Motivation


Motivasi, merupakan salah satu alasan bagi seseorang untuk melakukan sesuatu, pendorong sebuah tindakan untuk mencapai suatu tujuan. Misalnya waktu kecil (sampai sekarang sih), saya yang biasanya susah bangun pagi, waktu hari Minggu bisa bangun pagi sendiri buat nonton kartun :p. Untuk urusan akademis sih, walaupun nggak pernah masuk 10 besar tapi aslinya saya nggak goblok2 amat lho, hanya agak sulit membagi waktu saking padatnya aktivitas sehari2 mulai dari tidur siang, main, dan nonton tipi (waktu kecil dulu termasuk maniak TV, hafal jadwal acara semua channel yang waktu itu cuma 5 doang).

Encouragement dari ortu waktu itu agar lebih rajin belajar biar pas gede bisa jadi [you name it lah, standar cita2 harapan ortu] sama sekali nggak mempan, karena saya nggak pengen jadi itu semua, bahkan waktu kecil (sampai sekarang malah) saya nggak punya cita2. Jadi belajar secukupnya (sengantuknya), yang penting nggak dapet nilai merah walaupun nggak bagus2 amat biar nggak dimarahi.

Waktu kelas 3 SD, wali kelas saya adalah guru yang dikenal killer dan di kelas 3 itu pula nilai2 saya ada peningkatan. Tentu saja waktu itu ortu mengaitkan perubahan tersebut dan beranggapan saya jadi lebih rajin karena takut sama guru killer tersebut. Padahal aslinya sih disebabkan oleh kebiasaan beliau ngasih stempel/stiker di samping nilai 100 :). Jadi motivasi utama saya waktu itu cuma mau koleksi semua jenis stempel yang ada XD. Di tahun2 berikutnya, motivasi saya adalah komik, dan kenyataan yang tidak bisa dijelaskan bahwa baca komik malah meningkatkan prestasi akademik membuat ortu saya menerima hobi baru ini. win-win solution lah :p

Setelah lulus SMA, sebagai seseorang yang nggak punya cita2, saya mendaftar di salah satu universitas swasta tempat sebagian besar teman2 satu geng saya berada dan di jurusan yang sama. Namun karena keinginan ortu agar anaknya jadi dokter (hampir semua ortu penen anaknya jadi dokter di masa itu, dan jadi jawaban default anak2 termasuk suzan kalo ditanya mau jadi apa kalo udah gede), saya ikut UMPTN. Bahkan saya diikutin bimbel buat persiapan UMPTN, padahal waktu SMA nggak ikutan bimbel atau sejenisnya. Jangankan ikutan les, bikin peer aja di kelas :p. Tiap minggu diadakan try out di tempat bimbel, dan sekalipun nggak pernah lolos (not proud about this, but no shame either).

Di minggu terakhir sebelum final try out, ketemu guru BK yang memberikan saran untuk mengganti agar saya ganti pilihan lain selain kedokteran. Sayapun menjelaskan bahwa aslinya saya nggak masalah dengan jurusan apapun dan ini cuma ngikutin keinginan ortu. Doi kemudian menyarankan untuk daftar fakultas kedokteran di Universitas lain. Awalnya pengen menjelaskan alasan pemilihan univnya karena di kota itu ada keluarga, jadi biar ga repot nyari kos2an nantinya. Namun karena penasaran dengan saran2 tersebut, apakah feng shui universitas tersebut nggak cocok dengan saya, rasi bintang saya nggak bisa jadi dokter, atau mungkin menurut mbah BK saya cocoknya kerja di aer, dengan kalem saya tanyakan kenapa begitu? dan dengan nggak kalah kalem, beliau mengatakan target saya ketinggian serta menganjurkan agar saya menentukan pilihan yang passing gradenya lebih achievable. Sebuah saran yang sangat berkesan mengingat selama ini, kebanyakan orang mengatakan “gantungkan cita2mu setinggi langit”.

