Kebodohan di Pagi Hari


Mungkin karena sudah mulai berumur atau pada dasarnya emang males aja, saya nggak suka menggunakan tangga. Naik 1 lantai lewat tangga aja udah merasa capek, turun masih nggak masalah sih tapi tetep males juga. Mungkin jika ada kebakaran dan lift tidak bisa digunakan, saya bakalan lompat dan meluncur dengan ombak manusia kaya di konser2 metal gitu. Bikin tiang seluncur macam di markas pemadam kebakaran juga kayanya asik (jadi ngelantur). Intinya saya biasanya lebih suka pake lift di kantor biarpun cuma selantai.

Pagi ini, seperti biasa saya memasuki lift dengan segelas kopi di tangan, mencet tombol kemudian bersandar sambil merem. Aslinya saya nggak begitu suka lift juga dan biasa mendistraksi diri dengan memejamkan mata atau fokus ngeliatin yang lain (entah tombol lift atau bacaan apapun yang ada di lift) untuk meredam perasaan aneh di perut waktu lift sedang bergerak. Masih pagi juga jadi saya butuh sering2 berada di “mode stand by” buat ngumpulin nyawa sampe melek 100%, itulah alasan saya bikin kopi. cuma buat dihirup aromanya aja karena saya juga bukan seorang penikmat kopi (ngelantur lagi)

Back to the story, saya bersandar dan menunggu lift mengantarku ke lantai tujuan. Anehnya kali ini saya tidak merasakan sensasi aneh itu, whateverlah justru bagus kalo gitu (masih pagi biasanya males mikir, mau ada gempa juga whatever pasti). Tapi setelah menunggu cukup lama kok nggak ada suara “ding” pintu lift kebuka ya?……

Baca lebih lanjut

Iklan

Family Gathering 2016


Beberapa waktu yang lalu, tempat saya bekerja mengadakan Family Gathering yang merupakan acara kumpul2 bersama antar karyawan dan keluarganya dalam rangka ngabisin anggaran. Karena acara ini harus ada dokumentasinya, maka terima mentahan dengan sistem bagi rata budget tidak bisa dilakukan dan di kota sekecil ini nggak ada tempat makan yang bisa menampung jumlah peserta dan keluarganya (lagian klo cuma ngumpul makan bareng trus pulang kayanya boring banget), maka acara ini dilakukan di…. errr… sebuah konservasi yang isinya meliputi kebun buah, peternakan lebah, kolam ikan, dan tempat pembibitan (entah apa tempat ini sebutannya). Agar tidak terganggu dan mengganggu pengunjung lain, kita booking tempat ini 1/2 hari dari jauh2 hari.

kolam ikan

Sebelumnya sudah diinfokan oleh pihak pengelola untuk tidak memetik buah sembarangan dari pohonnya dan jika mau di bagian depan ada tempat penjualan hasil kebun dan ternak. Tentu saja informasi ini diteruskan ke semua peserta mengingat akan ada banyak anak kecil yang ditakutkan bakal keluyuran dan metik2 sembarangan. Namun pada kenyataannya, di hari H para bocah ini malah pada nempel terus ke orang tuanya dan yang udah agak gedean sibuk sendiri sama gadget sementara para Ibu-ibu langsung kalap teriak “Wah rambutannya gede-gede!!!” dan langsung semburat dengan beringas!!!. Melihat hal ini, panitia langsung teriak2 ngingetin “bu, jangan bu!!!” macam warga pemukiman liar yang kena gusur satpol, bahkan sampe minta bapak2nya ngingetin berhubung kalah jumlah hingga akhirnya menempuh cara terakhir yaitu pake TOA macam demonstran orasi. Ya untungnya nggak ada pengunjung lain atau penjaga sama sekali (mungkin karena lagi dibooking jadi para petugasnya pada pulang cepet kali ya, bahkan tukang parkirpun ga ada) jadi ga terlalu malu2in lah (nggak yakin juga para ibu2 itu bakal malu kalo ada penjaganya, mungkin penjaganya dicakar kalo berani2 ngalangin hehe).Tersadarkan oleh teriakan TOA, para ibu langsung kembali ke barisan (sambil bawa setumpuk buah2an yang cukup buat makan seluruh rombongan -_-)

