Kopdar Jogja


Karena sidang kenaikan kelas yang bisa dibilang nggak terlalu ceria kemarin, saya nggak berharap banyak waktu terima rapot dan lempeng2 aja walaupun nggak naik kelas lagi, satu2nya keluhan yang saya sampaikan hanyalah selama 3 tahun ini saya belum pernah sekalipun training apapun sebagai bagian dari career development plan. keluhan ini direspon dengan diplomatis “budgetnya terbatas, diprioritaskan ke yang membutuhkan dulu”. Karena aslinya saya memang nggak terlalu butuh training dan lebih pengen jalan2 aja, saya terima saja jawaban itu walaupun deep down pengen bilang “pret!!!”

Ketika datang kerjaan baru, saya memanfaatkan momen ini buat nolak assignment dengan alasan “saya nggak bisa pak, kasih ke orang lain yang udah pernah ditraining ini aja” dengan harapan pergi training ato ga perlu ngerjain. Singkat cerita, akhirnya saya bisa jalan2 ke jogja :). hingga hari H, saya menghabiskan waktu di kantor buat nyari lokasi hotel yang strategis buat makan, jalan2, dan mengatur jadwal yang efektif sekaligus merencanakan jumpa fans dengan jogjaers.

mengetahui hal ini, ternyata jakartaers juga pengen ikutan sehingga akhirnya saya memutuskan untuk memisahkan diri dari rombongan dan mampir ke Jakarta sebelum kembali ke hutan :). Karena perubahan rencana yang cukup dadakan dan cuma sempat dipublikasikan di hari terakhir, diperparah dengan charger yang ketinggalan di kereta membuat event jumpa fans jakarta bertemakan “Tag Game” dimana saya akan keluyuran di 1 tempat saja selama waktu yang ditentukan, menunggu untuk ditemukan :p

Tak disangka, dengan kondisi seperti itu ternyata masih ada yang berhasil memenangkan game ini dan mendapatkan hadiah makan bareng (awalnya mau nonton bareng, tapi waktunya tidak mencukupi)

Bagi yang gagal di hari itu, saya menjanjikan jumpa fans berikutnya yang awalnya saya perkirakan baru bisa terwujud menjelang akhir tahun atau malah di tahun 2018…… Namun alam semesta sepertinya punya rencana lain karena pada suatu malam, ketika lagi asik main game online tiba2 si bos telp/

Boss : besok pagi kamu nggak usah dateng ke kantor
Me : (dipecat? ga konsen, masih fokus di game) mmm?
Boss : langsung ke hotel [salah satu hotel] aja
Me : ngapain?
Boss : ada meeting sama orang [salah satu instansi]
Me : kok nggak di kantor aja, kan kita ada meeting room?
Boss : sama orang [salah satu instansi] ini
Me : (lagi war, lost focus lagi) memangnya kenapa? kan bisa ke kantor aja?

Saya nggak nyadar jeda waktu pertanyaan terakhir berapa lama, ternyata udah end call dan saya ngomong sendiri di pertanyaan terakhir. Besoknya ketika nyampe di hotel, saya juga baru nyadar kalo nggak tau meetingnya di ruangan mana dan harus ketemu sapa, dan udah lupa juga sama nama instansinya :|. Untungnya pagi itu pake seragam kantor, jadi ada yang mengenali dan diarahkan ke tempat yang seharusnya yang ternyata agendanya bukanlah meeting tapi semacam demo dan presentasi. Yang terjadi setelah itu lebih mirip sidang TA dimana presenternya terlihat kebingungan menjawab pertanyaan2 dan berusaha menghubungi “orang pusat” tanpa hasil.

Karena hingga akhir minggu masih belum mendapatkan hasil yang memuaskan, akhirnya diputuskan untuk mendatangi kantor pusatnya langsung di Jakarta yang artinya bisa sekalian jumpa fans Jakarta. Sayangnya karena status saya cuma diboyong sebagai tukang tanya2 dan budgetnya dari departemen lain, saya nggak mendapatkan informasi lengkap mengenai jadwal keberangkatan, tempat nginep, dan informasi lain untuk merencanakan proper meet up seperti di Jogja kemarin. and this lead to a drama,….. a lot of drama (bersambung)