Waktu try out terakhir, saya mengikuti saran yang diberikan dan mengganti pilihan pertama saya di lembar try out. Dari fakultas kedokteran ke jurusan lain yang passing gradenya lebih tinggi!!! Dan tidak seperti sebelum2nya, saya mengerjakan try out terakhir dengan berapi-api dan penuh konsentrasi. Dan hasilnya……. tetep nggak lulus!!! bahkan nilainya lebih rendan dari try out sebelumnya!!! -_-

Entah kenapa, kata2 guru BK yang namanya bahkan saya sudah lupa beberapa jam setelah sesi konsultasi itu memotivasi saya untuk membuktikan saya bisa (atau cuma membuktikan dia salah!!, confidence, pride, or just stubborn?). Ketika tiba saatnya daftar ulang di Universitas swasta di mana saya diterima waktu itu (penerimaan univ swasta dilakukan sebelum UMPTN), saya memutuskan untuk mempertaruhkan segalanya di UMPTN. Ya salah satu alasannya juga karena duitnya cuma bisa balik 50%semisal nantinya lulus UMPTN, jadi mental Paman Gober saya memilih untuk nggak bayar sekalian (50% dari 0 = 0).

Singkat cerita, secara tidak disangka2, saya lulus UMPTN dan diterima di pilihan pertama saya yaitu Informatika. Ada rasa kepuasan tersendiri ketika melihat hasilnya terpampang di dinding tempat bimbel, mengumumkan hasil tersebut ke ortu. Dan akhirnya kesadaran saya kembali ketika ortu nanya “Informatika itu ngapain ya?”, membuat saya ikutan bertanya dalam hati “iya, itu ngapain ya??!!!”

Iklan

Training 7 Habit


Mungkin karena saya mengeluh pada performance review tahun lalu tentang nggak ada ilmu yang bisa dipelajari selama 2 tahun di sini dan keinginan untuk ikut training eksternal walaupun niat tersembunyinya biar bisa jalan2 aja aslinya, tahun ini saya jadi beberapa kali disuruh mengikuti training walaupun nggak seperti yang saya harapkan (cuma sekali aja jalan2, selebihnya training lokal doang). Mungkin lain kali harus secara eksplisit ngomong pengen jalan2 berkedok training kali ya :p

Jadi training terakhir yang saya ikuti membahas tentang working habit, bisa ditebak dari namanya bahwa ini adalah training “soft skill” yang nggak beda jauh dari seminar motivasi atau pertemuan MLM, tapi paling nggak masih lebih relevan lah dibandingkan training sebelum ini tentang bekerja di ruang tertutup dimana trainernya cuma mengajukan 1 pertanyaan kepada saya dan selanjutnya saya seperti tidak ada di sana sampai acara berakhir :p

Poin utama yang ditekankan di training ini adalah membentuk “can do attitude”, sebuah proses transformasi yang digambarkan sebagai anak tangga mulai dari paling bawah di mana kita malihat kesuksesan orang lain, berharap menjadi sukses, hingga akhirnya melangkah dengan penuh percaya diri ke jalan tersebut. Ada 7 habit yang dibahas dari pagi hingga sore (nggak terlalu inget tapi apa 7 itu, mungkin bisa dicari2 di internet).Namun di sini, saya tidak mau ikutan berteori karena hidup itu tidak semudah cocote Mario Teguh

Saya yakin sang trainer sudah sering sekali membawakan materi ini dan sudah punya gambaran peserta, respon dan pertanyaan yang akan dilontarkan, dan lain sebagainya. Dan kehadiran saya di sana membantu memberikan variasi biar pengalamannya makin beragam, tapi saya berusaha menjadi anak baik yang hanya duduk manis dan tidak terlalu aktif berpartisipasi (emang pada dasarnya males aja sih) kecuali ditanya. Berikut ini beberapa hal yang mungkin merupakan anomali

1.Group Habit
Training diawali di ruang kelas dimana ada beberapa meja bundar yang membagi peserta menjadi 5 grup, setelah itu ada outdoor activity dan semuanya kembali diminta untuk membentuk 5 kelompok bebas. Di lapangan, si trainer mengatakan bahwa tanpa sadar ketika membentuk kelompok, manusia akan berkumpul bersama orang2 yang dikenalnya jadi di dalam kelas, orang2 yang sekantor akan berada di kelompok yang sama.