Biar tampak ada partisipasi dari semua anggota keluarga dalam kegiatan ini, diadakan lomba2 untuk anak2 yang acara dan konsepnya dilakukan sama ibu2nya sementara panitia cuma menyediakan hadiah2 lomba aja (biar ada partisipasi ibu2 juga, bukan karena panitianya males mikir konsep sama ngurusin acara lho ya du du du). Secara usia anak2 yang begitu beragam dan perbedaan fisik yang tampak mencolok, lomba2nya keliatan nggak balance banget. Ada bocah 3 taunan yang ngedudukin balon malah membal sementara balonnya masih utuh, atau yang jalan bawa kelereng dengan santai dan hati2 hingga ketika peserta lain sudah 2x start finish dianya belum 1/2 jalan … but who cares, ujung2nya semua dapet hadiah kok :D. Ibu pengurus lomba menginterogasi para pemenang mulai dari nama, umur, sekolah dimana , sampai siapa nama bapaknya sebelum ngasih hadiah melahirkan momen khusus

Ibu2 : kamu anaknya siapa?
Bocah : anaknya ayah
Ibu2 : Iya, nama ayahmu siapa?
Bocah : …… Ayah
Ibu : *evil laugh* nama bapakmu Ayah?
Bocah : *manggut2*
Ibu2 : penasaran saya, coba bapaknya maju sini, saya pengen tahu yang mana orangnya
Audience : *diem tolah-toleh, ga ada yang berdiri*
Ibu2 : coba nak, tunjuk ayahnya yang mana
Bocah : *scanning penonton beberapa saat, tapi ga menemukan target yang dicari*
Ibu2 : (entah bosen atau kasihan) dah balik sana ke ayahnya *ngasih hadiah*, Ayahnya nanti di rumah kasih tau ke anaknya ya siapa namanya

Saya agak khawatis si ayah menelantarkan anaknya disana karena si bocah nggak balik ke pangkuan ortunya, tapi lari ke pojokan, sendirian sambil memeluk hadiahnya. Entah beneran ga liat bapaknya diantara kerumunan orang ini atau udah dapet dead stare dari kejauhan dan isyarat “Jangan kemari, pura2 ga kenal!!!” dari bapaknya LOL. Para remajanya tampak malas mengikuti lomba, entah gara2 takut dipermalukan setelah melihat apa yang terjadi di lomba anak atau emang ga minat aja. Tapi bukan ibu2 namanya kalau tidak bisa “membujuk” anak2nya mengikuti acara yang mereka adakan

Acara makan siang bersama sempat terganggu oleh kehadiran kucing raksasa yang berkeliling mengemis sedekah membuat sebagian besar bocah panik. Bahkan saya sendiri sempat kaget melihat ukuran kucing2 disini yang ukurannya 2x lebih besar dari kucing kompleks, entah itu akibat sering makan buah2 di perkebunan ini atau kucing2 itu sendiri merupakan hasil rekayasa genetik yang dibuat di tempat ini untuk dilatih sebagai penjaga perkebunan yang murah meriah dengan gaji seekor tongkol mutan yang ga kalah besarnya tiap bulan
lunch

Di penghujung acara, ada pembagian lucky draw yang sekali lagi diserbu oleh Ibu-ibu yang antusias ngambil nomor undian seolah takut kehabisan padahal nomor yang disiapkan jumlahnya sudah sesuai sama jumlah peserta yang hadir (In fact, malah mereka sendiri yang bikin nomor undian dan menggulungnya ke potongan sedotan), jadi entah kenapa juga pake rebutan segala ngambilnya, sudah sifat dasar ibu-ibu kayanya :p. Dan tebak siapa yang mendapatkan hadiah utamanya!!! its Me muhahaha
lucky-draw

Saya yang seumur hidup belum pernah menang undian apapun, bahkan kentongan kodok di undian staff party aja ga dapet dan mentok di hadiah hiburan krim cuci piring dari supermarket ini secara tak terduga mendapatkan doorprize kompor gas sontak membuat saya diserbu sama ibu2 saat itu.