[JJS] Jogja & Solo


IMG_20140522_054059

Kota kedua yang masuk dalam rangkaian perjalanan kemarin adalah Jogja, cukup dadakan karena saat itu temen2 di Jakarta lagi pada sibuk semua dan saya sendiri terlalu malas jalan2 keliling Jakarta sendirian pada saat itu. Menurut saya berdasarkan pengalaman pribadi, Jakarta pada hari Sabtu/Minggu kondisinya jauh lebih bersahabat. Di hari kerja saya merasa jalanannya jauh lebih padat dan berasap, busway sendiri sebagian besar dalam mode sarden (situasi dimana baik di halte maupun di dalam busway sendiri orangnya berdesak2an macam sarden kalengan :p) ditambah beban ransel yang cukup berat makin menambah berat langkah menyusuri panasnya Jakarta saat itu.

Setelah mendinginkan diri sejenak dengan es krim (lupa nama tempatnya, daerah Veteran pokoknya), saya langsung meluncur ke Stasiun Gambir untuk berburu kereta. Walaupun bukan musim liburan, entah kenapa hampir semua tiket sudah ludes bahkan hingga hari lebaran sudah banyak yang habis terjual. Rencana awal untuk berangkat langsung ke Surabaya dari jakarta akhirnya dibatalkan dan lokasi berikutnya dialihkan ke Jogja karena satu2nya tiket yang masih ada dengan jam keberangkatan yang paling reasonable saat itu :p

keretaTerakhir kali saya naik kereta api adalah belasan tahun yang lalu, dan ternyata kondisinya kini sudah teramat sangat jauh berubah. Perjalanan dengan kereta api sekarang sudah terasa jauh lebih nyaman dengan tempat duduk yang teratur sesuai karcis, tidak ada pedagang asongan (masih ada yg jual makanan, tapi personil PJKA sendiri), kursinyapun cukup nyaman bahkan disediakan bantal walaupun menurut saya sendiri tanpa bantalpun sebenarnya sudah ok.

Semua gerbong juga full AC bahkan gerbong ekonomi sekalipun. Saya sendiri sebagai orang kampung yang nggak terlalu terbiasa sama yang namanya AC merasa suhunya terlalu dingin (mungkin karena gerbong yang saya tempati waktu itu tidak terlalu banyak penumpangnya) tapi untungnya juga disediakan selimut. overall servicenya cukup memuaskan untuk harga yang cukup terjangkau.

Jika dibandingkan dengan pesawat, ruang gerak kita lebih luas (kaki bisa bebas selonjoran nggak kaya di pesawat yang cukup sempit), bahkan bisa jalan2 di gerbong biar nggak bosen. pemandangannya juga lebih variatif daripada di pesawat yang cuma bisa liat awan. Sama2 anti macet dan kita bisa selalu tahu posisi kita saat itu lagi dimana, bahkan bisa turun di stasiun transit manapun hehe. Worst case jika bahan bakar abis atau mesin mati sih paling keretanya berhenti di tengah jalan, gimana coba jika hal yang sama terjadi pada pesawat, siap2 baca doa aja :p.

Tapi secara waktu tempuh sih pesawat masih nomor satu pastinya (at least hingga teleporter akhirnya berhasil diciptakan :D)

 

malioboro
Jogja, sebagai salah satu ibukota propinsi, ternyata lebih kecil dan lebih sepi dari apa yang saya bayangkan. Sisi positifnya jadi lebih nyaman di jalanan tanpa terlalu terjebak macet dan pastinya nyebrang jadi lebih tenang tanpa perlu khawatir ada sopir metromini yang F1 racer wannabe. Harga makanan juga bisa dibilang cukup bersahabat (tergantung lokasi, malioboro sih ga beda jauh ama Bali).  Pepohonan juga cukup banyak menghiasi kota, namun sayangnya banyak terlihat aksi2 vandalisme dimana2, mungkin para anak muda ini perlu disediakan tempat khusus untuk ‘mengekspresikan jiwa seni’nya tanpa merusak keindahan kota yang ada.

Buat yang pengen keliling kota secara santai dan tradisional, bisa menggunakan becak yang banyak berkeliaran disini dan sepertinya menjadi alat transportasi favorit para Bule disini (ya, ternyata banyak bule di Jogja, nggak kalah sama Bali). Buat penggemar wisata mall, mungkin harus kecewa karena sepertinya tidak ada mall besar disini, sempat berkunjung sejenak ke mall malioboro dan tidak banyak yang bisa dilakukan disana. Sebagian besar objek wisata disini merupakan wisata budaya seperti keraton, candi, dan toko batik yang ada di berbagai penjuru kota.