Demikian pula ketika di luar, setelah beberapa jam menjadi satu kelompok di ruang kelas, ketika disuruh membentuk kelompok di luar, kecenderungan untuk berada di antara orang2 yang sama itu tetap ada. Sayangnya saya adalah kasus khusus yang nggak sesuai dengan teorinya. Karena lebih sering berkomunikasi via email, saya nggak tahu siapa saja peserta yang sekantor jadi waktu datang awal2 di kelas duduknya random. Dan ketika outdoor activity, saya nggak ingat siapa saja yang segrup waktu di kelas jadi lagi2 ngumpulnya random :p

2. Can Do Attitude

salah satu permainan yang dilakukan waktu outdoor activity adalah membentuk lingkaran dari tali rafia. Jadi si trainer menggenggam 6 potong tali rafia di tengah2 dan masing2 orang memegang potongan tali atas dengan tangan kanan, dan potongan tali bawah dengan tangan kiri. setelah semua orang sudah memegang tali. si trainer melepaskan tali tersebut dan kita disuruh membentuk lingkaran besar dengan syarat tidak boleh melepaskan tali yang kita pegang.

Di percobaan pertama, saya melihat dari potongan tali yang dipegang saat itu bahwa tidak mungkin ini bisa dilakukan dan menyarankan untuk “mereset” hingga mendapatkan initial start yang menguntungkan. Namun salah satu bapak2 anggota kelompok mengingatkan saya pada “can do attitude” bahwa semuanya bisa dilakukan jika kita berusaha. Usaha saya menjelaskan kenapa hal ini tidak bisa dilakukan tampak sia2 karena dia juga berusaha meyakinkan saya untuk “mencoba dulu dan tidak patah semangat”. Males berargumen, akhirnya saya memilih opsi “yowis, karepmu lah” (tidak diucapkan terang2an tentunya) dan setelah lebih dari 10 menit mencoba mengarahkan anggota kelompoknya berputar2 kesana kemari akhirnya dia menyadari nggak semuanya bisa dilakukan cuma dengan modal keyakinan. Sepertinya si bapak perlu ikut traning work smart, not just work hard :p

3. Teamwork and Trust
Salah satu permainan lain yang dilakukan 2 orang. Orang pertama matanya ditutup dan harus mencapai finish secepat mungkin sambil menghindari “ranjau” yang disebar di lapangan. Orang kedua bertugas mengarahkan orang pertama dan untuk setiap ranjau yang terinjak ada penalti waktunya.

Sebagai pelari terakhir di kelompok, saya berkesempatan untuk mengamati pelari2 sebelumnya dan melihat di tengah keributan dan arahan dari kelompok2 lain, cukup susah membedakan suara arahan teman kita. Selain itu walaupun kita bisa membedakan suaranya, cukup susah juga menghindari ranjau yang ada, instruksi maju-kanan-kiri atau instruksi lain tidak begitu membantu. Jadi saya memformulasikan stragegi khusus untuk memenangkan permainan ini, yaitu dengan berlari sekencang mungkin dengan langkah besar tanpa memperdulikan instruksi yang diberikan XD

Dengan mengambil langkah besar, jumlah langkah yang diperlukan untuk mencapai finish tidak terlalu banyak jadi worst case setiap langkah menginjak ranjau juga penalti waktunya nggak gitu terasa karena perbedaan waktu yang cukup besar dibandingkan peserta lain yang melangkah perlahan dan berhati2 untuk mencapai finish :p. Saya nggak yakin bagaimana respon trainer, rekan saya, ataupun penonton dari tim lain ketika saya melakukan hal ini. yang pasti saya cukup puas meraih skor tertinggi di permainan ini walaupun mengabaikan tema teamwork yang diangkat :p

Apakah saya akan merekomendasikan training ini pada rekan kerja yang lain? tentu saja, makan siang dan snack coffee break yang disediakan cukup enak 🙂

Habit


Kata orang, sifat dan kebiasaan itu melekat pada diri kita dan susah dihilangkan. Namun setelah sekian lama melakukan eksperimen, sepertinya habit itu tergantung dari kondisi lingkungan, gaya hidup, dan seperti rokok, bisa dihilangkan walaupun awalnya terasa susah.