Nggak masak kan di rumah? dah buat Ibu aja ya deh kompornya

Tuker sama hadiah punya Ibu mau ya *nawarin jam dindingnya*

Berat ya? sini Ibu aja yang bawain (sok baik)

Kasih ke saya aja, ntar Ibu masakain sebulan

Membuat saya kewalahan dan ketakutan walaupun emang bener sih kalo hadiahnya ga bakal kepake juga secara jarang masak dan kayanya mubazir beli tabung LPG untuk kegiatan yang selama ini bisa dilakukan dengan magic jar. Tapi karena berurusan sama mereka itu sepertinya sama berbahayanya dengan mafia, saya ngasih jawaban diplomatis “besok dibahas di kantor aja ya” biar urusannya sama bapak2nya yang lebih jinak :p

cursed hand


Setelah sekian lama, akhirnya saya disummon balik untuk berkumpul kembali bersama rekan2 kerja yang sebenarnya yang membuat pola hidup saya kembali berubah. Lokasi kantor yang lebih jauh membuat saya tidak bisa menyelesaikan kartun pagi lagi biar nggak ketinggalan bis :(. Awal2 sempat nyaris salah naik bis pula, dan ketika terbangun dari tidur singkat di bis sempat panik karena nggak tau udah nyampe mana >_<

Lingkungan kerja juga berubah drastis, kini headset selalu terpasang dengan volume yang lebih tinggi dari biasanya untuk menahan gelombang keberisikan di sekitar. mulai dari mbak2 operator yang nyambun(asli awagin panggilan, ibu2 accounting yg sibuk ngurusin invoice, anak KP yg berisik, hingga obrolan katalog. entah kenapa sepertinya hanya saya yang merasa ruangan ini berisik dan menggunakan headset sehingga dapet nickname baru : Pilot (asli awalnya sama sekali ga ngerti darimana nama panggilan ini berasal)

Namun perubahan yang paling berasa adalah scanner di pintu. Dari yang biasanya semua ruangan dalam keadaan terbuka dan  mau kemana2 tinggal jalan aja sekarang buat keluar masuk harus scan badge dulu buat buka pintunya, bikin repot aja deh >_<

Pada suatu pagi, dalam keadaan setengah ngantuk, saya melangkah malas menuju pantry dengan mug di tangan. mendorong pintu kayu yang ada di hadapan mata tapi pintunya nggak gerak sama sekali. buka mata (yeah, saya punya superpower bisa jalan sambil setengah merem, bahkan bisa jalan di keramaian sambil texting tanpa nabrak sama sekali) dan menyadari sekarang sudah di tempat baru yang state default pintunya selalu kekunci. Dengan gontai scan badge sambil grumble2 (apa ini bahasa indonesianya ya :p) dan sekali lagi mendorong pintu sambil setengah merem.

Tapi kali ini saya tidak merasakan pintu yang keras tapi sesuatu yang sama sekali berbeda. yang tidak saya sadari waktu itu, dari sisi yang lain pada saat yang sama, ada ibu2 yang membuka pintu itu. kalian pasti sudah bisa menebak what the hell i’m doing, membuka mata untuk memastikan apa yang saya dorong dan seketika dunia terasa berhenti berputar. semua suara seolah menghilang.

Di tengah global silence dan aliran waktu yang terasa lama itu saya menunggu suara “kyaaaa!!!” atau “plak!!!!” atau apalah…. tapi nothing happen, hanya ekspresi kaget lalu si ibu lewat sambil senyum2 seolah tidak ada apa2, ternyata yang terjadi di dunia nyata itu nggak seperti di film2. hari itu berlangsung normal, nggak ada panggilan sexual harassment. case closed, bubar bubar nggak ada cerita!!!!

Sabtu Ceria


Hari Sabtu kemarin, rintik hujan turun dari pagi hari membuat saya semakin malas keluar kamar dan memilih menghabiskan stok mi instan yang ada. Mengisi waktu dengan kegiatan khusus di depan layar komputer tiap 3 jam sekali hingga siang, ketika gerimis sudah mulai bosan membasahi rumput di kebun belakang, dan perut ini tampak tidak puas dengan mi instan. Saya memutuskan untuk keluar cari makan.

