumi dengan adanya policy ganti password tiap bulan dan memori manusia yang terbatas dan nggak bisa diupgrade semudah ganti memori komputer, dan saya sendiri juga sering bermasalah sama password :D.

Hari ini muncul lagi user unik nan lugu, berikut ini percakapan dengan Mr I (bukan nama sebenarnya, disamarkan demi kebaikan bersama)

Mr I : pagi pak, ini account saya terlock
Me : usernamenya apa ya?
Mr I : saya Mr I
Me : *males nanya2, nyari sendiri usernamenya berdasarkan nama orangnya* Ini mau diunlock saja atau direset passwordnya?
Mr I : ………. (hening, kayanya lagi loading, maklum hari Senin)
Me : halo pak, ini mau direset atau unlock?
Mr I : maksudnya gimana ya?
Me : kalo unlock brarti passwordnya nggak berubah, kalo reset brarti generate password baru dan nanti dikirim ke email bapak
Mr I : ooo unlock aja, saya baru ganti passwordnya kemarin, nggak perlu diganti lagi
Me : oke sudah diunlock, silahkan dicoba lagi
Mr I : oke, passwordnya apa ya pak?
Me : ???!!! ya password terakhir yang bapak gunakan kemarin, saya nggak bisa lihat password bapak
Mr I : saya nggak tau passwordnya apa, kemarin saya ingat tapi hari ini saya sudah lupa
Me : jadi mau direset?
Mr I : jangaaaan, tetep aja passwordnya yang saya ganti kemarin itu.
Me : coba bapak ingat2 lagi, coba pake hint atau security question di bagian forget password gitu
Mr I : nah itu saya juga lupa, padahal kemarin masih ingat lho
Me : lha lalu bapak mau saya gimana? reset aja lah ya? *menahan diri biar nggak ngomel2*
Mr I : ya gimana caranya biar saya ingat yang kemarin itu, tolong dibantu lah pak
Me : jadi bapak mau saya balik ke hari kemarin trus nanya bapak ganti jadi apa passwordnya??!!!
Mr I : iya gitu juga boleh, tolong ya pak, makasih. (SFX : click) *nutup telp*
Me :  $%**(&!#(%&^?!! *pretend this never happened*