Misalnya, waktu dulu saya suka sekali nonton tv. Jadwal acara semua stasiun televisi yang waktu itu tidak lebih dari 7 saya tahu, bahkan nggak jarang multitasking nonton beberapa acara sekaligus dengan ganti2 channel waktu jeda iklan yang cukup lama, dan merasa sedih ketika ketinggalan salah satu acara karena ketiduran atau hal lainnya. Saya bahkan terlambat datang mengikuti ujian masuk sekolah karena episode terakhir salah satu serial yang durasinya beberapa menit lebih panjang dari biasanya :p. Namun setelah itu ada fase dimana saya tidak nonton tv selama bertahun2 dan tidak merasa kehilangan.

Saya juga adalah seorang otaku yang mulai mengkoleksi komik sejak kelas 5 SD, menyisihkan uang jajan sampai kadang rela pulang sekolah jalan kaki buat beli komik. Kebiasaan ini makin parah ketika mengenal yang namanya scanlation waktu kuliah, koleksi meningkat secara eksponensial karena biaya dan ruang yang dibutuhkan nyaris tidak ada. Namun sekarang sudah berbulan2 saya tidak membaca manga walaupun sebenarnya bisa2 aja, dan walaupun awalnya susah untuk menahan godaan tersebut, ternyata kebiasaan baca komik bisa juga digantikan dengan aktivitas lain sehingga kebiasaan tidak baca komik akhirnya menetralisir godaan tersebut. Nantinya akan dilakukan eksperimen apakah ketika kebiasaan lama yang sudah sempat dihilangkan ini nantinya dimunculkan lagi, apakah intensitasnya akan sama seperti sebelumnya dan apakah kenikmatan yang dihasilkan masih tetap sama, berkurang, atau malah lebih.

Waktu kecil, saya adalah anak yang cerewet dan gemar bersosialisasi. Tiap rapotan selalu ada catatan dari guru agar tidak terlalu banyak ngobrol di dalam kelas. Bukan tipe yang bisa duduk manis lah pokoknya. Dan karena cukup sering pindah2 di mana di tempat baru nggak kenal siapapun dan harus memulai interaksi sosial dari 0, saya terkadang membangun image yang berbeda untuk menyesuaikan diri di lingkungan baru dengan optimal. Di tempat A saya bisa jadi sosok yang serius, di tempat B jadi joker, jadi geek pekerja keras di tempat C, dan males2an di tempat D. Jadinya harus selektif di media sosial agar tidak mencampur semua kenalan2 yang ada di satu tempat demi menghindari clash personality nantinya :p

15 tahun yang lalu, saya pasti tidak menyangka bahwa saya bisa hidup di tempat terpencil yang nggak punya bioskop ataupun mall, bahkan mcD pun tak ada serta nggak nonton tv ataupun baca komik. but here i am. Dan mengutip pertanyaan yang sering digaungkan waktu interview, 5 tahun lagi kira2 kaya gimana ya? hmmmm…..

nb : tulisan ini dibuat karena tiba2 dapet notifikasi bakal didaftarin ke training pembentukan kepribadian bulan depan. nggak tahu macam mana itu isinya, apakah bakal diajarin table manner dengan 7 jenis sendok garpu dan full course atau jalan sambil bawa kamus di atas kepala? bukan kursus kepribadian yang kaya gitu sih kayanya, tapi lets see lah

The Pandas


Jadi ceritanya baru2 ini saya pindahan, dan karena di pindahan terakhir dari Bali dimana saya harus membagikan banyak peninggalan seperti lemari, kursi santai, sampe galon saking banyaknya barang yang ribet untuk dibawa, tapi sayang untuk dibuang, selama bertahun2 ini saya tidak menambah barang sama sekali sehingga practically, semuanya muat di kardus yang sama dan tinggal dibawa begitu saja.

Extra luggage yang ada hanyalah objek penelitian musim panas kemarin yang sudah tumbuh besar dan punya rumah sendiri (walaupun cuma dari potongan kayu bekas asal paku dan beratapkan kardus). Akhirnya diputuskan untuk membawa Inga saja karena dia yang paling anteng.

trio

Lingkungan di tempat baru cukup “cat friendly”, banyak tanaman buat diendus2, banyak ban motor buat dicakar2. Kardus tempat tidur favorit inga dan mangkok makan juga tidak lupa dibawa,all is well pokoknya……. hingga pada suatu hari, ketika pulang, saya mendapati Inga tiduran di dekat tempat sampah

Me : Inga, ngapain kamu di situ? Inga bukan kucing gembel
Inga : ngaaaa (ga tau apa artinya, i don’t speak cats)
Me : ayo pulang, bobo di kardusmu aja

Ternyata kardusnya diakusisi kucing lain

Me : sapa kamu?
Fat Cat : Hissss…..
Me : pergi2, jangan di situ
Me : Hrrrrr!!!…..