Sabtu yang sepi itu masih tampak normal, hingga saya akhirnya tiba di jalan utama, dan melihat ……. rombongan bapak2 yang mau pergi Jumatan!!!!

Segera saja saya menatap layar HP dan melihat tulisan Fri, Feb 27 terpampang disana. Ternyata hari itu bukan hari Sabtu sodara2

Sedia karet sebelum ……


Sedia payung sebelum hujan adalah sebuah istilah yang umum, apalagi sekarang ini musim hujan. mungkin untuk daerah2 tertentu macam jakarta yang hujan bentar aja banjir perlu dibuat istilah “Sedia perahu karet sebelum banjir” juga. Sayangnya hujan akhir2 ini sepertinya udah nggak single lagi statusnya, tiap doi muncul selalu ditemani sama angin kencang yang membuat payung jadi kurang bermanfaat, bantuan terpaan angin tetep bikin basah walaupun sudah pake payung :(. Belum lagi kadang payung juga jadi korban kalo si angin lagi ganas2nya, rangka payungnya bisa sampe patah lho saking ganasnya >_<

Eh kok jadi ngomongin hujan, topik utama kali ini adalah karet. Masih belum jadi best practice untuk selalu menyediakan karet di dompet bagi kebanyakan orang, termasuk saya. Tapi sebuah kejadian tak terduga yang terjadi beberapa waktu yang lalu mengubah pandangan saya tentang karet yang untungnya cukup mudah ditemukan waktu itu jadi perasaan was2 tersebut tidak berlangsung lama dan saya bisa melangkah maju tanpa rasa khawatir.

Eh jadi ngelantur lagi,oke langsung ke
main story

[JJS] Vending Machine


Vending Machine bandara

Vending machine, sebuah mesin penjual minuman yang sekarang sudah makin banyak terlihat di Indonesia, khususnya di tempat2 seperti bandara, stasiun, dan sejenisnya. Namun tampaknya masih jarang masyarakat yang menggunakan benda yang satu ini, entah karena masih asing, penggunaan yang cukup repot karena uang kertas yang digunakan harus bagus sementara kebanyakan uang yang beredar di Indonesia pada lecek, atau karena harganya yg mahal (air mineral seharga 2500 di minimart bisa jadi goceng di mesin ini).

Gambar di atas merupakan salah satu vending machine yang ada di salah satu bandara di Indonesia (hayooo tebak bandara mana itu), dari penampakannya sih sepertinya masih cukup gres (dibandingkan vending machine di Soetta yg kucel hehe) tapi tampak sepi peminat karena para pengguna jasa bandara lebih memilih jajan di toko2 sekitar yang harganya juga nggak kalah mahalnya. Sebisa mungkin bawa makanan/minuman sendiri deh kalo ke bandara buat jaga2 semisal ada delay, atau jika terpaksa harus beli makanan di Bandara saya lebih menyarankan rotiboy yang harganya tidak jauh berbeda dengan harga di luar bandara daripada sakit hati beli semangkok soto seharga 30 ribu dengan porsi kecil dan kualitas yang masih kalah dengan soto gerobak pinggir jalan :p.

Nah, saat tour de Java kemarin. karena penggunaan GPS dan browser secara intensif, batere hape terkuras drastis sehingga saya terpaksa numpang ngecas di salah satu stasiun kereta. Awalnya sih biasa aja duduk manis browsing spot wisata sambil ngecas tapi lama2 kok merasa ada yg ngeliatin. Mulai memperhatikan sekitar dan melihat ada ibu2 yang ngeliatin sekilas trus ngeliat arah lain, dan ini terjadi beberapa kali. Dikira artis apa ya *geer mode on*. Nggak lama kemudian si ibu mulai jalan mondar mandir sambil tetep ngeliatin sesekali. Tapi setelah selesai ngecas dan pindah lokasi kok si ibu masih ngeliatin ke arah situ padahal kosong ga ada sapa2 (apa si ibu ngeliat ada penampakan ya di situ? hiiiy) trus malah mendekat dan pada akhirnya terbengong2 ngeliatin vending machine, mau mencet nggak jadi, maju dikit mundur lagi, dan akhirnya diliatin doang