Salah satu tempat wisata rekomendasi saya di jogja adalah kebun binatang gembiraloka, bonbin terakhir yang saya kunjungi di Indonesia adalah KBS dan kualitasnya sungguh jauh berbeda, setidaknya di gembiraloka ada banyak atraksi dan wahana2 dan tiket masuknya pun cukup terjangkau (masih lebih mahal masuk ke Bali Bird Park walaupun sudah dapet diskon kipem). Denger2 sih di Malang juga ada bonbin yang nggak kalah bagus tapi saya belum sempat berkunjung, so jika sudah ada yg pernah mengunjungi 2 tempat ini boleh dibagi pendapatnya 😀

 

IMG_20140522_085403
Dari jogja, kita beralih ke Solo. Secara feel saya merasa 2 kota ini nggak ada bedanya, nuansanya sebelas-dua belas lah. Ditambah lagi jaraknya yang cukup dekat (mungkin efek ketiduran di Kereta yang bikin perjalanan jadi terasa jauh lebih singkat), tapi suasana kotanya juga tidak jauh berbeda sih. Sempat mengunjungi pasar klewer yang didominasi oleh pedagang Batik (entah batik jogja sama solo itu sama apa nggak, saya nggak terlalu ngerti batik) setelah muter di alun2 kota Solo.

Di Solo juga ada sebuah taman yang cukup luas bernama Taman Balekambang, tempatnya nyaman untuk bersantai dan menurut saya seharusnya kota2 besar terutama Jakarta seharusnya mempunyai beberapa tempat seperti ini. Ya kali aja jika Jakarta punya banyak taman, frekuensi banjirnya bisa jadi berkurang, daripada lahannya dipake buat bikin mall terus kan hehe.

Liburan waktu itu tidak banyak yang bisa saya kunjungi karena sebagian besar merupakan acara spontan, jadi nggak sempet cari info apa yang perlu dikunjungi. Lain kali sepertinya saya akan kembali mengunjungi Jawa Tengah, tapi kali ini pas musim liburan aja biar ada yg bisa jadi guide dan nunjukin spot2 bagus 😀

[JJS] Vending Machine


Vending Machine bandara

Vending machine, sebuah mesin penjual minuman yang sekarang sudah makin banyak terlihat di Indonesia, khususnya di tempat2 seperti bandara, stasiun, dan sejenisnya. Namun tampaknya masih jarang masyarakat yang menggunakan benda yang satu ini, entah karena masih asing, penggunaan yang cukup repot karena uang kertas yang digunakan harus bagus sementara kebanyakan uang yang beredar di Indonesia pada lecek, atau karena harganya yg mahal (air mineral seharga 2500 di minimart bisa jadi goceng di mesin ini).

Gambar di atas merupakan salah satu vending machine yang ada di salah satu bandara di Indonesia (hayooo tebak bandara mana itu), dari penampakannya sih sepertinya masih cukup gres (dibandingkan vending machine di Soetta yg kucel hehe) tapi tampak sepi peminat karena para pengguna jasa bandara lebih memilih jajan di toko2 sekitar yang harganya juga nggak kalah mahalnya. Sebisa mungkin bawa makanan/minuman sendiri deh kalo ke bandara buat jaga2 semisal ada delay, atau jika terpaksa harus beli makanan di Bandara saya lebih menyarankan rotiboy yang harganya tidak jauh berbeda dengan harga di luar bandara daripada sakit hati beli semangkok soto seharga 30 ribu dengan porsi kecil dan kualitas yang masih kalah dengan soto gerobak pinggir jalan :p.