Dia tidak bergeming, mungkin kucing preman lokal penguasa daerah sini. Akhirnya kita yang ngalah masukin Inga ke kamar, bahkan ngambil mangkok makanannya aja pelan2 dalam pengawasan ketat dan desisan si preman.

Beberapa hari kemudian, si preman mulai berani masuk ke kamar yang sedikit terbuka dan dengan pedenya makan minum ransum si Inga sementara Inga sendiri cuma diem ngeliatin (entah takut, atau ga peduli). Tapi pas saya mau keluar, dia langsung lari keluar mendahului, ternyata abis punya anak, pantes keliatan agak kurusan.

IMG_20170802_185023_HHT

Awalnya dia masih protektif banget, tapi lama2 anaknya dipindahin masuk. Dibawanya satu-persatu ke tumpukan kardus di pojok kamar, tapi mereka malah jatoh ke celah antara kardus dan tembok, si preman tampak kebingungan ga bisa meraih anaknya yg jatoh dan cuma bisa muter2 sambil ao-ao. Karena saya baik (aslinya sih terganggu sama berisiknya), saya bantuin geser kardus yang ternyata cukup berat dan mindahin anak2nya ke tempat yang layak di dalam kamar.

Ternyata si preman ini (mulai saat ini disebut Mapan) adalah ibu yang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan si Gembul. Dia nggak sering keluyuran dan menghilang tanpa kabar, serta sabar mengurus kelima anaknya (disebut Panda 5). Feeding time cukup hectic karena walaupun colokannya ada 6, tapi posisinya tidak memungkinkan untuk digunakan semua secara bersamaan. Saling dorong tak terelakkan walaupun sudah dibantuin mengarahkan ke colokan yang tersedia biar semua kebagian, masih aja pindah2.

Mereka tumbuh menjadi para panda yang sadar kamera banget, instingnya maju mendekati kamera. agak susah jadinya karena gerak terus dan kalo udah stabil malah deket banget ama kamera jadi harus dimundurin lagi :p. Inga sendiri cukup akur sama mereka, tapi kalo udah dideketin rame2 biasanya dia panik trus pindah tempat lain, dideketin lagi trus pindah lagi, gitu seterusnya sampe capek sendiri. Mapan juga akhirnya jadi baik sama Inga, dideketin dan dijilat2. Tapi Inga sepertinya nggak suka digituin, kalo udah menghindar masih digituin biasanya Mapan ditabok 😐

Ketika tiba saatnya (udah bisa lari2 dan manjat2, serta mulai berekskresi), kandangnya dipindahin keluar biar bisa potty training seperti triplet dulu (3 aja udah ribet dulu, apalagi 5) namun sekitar seminggu setelah itu tiba2 hadir Panda keenam yang entah darimana datangnya. Awalnya nggak nyadar karena patternnya mirip dan ngumpul ama Panda yang lain.  Setelah diamati baru keliatan ada 1 yang ukurannya lebih besar.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Pulang opname kemarin, heran mendapati lingkungan kamar yang sepi, cuma ada Mapan sendiri. Inga sih udah biasa keluyuran, palingan pergi pijat pus pus seperti biasa

Me : Mapan, mana anak2?
Mapan : awuwu awuwu

Buka pintu kamar dan Mapan langsung masuk, tampak bingung muter2 di dalam macam mencari sesuatu. Dari kelakuannya sih kayanya bukan dipindahin sama induknya, tapi nggak mungkin juga mereka kabur rame2 secara selama ini nggak pernah keluyuran, ada tukang anter galon aja mereka lari sembunyi masuk kotak. Hingga kini masih misteri apa yang terjadi dengan Panda, tinggal Mapan dan Inga 😦

Susah liat orang senang


Salah satu benda yang tidak lepas dari keseharian saya di kantor adalah headset, bahkan saya sudah memasang headset sebelum menyalakan PC.Selain untuk mendengarkan musik, ada beberapa alasan lain kenapa saya selalu mengenakan headset ketika berada di kantor