si ibu

Karena gemes ngeliatinnya, akhirnya saya berinisiatif untuk beli 1 minuman dalam rangka ngasih contoh cara penggunaan vending machine ke ibu2 yang tampak (ragu/takut/krisis PD/malu tapi mau) ini. Dan benar saja, setelah melihat live demo tersebut si ibu mengeluarkan uang dari dompetnya, maju dengan penuh percaya diri, dan ………… menyerahkan uang itu ke saya sambil berkata “mas, saya mau beli yang ini, tolong pencetin dong” sambil nunjuk ke salah satu minuman!!!!!. Dan parahnya, setelah membantu ibu2 ini mendapatkan minumannya, 2 orang yang entah sejak kapan sudah ngantri di belakangnya ikutan nitip minta dibeliin >_<

Untungnya pasien berikutnya tampak cukup mandiri dan punya rasa ingin tahu yang tinggi untuk mencoba sendiri, namun setelah uangnya dimuntahkan kembali oleh si vending machine untuk yang kesekian kalinya, akhirnya sambil malu2 doi mendekati saya sambil menyodorkan surat cinta selembar uang sepuluh ribuan dengan banyak bekas lipatan -__-. Sore itu akhirnya saya berprofesi sebagai petugas vending machine. Ada yang punya pengalaman serupa?

I am not a Time Traveller


Alih profesi dari programmer ke IT support membawa banyak perubahan dalam keseharian saya, dari yang dulunya selalu berkutat dengan program yang behaviournya predictable dengan anomali2 yang klenik, kini sekarang saya lebih banyak berurusan dengan yang namanya manusia. Behaviournya lebih beragam dan unpredictable, ada tipe minion yang cuma ngikut apa kata Bos tanpa mikir instruksinya bener apa nggak, ada tipe dateng langsung sambil bawa sesajen biar requestnya cepet dihandle, dan ada juga tipe asal request salah sasaran (contohnya lapor mobilnya rusak ga mau dinyalain, dikira ini bengkel apa 😡 ).

Request paling populer belakangan ini adalah reset password, bisa dimaklumi dengan adanya policy ganti password tiap bulan dan memori manusia yang terbatas dan nggak bisa diupgrade semudah ganti memori komputer, dan saya sendiri juga sering bermasalah sama password :D.

Hari ini muncul lagi user unik nan lugu, berikut ini percakapan dengan Mr I (bukan nama sebenarnya, disamarkan demi kebaikan bersama)

Mr I : pagi pak, ini account saya terlock
Me : usernamenya apa ya?
Mr I : saya Mr I
Me : *males nanya2, nyari sendiri usernamenya berdasarkan nama orangnya* Ini mau diunlock saja atau direset passwordnya?
Mr I : ………. (hening, kayanya lagi loading, maklum hari Senin)
Me : halo pak, ini mau direset atau unlock?
Mr I : maksudnya gimana ya?
Me : kalo unlock brarti passwordnya nggak berubah, kalo reset brarti generate password baru dan nanti dikirim ke email bapak
Mr I : ooo unlock aja, saya baru ganti passwordnya kemarin, nggak perlu diganti lagi
Me : oke sudah diunlock, silahkan dicoba lagi
Mr I : oke, passwordnya apa ya pak?
Me : ???!!! ya password terakhir yang bapak gunakan kemarin, saya nggak bisa lihat password bapak
Mr I : saya nggak tau passwordnya apa, kemarin saya ingat tapi hari ini saya sudah lupa
Me : jadi mau direset?
Mr I : jangaaaan, tetep aja passwordnya yang saya ganti kemarin itu.
Me : coba bapak ingat2 lagi, coba pake hint atau security question di bagian forget password gitu
Mr I : nah itu saya juga lupa, padahal kemarin masih ingat lho
Me : lha lalu bapak mau saya gimana? reset aja lah ya? *menahan diri biar nggak ngomel2*
Mr I : ya gimana caranya biar saya ingat yang kemarin itu, tolong dibantu lah pak
Me : jadi bapak mau saya balik ke hari kemarin trus nanya bapak ganti jadi apa passwordnya??!!!
Mr I : iya gitu juga boleh, tolong ya pak, makasih. (SFX : click) *nutup telp*
Me :  $%**(&!#(%&^?!! *pretend this never happened*