Nah, saat tour de Java kemarin. karena penggunaan GPS dan browser secara intensif, batere hape terkuras drastis sehingga saya terpaksa numpang ngecas di salah satu stasiun kereta. Awalnya sih biasa aja duduk manis browsing spot wisata sambil ngecas tapi lama2 kok merasa ada yg ngeliatin. Mulai memperhatikan sekitar dan melihat ada ibu2 yang ngeliatin sekilas trus ngeliat arah lain, dan ini terjadi beberapa kali. Dikira artis apa ya *geer mode on*. Nggak lama kemudian si ibu mulai jalan mondar mandir sambil tetep ngeliatin sesekali. Tapi setelah selesai ngecas dan pindah lokasi kok si ibu masih ngeliatin ke arah situ padahal kosong ga ada sapa2 (apa si ibu ngeliat ada penampakan ya di situ? hiiiy) trus malah mendekat dan pada akhirnya terbengong2 ngeliatin vending machine, mau mencet nggak jadi, maju dikit mundur lagi, dan akhirnya diliatin doang

si ibu

Karena gemes ngeliatinnya, akhirnya saya berinisiatif untuk beli 1 minuman dalam rangka ngasih contoh cara penggunaan vending machine ke ibu2 yang tampak (ragu/takut/krisis PD/malu tapi mau) ini. Dan benar saja, setelah melihat live demo tersebut si ibu mengeluarkan uang dari dompetnya, maju dengan penuh percaya diri, dan ………… menyerahkan uang itu ke saya sambil berkata “mas, saya mau beli yang ini, tolong pencetin dong” sambil nunjuk ke salah satu minuman!!!!!. Dan parahnya, setelah membantu ibu2 ini mendapatkan minumannya, 2 orang yang entah sejak kapan sudah ngantri di belakangnya ikutan nitip minta dibeliin >_<

Untungnya pasien berikutnya tampak cukup mandiri dan punya rasa ingin tahu yang tinggi untuk mencoba sendiri, namun setelah uangnya dimuntahkan kembali oleh si vending machine untuk yang kesekian kalinya, akhirnya sambil malu2 doi mendekati saya sambil menyodorkan surat cinta selembar uang sepuluh ribuan dengan banyak bekas lipatan -__-. Sore itu akhirnya saya berprofesi sebagai petugas vending machine. Ada yang punya pengalaman serupa?

Reportase Jakarta


Jakarta

Jakarta, kota tujuan pertama dalam seri jalan2 kali ini sebenarnya sudah cukup sering saya kunjungi ketika saya masih tinggal di Bali dan pilihan transportasinyapun cukup beragam jika dibandingkan dengan Bali sendiri. Menurut saya sendiri, macetnya Jakarta cukup dapat ditoleransi, tapi itu mungkin karena saya jalan2nya nggak di jam sibuk :p. Kondisi kotanya sendiri menurut saya tidak banyak berubah dengan kunjungan terakhir saya tahun lalu.

Untuk tempat hiburan, sepertinya tidak banyak tempat spesial di Jakarta selain Dufan atau TMII (yang menurut saya juga tidak terlalu menarik, cuma sempet nyobain teater keong mas aja) dan salah satu pilihan buat ngadem dari puanasnya Jakarta adalah mall. Jumlah mall yang ada di Jakarta sendiri menurut saya teramat sangat banyak sekali untuk sebuah propinsi yang bisa dibilang tidak terlalu besar itu (ya jumlah penduduknya juga terlalu padat sih) dan karena saya sendiri bukanlah seorang penggemar mall (cuma nyobain taman anggrek dan sempet bingung nyari pintu keluar :hammer:) maka saya menghabiskan waktu dengan wisata outdoor macam ngeliatin orang jogging di monas dengan resiko terkena kanker kulit 😐

penjara anak, di mana ini hayooo

penjara anak, di mana ini hayooo

Berikut ini daftar transportasi yang saya coba di Jakarta

1. Bus Damri

IMG_20140521_064844

ada tempat penitipan balita, bisa buat koper juga padahal

Dibandingkan taksi, Damri adalah transportasi dari dan ke bandara dengan tarif yang cukup terjangkau. Dengan Rp 30rb saja, anda sudah bisa naik bus AC yang dilengkapi dengan WIFI (ya betul sekali, ada Wifinya dan saya baru tau kemarin. tapi terakhir kali saya ke Jakarta emang hapenya masih jadul sih jadi ga guna juga ada wifi :p). Walaupun busnya sudah tersedia dari pagi, namun loketnya sendiri baru resmi buka sekitar jam 8 pagi. tapi nggak masalah sih, bisa beli tiket di dalam bis kok :). Untuk rute dari bandara sendiri, walaupun tersedia banyak pilihan mulai dari Kemayoran, tanjung priok, Gambir, pasar minggu, dan masih banyak lagi, namun yang paling banyak adalah Blok M dan Mangga Dua (terbukti ketika saya nunggu 1 bus ke Gambir sudah ada 4 bus ke blok M >_<). Namun jika anda tiba di Bandara pagi2 buta, ada cukup banyak sopir taksi desperate yang bisa ngasih harga miring namun dengan sistem setaksi berdua/tiga. Saya pernah naik taksi dari Bandara ke Kuningan jam 5 pagi berdua dengan hanya membayar 25 rb saja. Dan ternyata jaraknya cukup (baca : sangat) jauh