  1. Filter suara2 yang mengganggu
    Saat ini saya seruangan sama HRD dan area kerjanya cukup berisik dan banyak orang lalu lalang. suara printer, orang ngobrol, sampe yang marah2 di telp itu cukup mengganggu. Dengan alunan playlist di headset lumayan lah bisa melawan kebisingan dengan kebisingan yang positif 🙂
  2. Pura2 ga denger
    Nyebelin banget deh kalo lagi asik kerja (atau “kerja”) trus ada yang manggil, trus pas didatengin ternyta sesuatu yang nggak gaje macam ngegosip, nanya sesuatu yang ga penting, ato minta bantu apa gitu (kalo udah jauh2 nyamperin jadi mau ga mau bantuin ato minimal liat apa masalahnya). Dengan adanya headset bisa pura2 ga denger :p, lagian kalo emang butuh ya situ yang nyamperin dong. tul nggak? 😀
  3. Dapet informasi
    Kebalikan dari yang sebelum2nya, justru dengan headset sebenarnya kita jadi bisa dapat info lho. Karena berasumsi saya nggak denger apa2 (padahal sebenernya denger jelas, wong kadang2 pake headset itu cuma kedok aja kok), orang2 jadi merasa bebas ngobrol di dekat saya, bahkan membahas hal2 yang confidential. sayangnya ini termasuk kasus langka, kebanyakan sih info sampah yang bikin ngerasin volume headset
  4. Kebiasaan
    nggak ada alesan khusus, udah kebiasaan aja tiap pagi duduk depan PC langsung pasang headset dulu sebelum nyalain PC. kadang sampe siang baru nyadar kalo belum nyalain musik sama sekali kalo lagi asik kerja :p

Somehow, beberapa waktu lalu saya dipanggil masuk ke ruangan bos dan ternyata ada yang mempermasalahkan hal ini dan ngadu ke bos

Bos : katanya kamu suka pake headset ya di kantor
Me : memang, saya nggak sembunyi2 kok. kan bapak sendiri bisa liat setiap hari
Bos : saya dapet laporan aja soal itu
Me : kenapa emang? kan nggak ada aturan ga boleh pake headset di kantor?

Sudah pasti ini nggak ada hubungannya sama kerjaan karena saya selalu ngangkat telp dan semua kerjaan selalu beres, ga ada yang outstanding. Jadi kemungkinan besar ini cuma ulah orang sirik aja

Bos : ya memang nggak dilarang sih, cuma nggak semua orang bisa gitu aja
Me : hoo, kenapa emang? bukannya tinggal bawa headset sendiri ya?
Bos : user2 biasa PCnya nggak ada soundcardnya. lagian nggak semua punya akses nyimpen file di folder pribadi
Me : ya saya juga nggak punya mobil, trus kalo saya nggak suka liat bapak bawa mobil ke kantor apa bapak mau ngelarang semua orang bawa kendaraan pribadi?
Bos : beda itu
Me : sama ajalah pak, kalo ada yang nggak suka ya sah2 aja tapi selama nggak melanggar aturan atau mengganggu yang lain sih nggak semua wajib diturutin
Bos : sebenarnya ada lho aturan nggak boleh nyimpen personal file di PC kantor

Nyari2 aja sih ini benernya, padahal banyak juga yang nyimpen foto2 pribadi di PCnya, bahkan wallpapernya aja foto anak/istrinya, tapi saya lagi males berdebat panjang2

Me : jadi kalo nggak pake properti kantor, gpp ya pak?
Bos : ya begitulah kira2
Me : ok deh

Case closed, semua merasa senang. Siangnya (dan besok2nya) saya bawa laptop ke kantor, dengan playlist yang makin besar dan kualitas suara yang makin bagus muhahaha

Moving Forward


I am an ignorant guy who rarely update myself with global news so i am clueless when someone suddenly “curhat” to me about how bad the economic conditions right now, how business can’t grow and how hard to find a job, then move to world political issue and so on. Well, i read the news but mostly i got my info from social media so i’m not sure about how accurate it is, and usually if i’m not really interested about particular issue, i won’t research further (you’ll be surprised if you know how much care i have for this world).So…. yeah…

I’m not a rich person, i can’t afford a house and still lives in dormitory since the price of even a small house is insanely high. heck, i don’t even own a motorcycle (but for this case, its not because i can’t afford it. i’m not that poor). But as an ignorant person i am, rather than counting what i don’t have, i only care about how many things i have. I mean, i have a steady job and can enjoy my meal everyday, don’t have to worry about where to sleep every night and can even raise a groups of kitten. Isn’t it something wonderful so i’m grateful for that.