2. Busway

Buat saya yang nggak terlalu ngerti jalan dan nggak jelas mau kemana, Busway adalah sarana transportasi favorit saya karena ada banyak koridor yang tersedia dan tarifnya tidak melihat jarak. Hanya dengan Rp 3500, anda bisa naik dari Halte random mana saja dan turun di Halte transit kemudian berpindah ke rute lain tanpa membeli tiket lagi sampai anda tiba di tempat yang sekiranya cukup menarik untuk disinggahi :p. Salah satu kekurangannya menurut saya adalah jadwal yang tidak menentu. Di salah satu halte, indikatornya mengatakan bus berikutnya akan tiba 5 menit lagi namun hingga 25 menit dan panjang antrian bertambah 3x lipat masih belum ada tanda2 bus mendekat sementara rute sebelah sudah lewat beberapa kali >_<. Ya mungkin keterlambatan ini disebabkan oleh motor2 nakal yang masuk ke jalur busway walaupun katanya sudah diberlakukan denda yang cukup besar. Menurut saya sih kalo tilang sama denda udah nggak mempan buat pengendara2 macam ini, tabrak aja pak pake Bus. Terbukti selama ini nggak ada pengendara nakal yang jalan menyusuri jalur kereta kan >:). Selain itu kadang kapasitasnya lebih parah dari sarden kalengan dan membuat para penumpang harus ekstra hati2 saat pintu busway terbuka karena satu dorongan kecil saja sudah bisa meluberkan isi busway tersebut. Dengan kepadatan macam itu, saya tidak yakin tangan para pencopet bisa leluasa beraksi di dalam sana, yang ada malah si copet mati kehabisan nafas duluan -__-

3. Kopaja

Menurut hemat saya, merupakan sarana transportasi termurah yang ada di kota Jakarta yang pernah saya gunakan. hal ini berbanding lurus dengan kondisi kendaraan dan kualitas sopirnya sih. Sang sopir literally bisa nurunin penumpangnya di tengah jalan!!!, ya benar2 tanpa minggir dan berhenti tiba2 di tengah jalan raya buat nurunin penumpang. Dan saat sang penumpang mau turun tiba2 wuuzzzz!!!, dengan kencangnya ada kopaja lain yang lewat tepat di samping pintu keluar. Untung saja si kenek cukup sigap untuk narik si ibu atau satu kaki akan melayang hari itu :hammer:

Di terminal sendiri saya lihat ada beberapa kopaja dengan bodi yang mulus, namun entah kenapa yang dioperasikan malah yang bodinya ringsek dan jika saya tonjok akan menambah koleksi penyokan pada bodi kopaja tersebut

4. Kereta Api

kereta khusus wanita

kereta khusus wanita

Jika bau keringat di penuh sesaknya halte harmoni dirasa kurang kuat. Anda bisa mencoba stasiun kereta yang pada jam2 sibuk tidak kalah ramai. Namun salah satu yang menarik dari kereta adalah adanya kereta khusus wanita. Entah apa kelebihannya selain ada banyak pilihan wanita(pilihan buat diliat maksudnya, bukan biro jodoh ini) di dalamnya, mungkin keretanya lebih wangi dan ada fasilitas2 tambahan seperti ruang rias atau lulur manikur pedikur juga kali ya. buat para wanita yang sudah pernah nyobain, tolong dishare dong dalemnya kaya gimana 😀

Secara kegiatan sendiri, tidak ada tempat spesial yang bisa dishare dalam kunjungan kali ini. cuma ngabisin waktu muterin kota nyari hotel budget dan makan2 doang disini. Mungkin lain waktu di kunjungan berikutnya jika ada jakartaers yang tahu tempat menarik yang bisa dikunjungi disini bisa dishare 🙂

Tadaimaaa


Jadi bulan Mei kemarin saya melakukan tour de Java dalam rangka ngabisin cuti tahunan, sebenarnya hal ini sudah cukup lama direncanakan walaupun tujuan pastinya masih sering berubah hingga pada akhirnya diputuskan bahwa kota pertama yang akan disinggahi adalah Surabaya dan tiket dengan tanggal keberangkatan 24 Mei 2014 sudah siap di tangan :D.

Karena satu dan lain hal (well, benernya sih udah bosen aja di kantor tanpa aktivitas), tanggal 20 Mei saya membeli tiket dengan tujuan Jakarta dan berangkat pada hari itu juga. Awalnya sih cuma nanya hari itu ada tiket promo ke Jakarta apa kaga tapi sepertinya terjadi miskomunikasi dan bener2 dibookingin tiket promo di hari itu, daripada kebuang akhirnya berangkat dah =)). Dan karena cukup dadakan maka setibanya saya di Jakarta, sempat kebingungan dulu di Bandara karena ga tau tujuannya kemana, tapi free wifi di bandara cukup membantu untuk memutuskan langkah berikutnya. Terakhir kali saya ke Soetta, nggak ada free wifi padahal. Entah apakah ini adalah fasilitas khusus untuk terminal 3 atau bagaimana secara saya lihat fasilitas2 yang disediakan disini tampak lebih lengkap dan modern dibandingkan dengan terminal 1 dan 2, bahkan ada tempat main segala.

salah satu fasilitas bandara

salah satu fasilitas bandara

Daftar kota yang disinggahi dalam liburan kali ini adalah : Jakarta – Jogja – Solo – Surabaya – Tasikmalaya – Bandung – Makasar. Mayan banyak ya, dan hampir semuanya ditentukan on the spot berdasarkan ketersediaan tiket, jadi nggak sempet publikasi di media buat jumpa fans, cuma sebatas broadcast FB dan WA doang buat kumpul2 dadakan :p.

Postingan kali ini cuma dalam rangka menginformasikan bahwa saya sudah kembali dengan selamat, terima kasih atas arahan teman2 sekalian sehingga saya nggak nyasar dan dapet hotel low budget yang aman dan nyaman (special thanks buat beberapa pihak yang ngasih tempat nginep gratis, sangat membantu dalam hal budgeting sehingga kota tujuan dalam liburan kali ini bisa nambah di luar rencana hehe). Reportase kunjungan masing2 kota menyusul di postingan2 berikutnya kalo sempet dan masih inget 😀

review : CAT Bus


Fokus utama saya setiap mengunjungi tempat baru adalah sarana transportasinya, hal yg sangat penting tentunya bagi yg niat jalan2. Sama seperti di Singapore, MRT adalah sarana transportasi yg populer disini, tapi ada beberapa perbedaan pada MRT sini yg membuatnya tampak lebih bisa diterapkan di Indonesia :

– bebas makan minum di stasiun

nggak seketat stasiun MRT singapore yg mengenakan denda $50 buat yg kedapetan makan minum di stasiun, disini kayanya bebas2 aja makan sambil nunggu kereta (waktu tunggu antar keretanya memang sedikit lbh lama dari singapore sih, jeda 15 menit tiap kereta). Konsepnya lebih cocok buat Indonesia kan, tukang pop mie sama nasi bungkus masih bisa tetep jualan. Ga perlu repot2 pasang banyak kamera pengawas kaya di Singapore yg tentunya bakal ilang dicolong sblm seminggu beroperasi di Indonesia :p

– sistem tiket perZone

beda dengan Singapore dimana harga tiket ditentukan berdasarkan jarak darimana kemana, di Perth tarif MRTnya berdasarkan zone dan bisa digunakan kemana saja dalam waktu 2 jam dalam zone itu. Jadi misalnya kita beli tiket zone 9 (panjang maksimal zone disini), maka dalam waktu 2 jam, 1 tiket itu bisa digunakan naik turun MRT dimana aja. Praktis buat yg pengen jajan dulu di tengah jalan ato inget ada yg ketinggalan, ga perlu beli tiket lagi :D. Cocok buat orang Indonesia yg suka praktis dan ga pengen repot beli tiket lagi, konsepnya mirip2 mikrolet di pulau Jawa 😀