For all of you that feels that the world we are living right now is unbearable, everything turned its back on you, and you are in your lowest level where live seems meaningless, i can’t say that i know how you feel because clearly i don’t. But honestly, my life not all happy and fun either. I also experienced bad and hard days when i feel i couldn’t do it anymore. I just say to myself to take one more step, even when others said you can’t do anything. Take one more step and don’t give up. I can’t promise that everything will get better, but at least if it will be your last step, you’ll die trying to move forward rather than die regretting why you give up any possibilities that can happens.

Have some courage and believe that you can’t only change your life, but you can change this world. But if you don’t have confidence anymore and afraid to do anything, just remember that a wise man once said

Don’t believe in yourself. Believe in me! Believe in me who believes in you! – Gandhi

Well, Gandhi doesn’t say that actually. Its not even a wise man,just a silly and reckless character so i guess Gandhi will have more impact, isn’t it? :p

enough motivational words, it will ruined my image. Tamama, over and out

Penantian


Karena pengalaman belanja online kemarin yang cukup positif, akhirnya saya tertarik untuk melakukannya lagi, ditambah lagi workload lagi rendah (in reality, cukup tinggi on paper :p) sehingga jadi sering browsing2 olshop biar keliatan sibuk di depan monitor khu khu khu. Hunting laptop yang tidak membuahkan hasil dan berujung drama di Jakarta kemarin dilanjutkan secara online, namun karena sisa budgetnya nggak mencukupi maka pilihannya antara beli bekas atau beli baru tapi speknya rendah. Saya memilih yang pertama karena nggak ada gunanya punya laptop baru yang cuma bisa dipake buat main solitare :3

kali ini nyobain olshop luar agar paypal balance bisa kepake, ternyata harganya lumayan menggiurkan dan tergoda sama laptop dgn spek lumayan yang harganya di bawah sejuta. Seperti biasa, setiap mau belanja pasti galau dan terjadi perang batin

Me : belum ada pengalaman belanja di sini nih
Me2 : kemarin di lazada jg blm pernah, akhirnya oke2 aja kan
Me : tapi ini luar negeri, susah ngurusnya kalo ada apa2
Me2 : emg kmrn di Jakarta gampang ngurusnya? sama aja toh
Me : luar negeri pasti lama nyampenya
Me2 : udah sebulan ga ada PC, apalah artinya nunggu sebulan lagi daripada ditunda2 terus ujung2nya ga beli2
Me : barang bekas ini, kalo kondisinya jelek gimana
Me2 : di bawah sejuta ini
Me : nyari2 lagi dulu aja ya
Me2 : di bawah sejuta ini
Me : ntar kena pajak segala
Me2 : di bawah sejuta ini

In the end, cheap price beats all logic and reasoning. Setelah nanya ini itu ala ibu2 tentang kondisi dagangan dengan penjualnya, akhirnya kamis sore transaksi dilakukan. Jumat siang dikasih tracking code dan mulai galau lagi. “Did I make the right decision?” adalah topik utama hari itu.

Masa2 penantianpun dimulai, bagai pasangan LDR yang rajin ngecek hape apakah ada message baru masuk, tiap hari saya rajin ngecek tracking code sampe dimana posisi barangnya sekarang. Makin galau lagi melihat tulisan “The shipment item has been dropped off after lastest drop-off time ” hari itu. Senin sore akhirnya statusnya berubah jadi “The shipment item is under transportation” dan sebagai distraction, saya browsing2 biar ga mikirin kiriman terus. keyword yang digunakan seputar import tax, bad review mengenai kiriman nyasar, barang rusak dalam pengiriman, hingga beli TV dapetnya batu. Bukan pengaruh positif buat otak tapi cukup sukses buat melewati hari 😐