– cek tiket manual

jika di singapore ada mesin tag tiket untuk keluar masuk stasiun (ga bakalan bisa keluar kalo turun di stasiun yg nggak sesuai) yg tentu saja cukup mahal untuk dibikin di Indonesia (biaya pengadaan, uang pelicin, ongkos pasang, maintenance, dll) dan setelah dipasang juga kayanya ga sampe sebulan udah rusak :p. Maka pengecekan manual seperti yg dilakukan di Perth ini kayanya lebih cocok diterapkan :D. Melihat iklan dan kenyataan selama sini sih penduduk lokal sini jujur2 dan taat peraturan lho, pengecekan tiket juga jarang banget keliatan jadi harusnya bisa2 aja naik MRT gratis disini kalo lagi beruntung :p. tapi klo apes ada pengecekan dan kedapetan ga beli tiket, dendanya mayan gede dan namanya bakal direcord :p. Tapi buat orang Indonesia yg suka tantangan (naik kereta di atap biar gratis yg taruhannya nyawa), tentunya ga ada apa2nya ini kan 😀

Dan topik utama hari ini adalah sarana transportasi favorit saya disini, CAT bus atau biasa disebut bis kucing :D. CAT disini adalah singkatan dari City Area Transit dan bentuknya nggak kaya gambar di atas :p. Masing2 daerah disini punya kucing sendiri2, di Perth sendiri ada 3 jenis CAT bus, merah, kuning, dan biru. masing2 dengan rutenya sendiri

Kendaraan satu ini benar2 aset berharga untuk memajukan pariwisata, fitur2 pentingnya

1. GRATIS

betul sekali sodara2, kita bisa keliling kota mengunjungi objek wisata yg dilewati si kucing ini dengan GRATIS. Tentu saja kita nggak bebas naik turun dimana aja kaya bis damri 😐

2.  Ontime

CAT bus muncul tiap 15 menit dan hampir di tiap halte ada penunjuk waktu yg menandakan berapa menit lagi kucing berikutnya tiba, brosur rute 3 CAT bisa didapatkan dengan gratis di dalam. Ketepatan waktu ini menurut saya adalah hal utama yg dibutuhkan angkutan umum di Indonesia yang sering ngetem nunggu penumpang penuh >_<

3. Nyaman

Harga biasanya nggak bohong, tapi biarpun gratis, angkutan satu ini tetap mengutamakan kualitas. pelayanan yang ramah, kapasitas yg cukup besar (muat 50 orang lebih tanpa perlu berdesak2an), dan yang cukup mengagumkan ternyata bis ini punya fitur khusus yg didesain untuk penumpang dengan kursi roda. Jadi ketika ada penumpang dgn kursi roda/ ibu2 dgn stroller, bis ini bisa miring ke kiri dan di tangganya keluar papan jadi stroller/wheelchair bisa keluar masuk dengan mudah :D.

Jika sarana transportasi semacam ini diterapkan di Indonesia, terutama Bali sebagai kota pariwisata yg miskin angkutan umum, pasti bakal banyak pengguna kendaraan yg beralih ke angkutan umum yang tentunya bisa mengurangi kemacetan :D.

nb : denger2 di Bali skrg sudah ada bis Sarbagita, blm pernah nyobain soalnya dah keburu jadi TKI sblm Sarbagita launching. tar balik langsung nyobain ah. yg udah ngerasain, kasih testimoni dong 😀

Another Kebodohan di Negeri Orang


Trending topic saat ini harusnya #17an, sayangnya gw ga bisa ngebahas acara 17 Agustusan disini soalnya sama sekali ga ada yg ngerayain (boro2 ngerayain, kmrn gw malah ngantor -__- ). Benernya di Bali juga, 17 Agustus tidak terlalu rame dirayakan sih, ya setidaknya itu yg gw tangkap di area kos gw sih. Ga ada bendera yg dipasang di sepanjang gang kampung, ga ada acara lomba menghias gapura (soalnya emang ga ada gapuranya 😐 ). Penasaran juga sih benernya apakah tahun ini 17an tetep dimeriahkan dengan lomba2 khas macam balap karung, panjat pinang, dan makan kerupuk secara kali ini 17 Agustus jatuh di bulan puasa. Makan kerupuk jelas bikin batal, dan lomba2 lain cukup menguras stamina yg tentunya bikin haus. Alternatif lain mungkin lomba2nya diadakan di malam hari tapi balap karung di malam hari tentunya mengundang pocong yg merupakan salah satu pakar di bidang ini untuk ikutan.

Cukup sudah dengan 17an!! topik ini mengingatkan lembur kmrn yg cukup membosankan karena chat list yg sepi. Cukup sekian postingan hari ini.

.

.

.

Pengennya sih ngomong gitu, tapi kayanya kurang cocok ada postingan singkat mejeng di blog ini. Draft yg tersedia sih membahas kreasi masakan yg tercipta disini. Mahalnya harga makanan dan dapur yg cukup komplit serta aktivitas malam nonton Master Chef membuka kenangan lama bersama Farah Quinn (nonton acara masaknya) dan menggugah diri ini untuk masak. Tapi karena sekarang bulan puasa, diposting setelah lebaran aja biar ga nambah dosa :p.

Jadi ceritanya di minggu kedua gw di negeri koala, datanglah paket dari Bali berupa orang. Ya, kalian ga salah baca, ada kiriman orang (sebut saja HS, bukan nama sebenarnya) yg artinya gw nggak sendirian lagi dan kalo ada rampok gw ada kesempatan kabur selagi rampoknya asik menguliti HS (ini rampok apa psikopat sih). Dan sama seperti gw dulu, si HS ini dikirim tanpa dibekali informasi apapun, bahkan tiketnya aja dikasih penerbangan malam yg nyampe sini sekitar jam 2 pagi. Sebagai teman yg baik, tentunya gw ngasih info2 penting biar ntar nggak ngemper di bandara subuh2

Gw yg biasanya ngantor pake sendal di Indo akhirnya beli sepatu kets buat dipake nampang di kantor orang, tapi ternyata dress code disini cukup formal. Jadi aslinya gw lega ada kiriman orang soalnya ada yg bisa dititipin beli sepatu dari Indonesia (ga mau rugi dobel beli sepatu disini yg harganya selangit) :p. Ternyata nggak cuma gw lho yg bingung cara make coffee machine disini (yesh, ternyata bukan gwnya yg kampungan), dan menurut gw cara make mesin keramat ini adalah materi pengenalan kantor yg lebih penting dari Struktur Organisasi Kantor 😐

Penampakan Coffee Machine

Walaupun gw cukup baik ngasih tau dress code dan cara bikin kopi dengan baik dan benar, tapi gw nggak sebaik itu ngasih tau rahasia pintu WC otomatis dan cuma ngasih tau lokasi WCnya :D. Bahkan cukup jahat dengan cengar cengir di belakang melihat HS kaget kenapa pintunya tiba2 kebuka dan kebingungan narik2 pintu biar mau nutup (untungnya ga ada bule cewe nongol kaya gw dulu). ya setidaknya gw ada bahan minta maaf pas lebaran ntar hehehe.

Cukup sudah nyeritain orang, saatnya kembali merecord kebodohan sendiri. Minggu lalu gw ngeledakin oatmeal pake Microwave kantor tanpa sengaja :|. ceritanya pagi itu gw bangun kesiangan dan ga sempet sarapan, so gw bawa oatmeal instan yg di bungkusnya dibilang bisa dimasak pake microwave (bahkan ada petunjuk penggunaannya). Lagi asik baca koran sambil nunggu, ada yg nanya “Whats cooking doc?” (gw lupa kalimat tanyanya gimana, tapi kira2 gitulah intinya). Dengan polos dan tanpa dosa gw bilang oatmeal, dan dengan tampang aneh dia bilang “Are you sure?”. Disini gw mulai ngerasa ga enak, apa maksud pertanyaan itu. Tentu aja gw yakin kalo gw masak oatmeal, apa gw ga sengaja nuang detergen ke mangkok tadi ya? Akhirnya gw cek dari jendela microwave kali aja gw salah masukin hape, bukannya mangkok kesana. tapi kok gak keliatan apa2 ya? gw stop tuh microwave dan begitu dibuka ternyata tuh oatmeal udah meledak dan tersebar merata bagaikan dikocok dengan penuh nafsu di dalam microwave >_<.  Lesson learned : jangan masak oatmeal pake oven. Pesan ini terutama disampaikan buat yg pernah masukin pisang ke dalam toaster 😐