Seminggu kemudian statusnya berubah jadi “The shipment item has left the country of the sender “. Finally!!! walaupun aslinya mikir “After all this time?!!”, kirain selama ini sudah dalam perjalanan ke Indonesia, bukan dibawa muter2 keliling negeri gitu. Antusias mengetahui barang sudah dalam perjalanan dan mengira palingan seminggu lagi nyampe, frekuensi ngecek tracking code tiap harinya makin intens tapi statusnya tetep aja “The shipment item is under transportation”. 1 bulan berlalu, statusnya masih begitu, cukup sudah pikirku, habis kesabaranku!!! contact sellernya minta dia nanyain kenapa statusnya udah sebulan masih kaya gitu, dah nyampe mana barangnya? kejebak macet di samudra pasifik? tenggelam di bermuda? kapalnya diserang bajak laut? pesawatnya dirudal kim jong un?

Besoknya dapet info kalo barangnya udah nyampe Indonesia jadi trackingnya lewat PT Pos, ternyata bisa dicek statusnya di situs Pos Indonesia. Baru tahu kalo ada situsnya, malah aslinya sudah melupakan keberadaan PT Pos sejak hilangnya kotak2 oranye yang ada di sepanjang jalan dan mengira JNE sudah menggantikan tugas Pos sebagai jasa pengiriman :p. Tercatat barang sudah berada di Jakarta. Sip, berdasarkan pengalaman terakhir sih kalo udah nyampe Jakarta harusnya 3 hari udah nyampe. Salah besar!!! 11 hari kemudian baru statusnya berubah jadi “Arrival at delivery/Transit Office” which is masih di kota lain!!! OMG, apakan ini ngirimnya diangkut sama rombongan burung dara kok bisa selama itu?!! dan seminggu setelah itu baru statusnya berubah lagi jadi “Pemeriksaan / Customs inspection”…… jadi selama seminggu itu barang ngapain kok baru diperiksa sekarang? seandainya kiriman itu berisi bom pasti udah keburu meledak duluan -_-

3 hari kemudian akhirnya statusnya jadi “Attempted to deliver” yang berdasarkan pengalaman pribadi, jaraknya cuma 5 jam perjalanan pake bus.

seminggu berlalu…..

dua minggu berlalu ….

tiga minggu berlalu ….

WTF!! , nggak bener ini. dikirim pake sepeda aja pasti udah nyampe ini!!! dan akhirnya kontak Customer Service buat nanya2 dan setelah dicek katanya masih ditahan bea cukai karena ada dokumen yang belum lengkap. Dokumen apakah itu? NPWP sama bukti pembayaran katanya dan disuruh datang langsung ke kantor pos (kota lain). pertanyaan lanjutan ga bisa via email aja ato diselesaikan di kantor pos lokal sini menghasilkan jawaban yang sama : “silahkan ditanyakan langsung ke kantor pos (kota lain)”

Biar semuanya segera terselesaikan, akhirnya saya memutuskan ambil cuti cuma buat ke kantor pos (di kota lain), sebelumnya tidak lupa cek status barang di situs bea cukai untuk memastikan tidak ada pajak impor atau biaya2 lain yang perlu dibayar. print semua dokumen yang dibutuhkan mulai dari listing penjualan di ebay, bukti bayar paypal, sampai fotokopi NPWP dan KTP, nggak lucu kalo ada sesuatu yang tiba2 diperlukan dan harus jauh2 lagi balik (lucu sih kayanya, tapi nyebelin juga).

Setelah kesana dan menunjukan semua dokumen yang dibawa, ternyata alasan penahanan karena di dokumen excel mereka (bagian custom di kantor pos) tertulis nilai barangnya sebesar 500. Untungnya saya membawa semua bukti yang membuktikan nilai barang tersebut di bawah $100, dan setelah mereka cek di sistem online mereka ternyata nilai barangnya 500 SEK (bukan USD, nggak tau SEK itu kepanjangannya apa). Beneran ga kena pajak apapun dan cukup bayar 20rb buat biaya pembebasan, bahkan NPWP juga nggak diminta. Lumayan gondok juga sih secara ongkos kemari sendiri lebih dari 20rb, tapi yang penting akhirnya sekarang laptopnya sudah diterima dengan baik …… setelah menunggu 2 bulan lamanya